Istri Tak Ternilai Tuan Jefrey

Istri Tak Ternilai Tuan Jefrey
Wajah yang dia rindukan


"Duduklah"


Raisa bicara pada gadis muda dihadapan nya itu untuk beberapa waktu.


Justin ikut menatap gadis itu untuk beberapa waktu, dia berjalan perlahan mendekati gadis yang dilihat nya memiliki wajah seperti Amora Tersebut.


Laki-laki itu berjalan sambil mencoba memastikan tatapan nya dengan seksama, takut jika-jika yang dilihat nya itu salah.


Wajah yang begitu mirip tanpa sedikitpun perbedaan signifikan yang terlihat, tapi ketika gadis itu tersenyum dan melihat cara bicara nya baru bisa Justin lihat perbedaan di antara Amora dan gadis yang ada di hadapannya itu.


tapi tetap saja tiba-tiba kerinduan yang membuncah menghantam dirinya, dia ingin sekali menangis atau bahkan tertawa terbahak-bahak dengan apa yang dilihat nya saat ini.


Dia ingin sekali berkata betapa dia merindukan gadis yang ada di hadapannya itu, seolah kerinduan nya Yang membuncah telah keluar disaat dia melihat kembali sosok yang begitu dia rindukan dan baginya gadis ada di hadapan itu benar-benar adalah Amora milik nya.


Dan akal waras nya secara tidak sengaja menghilang, dia secepat kilat menyambar tubuh gadis yang ada dihadapan itu dan memeluknya dengan erat.


gadis itu jelas terkejut setengah mati, senyum cerianya langsung berubah menjadi ekspresi shok dan terkejut bukan kepalang ketika tubuh nya tiba-tiba di peluk oleh laki-laki asing yang tidak dia kenal sama sekali.


"Justin?"


Raisa jelas ikut terkejut, berusaha menyentuh bahu Justin dan mencoba untuk mengingat kan nya soal siapa gadis yang dipeluk nya itu.


"Tuan?"


Gadis itu bicara dengan sedikit kesulitan.


Dia rasa dia sedikit tidak bisa bernafas dengan baik ketika laki-laki yang ada di hadapannya itu memeluknya dengan begitu erat.


"Aku tidak bisa bernafas"


Keluh gadis itu kemudian.


"Justin, dia bukan Amora"


Dan seketika laki-laki itu Sadar dengan apa yang dia lakukan.


dengan cepat Justin melepaskan pelukannya, dia menelisik wajah gadis yang ada dihadapannya itu untuk beberapa waktu.


bisa dilihat gadis itu berusaha menarik nafasnya sedikit panjang, dia pikir dia telah memeluk gadis itu terlalu erat.


"Kau lihat? kau saja tertipu dengan sosoknya apalagi sang pembunuh"


seolah-olah sadar apa yang telah terjadi dia langsung ingat gadis yang di hadapannya jelas bukan Amora.


Justin memundurkan kakinya untuk beberapa langkah.


Yah dia bukan Amora ku.


Batin laki-laki itu.


Sekelebat penyesalan menghantam Dirinya, dan dia benci saat dia memeluk sosok yang salah.


"Aku pasti sudah gila"


Ucap Justin lirih.


laki-laki itu menyentuh keningnya untuk beberapa waktu lantas dia menoleh ke arah Jefrey kemudian berkata.


"Aku harus keluar sebentar"


Ucap nya kemudian langsung melesat keluar secepat kilat dari sana.


Justin langsung mencari kamar mandi, berusaha melupakan emosi kemarahan dan lain sebagainya disana.


Dia kecewa, sedih dan entah apa lagi dia tidak tahu.


Dia berharap gadis yang ada di hadapannya tadi Amora, realita nya dia tertipu khayalan nya sendiri.


Laki-laki itu langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi, dia berjongkok di wastafel kamar mandi dan mencoba memuntahkan seluruh isi perut nya secara tiba-tiba.


Rasa trauma efek masa lalu atas kematian Amora kembali Menghantam dirinya.


Ingatan nya soal darah yang terus mengalir dari tubuh itu langsung membuat dia tidak dapat menahan gejolak didalam perut nya.


Sedangkan Di ruangan tadi gadis cantik itu sejenak menatap bingung ke arah semua orang, masih merasa malu saat dia tiba-tiba dipeluk tadi oleh laki-laki asing tersebut.


"Maafkan atas sikap dia"


Ucap Raisa pelan sambil menatap gadis dihadapannya itu untuk beberapa waktu.