
Van Efron fashion company
Diwaktu yang sama
Jelang Sore.
Isabella terlihat mengembangkan senyuman nya sambil mematikan saluran televisi yang baru saja ditonton dengan remote televisi yang ada di tangannya.
dia kemudian langsung berjalan menuju kearah kursi sofa lantas duduk dengan gaya santainya di sana.
"Puas dengan hasil nya?"
tanya Jefrey Van Efron yang telah duduk lebih dulu di atas kursi sofa tersebut.
laki-laki itu menatap sang istri kesayangannya dengan penuh tatapan cinta.
Dia jelas merasa begitu bangga saat melihat wajah istri nya terlihat begitu bahagia.
"Kamu bisa menebak nya"
Isabella menjawab sambil mengembangkan senyuman nya.
"Aku fikir itu belum Setara dengan apa yang telah dia lakukan dengan mu, baby"
Ucap Jefrey Van Efron sambil merapatkan tubuhnya pada Isabella.
Seperti biasa, belakangan dia merasa begitu nyaman dengan kegiatan barunya memijat bahu dan punggung sang istri kesayangannya tersebut.
mendengar ucapan Jefri, Isabella menaikkan sebelah alisnya. Dia membiarkan sang suami nya mulai memijat-mijat kedua bahu nya.
seperti biasa laki-laki itu selalu mengistimewa kan dirinya, memperlakukannya dirinya seolah-olah dia adalah ratu milik laki-laki tersebut.
"Masih ada kejutan lainnya?"
Tanya Isabella tanpa menoleh kearah laki-laki tersebut sama sekali.
Perempuan itu menikmati pijatan demi pijatan yang diberikan oleh Jefrey, sejenak dia memejamkan bola matanya, membiarkan sang suami bergerak sesuai kemauan nya.
"He em"
Jawab Jefrey pelan.
"Itu akan menyakiti dirinya lebih dalam"
Tiba-tiba Isabella merasa bersalah atas kekejaman mereka pada Mayang.
"Masih menggunakan hati untuk menghabisi musuh?"
Tanya Jefrey pelan, dia melepaskan pijatan tangan nya kemudian secara perlahan laki-laki itu memeluk lembut pinggang istri nya.
Isabella diam untuk beberapa waktu, dia kemudian mencoba menyandarkan tubuhnya ke dada Jefrey.
"Aku hanya merasa kasihan"
Ucap nya sambil menghela pelan nafasnya.
Bisik Jefrey sambil memejamkan bola matanya.
Yah dia merasa sedikit kasihan saat membuat Mayang mendapat kan pelajaran yang begitu mengerikan dari mereka.
Namun jika ingat atas perlakuan Mayang dimasa lalu, membuat dia sadar bukan kah yang paling menyedihkan hidup nya adalah dia dimasa lalu?!.
"Dia ingin menjebak suami dingin mu ini agar naik ke atas kasur nya"
Lagi-lagi Jefrey berbisik pelan di balik telinga Isabella.
Yah dia bahkan menjebak Jefrey Van Efron agar naik ke atas kasur Mayang, bukankah seharusnya Isabella tidak mesti menggunakan hati nya saat ini?!.
"Dibandingkan apa yang kita lakukan kemarin, semua belum Setara dengan apa yang Mereka lakukan kepada dirimu, Bella"
Jefrey membuka pelan bola matanya, dia mencoba mengingat kan kekejaman Mayang dan Meri terhadap Isabella dimasa kemarin.
"Bahkan karena dia, kita hampir berpisah, Harvey yang nyaris kehilangan ibunya, kasus pembunuhan yang tidak kamu lakukan dan juga dia mengubah wajah ini tanpa perasaan"
Jefrey terus mengingatkan Isabella soal kekejaman Mayang.
"Mari menuliskan permainan tanpa menggunakan hati kali ini, minimal dia juga harus merasakan apa rasanya tidur di balik jeruji besi"
Lanjut Jefrey.
Yah Mayang seharusnya juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan oleh Isabella dimasa kemarin.
Isabella fikir dia seharusnya membuang perasaan nya soal kasihan saat ini.
"Berikut nya apa yang akan kita lakukan?"
Tanya Isabella kemudian mencoba membalikkan tubuhnya.
Jefrey melepaskan pelukannya secara perlahan.
"Ini akan jauh lebih menarik lagi"
Bisik laki-laki itu sambil mengembangkan senyuman.
"Maksud nya?"
"Kita akan membuat sang Dewi kematian terlahir kembali hingga dia membuka sendiri tabir kenyataan dan kekejaman mereka Dimasa kemarin"
Mendengar ucapan Jefrey membuat Isabella menaikkan ujung alisnya, dia cukup tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki tersebut.
"Mari menikmati pentas panggung menegangkan di malam puncak teater yang akan diselenggarakan di Prancis Minggu ini"
Ucap Jefrey sambil mendekatkan wajahnya ke arah Isabella
"Ya?"
Perempuan itu jelas mengerutkan keningnya.
Alih-alih menjawab rasa bingung dan penasaran Isabella, Jefrey lebih suka menyatu kan bibir mereka secara perlahan kemudian mulai menikmati ciuman hangat yang dalam beberapa hari ini belum mereka nikmati dalam beberapa waktu ini.