
Mansion utama Justin
Raisa terlihat melihat beberapa berkas yang dibawa oleh seorang gadis dihadapannya.
Usia nya mungkin sekitar 23 tahunan, dia belum pernah melihat gadis itu sebelumnya, Justin bilang dia baru mempekerjakan nya.
"Pegawai baru?"
Tanya Raisa sambil mengerutkan keningnya.
"Baru masuk Kemarin"
Laki-laki itu menjawab dengan begitu enteng.
"Siapa yang merekomendasikan?"
Raisa masih bertanya penasaran.
"Siapa lagi yang bisa kamu tebak"
"Bibi?"
Raisa menebak Mama laki-laki tersebut.
"Seperti yang kamu bisa lihat"
Raisa terlihat diam,dia tidak melanjutkan kata-katanya.
Jika mama Justin yang merekomendasikan Raisa jelas harus bilang apa?!.
Belakangan bibi Van Efron sedikit over pada Justin, mungkin ketakutan nya Justin mulai keluar dari jalur akal warasnya setelah kematian kekasihnya di masa kemarin.
Justin berada di titik paling rendah didalam hidup nya.
Kematian seseorang yang di cintai jelas akan menimbulkan luka serta kenangan yang paling dalam.
Dia dan Amora telah melewati banyak hal bersama baik suka maupun duka.
tapi satu kesalahpahaman dan pertengkaran semalam mengubah semuanya, Justin fikir jika dia bisa mengubah waktu atau bahkan berkata ribuan maaf kepada Amora maka dia akan mengatakannya dan melakukannya. Tapi dia sama sekali tidak bisa melakukannya lagi gadis itu telah pergi jauh meninggalkan dirinya.
"Semudah itu percaya pada orang baru?"
Dia cukup keberatan mempercayai sekretaris baru Justin yang belum genap 2x24 jam bekerja dengan laki-laki tersebut.
membiarkan gadis muda itu membawa berkas kasus kematian Amora jelas membuat dia takut jika-jika gadis itu berniat buruk.
"Bukan masalah, aku sudah memeriksa seluruh riwayat kehidupan nya"
Mendengar jawaban Justin cukup membuat Raisa lega.
"jadi apa yang kamu temukan kali ini?"
tanya Raisa kepada Justin sambil menatap berkas yang ada di atas meja saat ini.
"Beberapa barang bukti baru ditemukan malam itu"
Justin memulai Ucapan, mengeluarkan sesuatu dari dalam plastik dan memberikan nya pada Raisa.
"Mereka menemukan rekaman asli nya, tapi hanya ½ nya saja, ½ nya lagi aku fikir pasti di simpan oleh seseorang"
setelah berkata begitu Justin menatap Raisa yang mengambil satu flash disk yang diberikan oleh Justin tadi.
"sengaja dipisahkan?"
Tanya Raisa kemudian.
"Aku pikir tidak, tapi seseorang melakukan penyelidikan secara diam-diam sebelum kita jauh hari sebelum ini"
Ucap Justin cepat.
Raisa mengerutkan keningnya.
Tanya nya pelan.
"Coba menebak nya"
Mendengar ucapan Justin, Raisa terlihat tidak memiliki Jawaban nya sama sekali, dia bukan type gadis yang bisa menebak jalan Fikiran seseorang atau mudah mencurigai orang lain.
Justin tiba-tiba menggeser sebuah patung pajangan kecil di hadapannya.
"Anggap saja ini MR. X "
Ucap Justin tiba-tiba.
Bola mata Raisa menatap gerakan tangan Justin.
"Sebelum MR. X Bergerak aku mencoba menyimpulkan jika Papa Lira mencoba untuk diam-diam bergerak karena MR. X mencoba mengingatkan dirinya soal kesalahan dalam malam pembunuhan ini"
Raisa terlihat diam, mendengar kan ucapan Justin dengan seksama.
"MR. X tahu Lira di jebak oleh seseorang dan meminta Papa Lira Bergerak menyelidiki nya secara diam-diam"
"Tapi sial nya, saat dia mulai tahu soal kenyataan, Papa Lira terjebak malam itu hingga membuat dia masuk kedalam jebakan, terjatuh hingga membuat tuan Santoso mengalami kecelakaan parah"
Raisa masih diam, mencoba memahami ucapan laki-laki dihadapan nya itu.
"Tapi sebelum Papa lira terjebak dalam penyelidikan nya sendiri, dia menghubungi MR. X dan berkata dia menyembunyikan bukti nya di satu tempat"
Bola mata Raisa menatap Justin sambil dia mengerutkan keningnya.
"MR. X bergerak dengan cepat untuk mengambil bukti tersebut, tapi dia tidak bisa bergerak lebih jauh karena ada seseorang yang harus dia lindungi hingga sejauh ini, mungkin tepat nya dia mencoba melindungi keberadaan tuan Santoso dan seseorang yang memang ingin dia lindungi"
Lanjut Justin lagi.
"Lalu siapa?"
"Aku awalnya sedikit ragu, tapi semakin sering aku menemui nya semakin aku yakin jika kalung yang digunakan nya menyimpan ½ dari bukti rekaman tersebut"
"Siapa ? jangan membuat aku menerka-nerka yang tidak bisa aku terka"
Raisa bertanya dengan jutaan rasa penasaran nya.
"kau tidak akan percaya ini"
Kali ini Justin seolah-olah mengalihkan pembicaraan sambil mengetuk-ngetuk jari nya ke atas meja.
"Begitu Aldi berkata Malam itu aku tidak ada di sana saat polisi menangkap nya karena kecurigaan mengarah ke pada nya, Saat itu aku berfikir seseorang pasti memanipulasi cctv-nya"
Ucap Justin lagi.
Mendengar ucapan Justin, Seketika Raisa membeku.
"Ya?"
"Aldi tidak pernah berbohong soal alibi nya, jadi bisakah kamu belajar menyimpulkan maksud dari ucapan ku?"
Tanya Justin tiba-tiba.
Raisa terlihat menggigit bibir bawahnya.
"MR. X adalah Dia, Aldi bergerak lebih dulu dari kita untuk mencari pembunuh saudara mu di belakang semua orang"
"Apa?"
Seketika Raisa mencoba menahan tubuhnya yang hampir jatuh saat mendengar ucapan Justin yang tiba-tiba.
"Kau bilang apa?"
Dia mencoba untuk memperbaiki pendengaran nya.
"Dia sudah bergerak lebih jauh dari kita demi menemukan banyak bukti untuk menyeret pelakunya yang sebenarnya"