
Raisa pada akhirnya hanya bisa mematung di antara hujan salju yang semakin deras turun ke bumi.
Dia sejenak diam tanpa banyak bicara, mencoba mendongakkan kepalanya untuk beberapa waktu.
Entahlah mungkin dia yang tidak bisa memahami perasaan Aldi, atau memang Aldi yang tidak memahami perasaan dia.
Baginya dia terlalu sakit menerima kenyataan soal kejadian malam itu, otak nya buntu soal segala sesuatu.
Yang dia dengar suara ******* menjijikkan dan pergejolakan penuh naf..su didalam kamar itu.
Dia tidak memikirkan soal apapun lagi, kemarahan, kekecewaan dan kebencian menghantam nya jadi satu kala itu.
Yang dia tahu itu adalah Aldi dan perempuan yang tidak dia ketahui siapa.
Raisa rasa gadis manapun akan melakukan respon yang sama seperti dirinya saat tahu orang yang mereka cintai tidur dengan perempuan lain.
Karena itu dia langsung menerima tawaran perjodohan yang di berikan keluarga Van Efron untuk dirinya dan Jefrey tanpa berfikir dua tiga kali.
Tapi Jefrey jelas menolak nya mentah-mentah, sebab laki-laki itu mencintai gadis lain yang tidak diketahui oleh semua orang.
Dan rupanya lamaran Jefrey datang terlambat dimana Aldi tahu-tahu menikah dengan gadis pilihan Jefrey.
Semua menjadi semakin kacau saat kebenaran terbuka soal pernikahan Aldi dan kematian Amora.
Meskipun pada akhirnya dia percaya Aldi tidak tidur dengan Isabella yang masih berwujud Lira.
Meskipun pada akhirnya dia tahu malam itu yang tidur bersama dikamar Aldi bukan Isabella.
Dia pun pada akhirnya tahu jika isabella tidak terlibat dalam pembunuhan Amora.
Tapi hati nya masih belum percaya jika bukan Aldi yang ada dikamar kala itu.
Dia masih tidak percaya soal itu.
"Kau akan bertahan dengan pemikiran mu hingga kapan?"
Tiba-tiba suara seseorang mengejutkan dirinya.
Raisa sama sekali tidak menoleh ke asal suara tersebut, karena dia tahu siapa yang berdiri dibelakang nya saat ini.
"Aku hanya masih berfikir jika malam itu memang dia yang ada disana"
Jawab Raisa pelan.
Ucap sosok itu pelan.
"Aku takut semua tidak sesuai ekspektasi ku"
Jawab Raisa pelan.
"Tidak, kamu hanya takut menerima sebuah kenyataan soal Aldi, kamu takut jika akan lebih Kecewa lagi dengan apa yang kamu lihat"
"Kamu pikir cukup sampai disini, membenci nya sebatas mana yang kamu ketahui soal dia kemarin"
"Kamu tidak mau tahu siapa perempuan yang ada didalam kamar nya, takut melihat satu kenyataan baru, berfikir stop adalah cara terbaik untuk menahan perasaan kamu"
"Kamu menyakinkan diri jika kamu membenci dia karena peristiwa lama, menatap nya dengan pandangan penuh kebencian, padahal realita nya kamu masih sangat mencintai dirinya"
Setelah berkata begitu, sosok itu secara perlahan berjalan dan berdiri dihadapan nya.
"Kau menutupi kenyataan jika kamu masih mencintai nya dengan berbohong jika kamu membencinya"
Lanjut sosok itu lagi.
Kedua bahu Raisa terlihat bergetar, bola matanya secara perlahan memerah.
"Bukankah aku juga sudah mengatakan nya sejak awal jika bukan Aldi yang ada didalam kamar tersebut"
"Jadi berhentilah membohongi perasaan mu sendiri, buka matamu lebar-lebar"
"Dan apa kau tahu soal sesuatu? akan aku beritahukan soal satu rahasia besar siapa gadis yang ada di kamar hari itu"
Ucap sosok itu lagi kemudian.
Raisa terlihat berusaha menghapus air mata nya yang perlahan tumpah.
"Kau bilang apa?"
Raisa mengerutkan keningnya untuk beberapa waktu.