
Apartemen utama Aldi
Jakarta
Aldi terlhat bergerak dengan cepat mencoba menyambar kunci mobil nya, tidak dia hiraukan rasa lelah karena dalam beberapa hari terus berkutat dengan urusan nya di Palembang.
fokus saat ini adalah dia ingin tahu siapa yang mempercepat pernikahan antara dirinya dan Raisa.
Aldi Fikir dia tidak pernah melakukan itu sebelumnya, meskipun dia pernah mengancam Raisa tapi dia tidak pernah bicara kepada papa nya untuk mempercepat pernikahan mereka, apalagi bicara dengan Mama Raisa.
Ada dua kemungkinan orang yang bisa melakukan itu di belakangnya, ya jika bukan laki-laki itu maka itu berarti seseorang yang selama ini sengaja disembunyikan di belakang semua orang.
Aldi pikir dia harus menemui orang tersebut secepatnya.
Setelah mendapatkan kunci mobilnya laki-laki itu melesat keluar dari apartemennya kemudian turun ke lantai bawah menuju ke area parkiran.
Seorang security menundukkan kepalanya, bertanya dengan ramah pada laki-laki tersebut.
"Mau pergi pak?"
Alih-alih menjawab, Aldi lebih suka mengangguk kan kepalanya.
"Nona Mayang mencari anda tadi"
Ucap security itu tiba-tiba.
Aldi terlihat terus berjalan ke arah parkiran.
"Tutup seluruh akses untuk dia, aku akan minta Sekretaris ku memindahkan seluruh barang-barang ku ke tempat yang baru"
Ucap Aldi cepat.
"Baik, tuan"
Setelah menjawab begitu, laki-laki berseragam security Tersebut langsung berjalan ke arah yang berbeda.
Aldi terus melangkah menuju ke arah sisi depan nya.
Begitu laki-laki itu mendapatkan mobil yang dia langsung naik ke sana kemudian melajukan mobilnya menuju ke satu sudut kota Jakarta.
laki-laki itu mencoba menyalakan layar kecil yang ada di dasbor mobilnya, lagi mencoba menghubungi seseorang melalui headset bluetooth-nya.
"Kamu dimana?"
laki-laki itu bertanya setelah panggilan nya terhubung kepada seseorang di seberang sana.
"kamu sudah membaca dan mendengar berita nya?"
tanya Aldi kemudian.
"Ya aku sudah membaca nya"
terdengar balasan di seberang sana, suara seorang laki-laki menyahut dengan cepat.
"Kamu bisa menebaknya bukan siapa yang melakukannya?"
tanya Aldi kemudian.
"Aku bisa menebaknya dengan baik"
mereka sama-sama diam hingga akhirnya laki-laki diseberang sana berkata.
"Berhati-hatilah, aku takut Meri melihat gerakan kalian"
Laki-laki diseberang sana berkata cepat.
Aldi hanya menaikkan ujung bibirnya.
"Kau jangan khawatir soal itu, 3 tahun bukan waktu sebentar untuk mengecoh wanita itu"
Setelah berkata begitu, Aldi langsung menutup panggilan nya.
kemudian laki-laki itu terus melajukan mobilnya menembus kegelapan malam menuju ke arah satu titik di mana seharusnya memang dia datangi.
******
Di sisi gedung gelap pinggiran kota Jakarta, Aldi terlihat berjalan perlahan menuju ke arah dalam dimana ruangan tersebut menampilkan warna lampu temaram yang cukup membuat pusing mata memandang.
Laki-laki itu bergerak perlahan menyeruak masuk kedalam bangunan tersebut menuju ke satu pintu yang terhubung menuju ke satu ruangan rahasia yang tidak diketahui oleh orang-orang.
Bisa dia dengar derap suara langkah sepatu lainnya yang bergerak menyusuri ruangan tersebut dari arah yang berbeda.
Begitu laki-laki itu tiba ke sebuah pintu yang dia tuju, sejenak langkah kaki seseorang lainnya terhenti.
"Kau juga kemari?"
Sebaris pertanyaan terdengar di balik bibir seseorang, Aldi menoleh ke asal suara tersebut kemudian menaikkan ujung bibirnya.
Yang terlihat hanya siluet Laki-laki itu saja, wajah nya sama sekali tidak terlihat saat ini.
"Paman juga kemarin?"
Tanya Aldi sambil menatap laki-laki yang ada dihadapan nya itu.
"Kalian sudah datang rupanya?"
Belum sempat yang dipanggil Paman menjawab ucapan nya, tiba-tiba pintu tersebut terbuka dan suara seseorang terdengar di antara mereka.
"Aku fikir Anda sudah semakin membaik, Pa"
Laki-laki dihadapan Aldi bicara sambil menaikkan ujung bibirnya, dia melangkah perlahan kemudian bergerak mendekati cahaya.
Bisa Aldi lihat Jefrey Van Efron Bergerak memeluk laki-laki tua yang ada dihadapan mereka saat ini.