
Mansion ke dua
keluarga Santoso
Meri seperti biasa melangkah masuk kedalam Mansion tersebut, wanita itu membiarkan satu pelayan melepaskan jaket milik nya dan meletakkannya di sebuah gantungan besi yang terletak di dinding sisi kiri manisan tersebut.
Wanita itu berjalan secara perlahan menuju kearah tangga kemudian menghargai tanggal tersebut satu persatu.
Tujuannya sejak dulu tidak pernah berubah kecuali ke kamar suaminya tuan Santoso.
Begitu melihat sosok Meri mendekati kamar tersebut, Dua penjaga di sisi kiri dan kanan pintu langsung menundukkan kepala mereka sejenak lalu salah satu dari mereka kemudian membuka pintu kamar tersebut.
ketika pintu dibuka meri berjalan masuk ke dalam kamar itu, dimana terlihat satu sosok tubuh tergeletak tidak berdaya di atas kasur mendominasi berwarna putih tersebut.
Wanita itu mengembangkan senyuman liciknya kemudian langsung duduk di atas kursi yang ada disamping kanan kasur dimana sang suami nya berbaring tidak berdaya.
Suara layar monitor disamping laki-laki tersebut terus terdengar berjalan normal seperti biasanya, garis yang bergerak di layar tersebut terus menampilkan gerakan yang teratur.
Meri menatap wajah suami nya untuk beberapa waktu,. kemudian wanita itu melipat ke dua tangan nya ke dada nya.
"Aku ingin tahu"
Tiba-tiba Meri bicara memecah keadaan.
"Dimana kamu meletakkan kunci akses brankas terakhir milik mu yang berada di Dubai Multi Commodities Center (Brankas bank Dubai, orang-orang kaya sering menyimpan harta, emas, uang tunai mereka di bank dunia seperti bank Swiss dan bank Dubai)? aku dan Mayang hanya butuh hal terakhir itu, setelah itu kamu bisa mati dengan tenang, sayang"
wanita itu bicara sambil terus menatap wajah Santoso.
Meri pikir bagaimana bisa di masa lalu dia bisa tidak menyadari dimana bandul harta berharga simpanan suaminya.
Begitu kekacauan terjadi dimana Lira hampir mengadukan perbuatan keji mereka pada Santoso hingga membuat laki-laki itu ambruk dan berada di rumah sakit untuk beberapa waktu, dia semakin kesulitan mendapatkan kunci Brankas tersebut.
Laki-laki itu begitu pandai menyimpan Milik nya.
Harta berharga itu jelas dia ketahui dari sang pengacara dari laki-laki tersebut, dan kunci brankas nya sayangnya sang pengacara tidak mengetahui nya sama sekali.
Dia mencari tahu kunci itu untuk waktu yang begitu lama, hingga berakhir pada kematian seseorang dimasa lalu dan menyeret Lira sebagai pembunuh nya.
Setelah itu dalam beberapa bulan kemudian, perseteruan panjang terjadi Antara dia dan sang suami nya, dia jelas tidak akan membiarkan Santoso mengeluarkan Lira dari dalam penjara, bagi nya gadis itu akan menjadi penghalang Mayang dalam banyak hal
Juga akan menghambat rencana nya untuk mendapatkan apapun Milik Santoso, tapi Sebuah kejadian tragis membuat Santoso mengalami serangan jantung tiba-tiba.
Dia terpaksa menyeret laki-laki itu untuk bisa menguasai Santoso group.
Baginya jika bukan karena kunci brankas berharga tersebut, dia mana mungkin mau mengurus manusia tidak berguna yang hanya bisa berbaring di atas kasurnya saja.
"Dia masih belum sadar juga?"
Tiba-tiba satu suara laki-laki terdengar memecah keadaan, Meri terlihat tidak menoleh sama Sekali.
Sosok Laki-laki itu berjalan menapaki sepatunya kelantai kamar tersebut, derap suara sepatu nya terdengar memecah keheningan, sepersekian detik kemudian dia mendekati Meri kemudian menyentuh lembut bahu wanita tersebut.
"Jangan terlalu memaksakan diri"
Laki-laki itu bicara sambil meremas pelan kedua bahu Meri.
Wanita itu menoleh sambil mengembangkan senyuman nya.
"Kesabaran kita sudah cukup banyak untuk menunggu laki-laki tua ini membuka matanya"
Ucap Meri dengan perasaan kesal.
Laki-laki itu terlihat mengembangkan senyuman nya, kemudian laki-laki itu menjongkok kan tubuhnya, lalu dia mencium hangat bibir Wanita itu untuk beberapa waktu.
"Kita akan menunggu dalam beberapa waktu, jika dia masih belum juga bangun, maka kita akan melenyapkan nya dengan atau tanpa kunci brankas Dubai Multi Commodities Center"
Ucap laki-laki itu kemudian.
"Tapi kita akan kehilangan semuanya?"
Meri Tampak protes.
"Tidak, aku sedang mencoba meminta seseorang untuk mencuri akses nya secara ilegal, jika berhasil jika bisa melenyapkan Santoso kapan pun sesuai dengan yang kita mau"
Tambah laki-laki sambil mengembangkan senyuman nya.
Meri jelas membulat kan bola mata nya, menatap tidak percaya pada ucapan laki-laki dihadapan nya itu.
Dia jelas melebarkan senyuman nya, berdiri dengan cepat kemudian memeluk erat tubuh laki-laki itu.
Kemudian mereka langsung melangkah pergi meninggalkan Santoso seorang Diri.
Begitu kedua orang itu melangkah pergi meninggalkan kamar tersebut, lagi...satu gerakan jari terjadi pada Santoso.