
Isabella mencoba menarik nafasnya panjang saat Jefrey melepas ciumannya, dia nyaris kehilangan nafas nya untuk beberapa waktu tadi.
Setelah melepas kan Ciuman nya, seperti tidak memiliki dosa Jefrey langsung memilih duduk di kursi sofa.
"Ken akan membawa makan siang kita"
Ucap laki-laki itu tiba-tiba, dia duduk bersandar ke kursi sofa sambil membiarkan satu tangan nya menopang kepala bagian kanan nya.
"Ya? makan siang? tapi moma.."
"Ken sudah membeli nya dengan bersusah payah"
Ucap Jefrey lagi.
Aihhhh Isabella fikir laki-laki itu tidak mau berterus terang sekali, menjual nama Ken jika laki-laki yang bersusah payah soal mempersiapkan makan siang nya.
Padahal kalau tanpa perintah dan keinginan nya, bagaimana mungkin Ken melakukan itu semua.
Benar-benar laki-laki kaku yang tidak pandai mengekspresikan diri, ahhh tidak lebih tepatnya dia punya banyak alasan untuk tidak menampilkan perasaan yang sesungguhnya, benar-benar begitu kaku.
Tapi meskipun begitu, isabella suka dengan ke kakuan Jefrey.
Terlihat begitu manis dan menggemaskan.
Ah dia jadi teringat pada putra nya Harvey, dia Fikir kenapa Harvey bisa memiliki sifat utuh Jefrey.
Mereka benar-benar pasangan ayah dan anak yang begitu sempurna.
"Baiklah, itu bukan masalah. Tapi J bukankah akan terlihat aneh ketika kamu berada di ruangan ini? aku takut orang-orang akan berfikir yang tidak-tidak soal kita"
Ucap Isabella pelan, dia fikir kemarin Jefrey berkata harus menyembunyikan status mereka karena takut orang-orang curiga.
Semua orang harus yakin jika Isabella seorang gadis yang belum memiliki ikatan pernikahan apalagi anak, itu untuk mempermudah dirinya demi membalas kan dendam nya pada Aldi dan Mayang.
"Bilang saja aku sedang menikmati kemenangan sang model baru perusahaan"
Dan pada akhirnya dengan gaya yang begitu enteng Jefrey menjawab Begitu, seolah-olah perjanjian kemarin di anggap nya setengah tidak ada.
"Tapi..."
"Jangan terlalu khawatir baby, kamu tahu? orang-orang di kantor tidak berani bergosip soal bos nya sendiri"
Yah mana ada yang berani menggosipkan Jefrey Van Efron, jika ada yang berani melakukan nya bisa di jamin mereka akan kehilangan pekerjaan mereka hanya dalam satu kali kedipan.
Tapi yang nama nya mulut siapa bisa menahan nya untuk tidak berkoar-koar dan bergosip kesana-kemari?!.
Isabella hanya khawatir rencana mereka menjadi sedikit berantakan.
"Duduk lah kemari"
Ucap Jefry Tiba-tiba, laki-laki menepuk-nepuk kursi sofa di samping dirinya duduk, meminta isabella agar duduk di samping nya.
Perempuan itu sejenak diam, menatap Kursi sofa dan Jefrey secara bergantian, kecurigaan menghantam dirinya.
"Baby aku tidak berfikiran picik, jangan menatap ku seperti itu"
Protes Jefrey saat melihat tatapan dan ekspresi Isabella.
Seketika wajah isabella memerah.
Pada akhirnya Perempuan itu secara perlahan duduk di samping Jefrey.
"Apa kamu lelah?"
Jefrey bertanya sambil memutar tubuh Isabella dengan tangan nya, membiarkan punggung perempuan itu berada tepat di hadapan nya
Tiba-tiba kedua tangan laki-laki itu naik ke bahu nya, Isabella jelas sedikit terkejut, dia merasa buku kuduknya sedikit merinding.
"Lumanyan"
Ucap Isabella pelan.
"Biar aku berikan sedikit pijatan penghilang lelah"
Tahu-tahu Jefrey berbisik di balik telinga nya.
"Ya?"
. Isabella bertanya sedikit terkejut.
Fikiran nya sedikit dipenuhi kecurigaan.
Sang suami benar-benar ingin memijat nya atau ingin melakukan hal yang lain di ruangan tersebut?!.
"Rileks kan tubuh dan jangan buat keadaan nya menjadi begitu tegang"
Setelah berkata begitu Jefrey mulai memijat bahu nya secara perlahan.
oh tuhan apa yang aku fikirkan? kotor sekali.
Pekik Isabella saat dia sadar Jefrey benar-benar memijat-mijat bahu nya dengan gerakan yang begitu nyaman.