
Mendengar kata Masih ingat pada ku dari bibir seorang laki-laki yang ada di belakang nya membuat Amora menaikkan ujung bibirnya.
Dia sama sekali tidak takut ketika tahu nyawa nya jelas tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.
Meskipun rambut nya di tarik dengan kasar oleh laki-laki itu, Amora sama sekali tidak menampilkan sedikit pun ekspresi kesakitan nya.
"Apa kamu merindukan ku?"
Tanya laki-laki itu lagi.
Bill Rowland, Putra Ibnu Rowland.
Desas-desus berkata Ibnu Santoso laki-laki itu membuang nama Santoso dibelakang nya karena Menikahi wanita pengusaha kaya raya dan mengganti nama nya menjadi bill Rowland.
Amora terlihat terkekeh sambil membiarkan Bill mencium telinga nya dengan kasar.
"Kau bisa melihat apakah aku merindukan kamu atau tidak"
Jawab gadis itu dengan suara yang begitu datar.
"Mari menikmati kembali malam yang sama seperti beberapa tahun silam"
Ucap Bill kemudian.
"Tidak kah kamu ingin menjelaskan sesuatu kepada ku, Paman Ibnu Santoso? ah tidak Ibnu Rowland"
Tanya gadis itu kemudian.
Mendengar nama nya di sebut dengan dua kali namun dengan penggunaan nama berbeda membuat Ibnu membulatkan bola matanya.
"Apa?"
Laki-laki itu menaikkan ujung alisnya.
Bill ingin menarik paksa tubuh Amora, tapi dia langsung menghentikan gerakan nya saat Amora berkata.
"Paman tidak ingin menjelaskan kepada putra paman kenapa dimasa lalu paman dibuang dari keluarga Santoso?"
"Dibuang?"
Bill bertanya Dengan nada sedikit bingung.
"Kau bicara apa? seret dia dan habisi dia sekarang juga, Bill"
Perintah laki-laki itu cepat.
"Kau tidak ingin mendengar kan satu rahasia besar Bill? Papa mu seorang penipu ulung, memanfaatkan banyak orang untuk mencapai ambisi nya"
"Heiiiii tutup mulut mu ja..Lang"
Ibnu berteriak kencang di pertengahan malam.
"Apa yang sedang Papa coba sembunyikan?"
Bill jelas membulat kan bola matanya.
"Kamu tidak tahu jika kamu anak haram dari keluarga Santoso? kamu tidak tahu jika Papa kamu sengaja membawa mu masuk dengan alasan berbeda dari kenyataan untuk mendapatkan hak nya kembali di keluarga Santoso?"
Alih-alih peduli dengan teriakan dan kemarahan dari Ibnu, Amora terus mengeluarkan suara nya, sengaja memancing suasana agar memanas, sengaja membuat kedua Anak dan ayah itu saling menegang bersama.
"Apa?"
Bill jelas membeku.
"Bajingan, ja..lang sialan tutup mulut sampah mu"
"Kamu tahu kenapa Papa mu membunuh ku malam itu Bill? karena aku tahu sebuah rahasia besar soal banyak hal dan juga soal siapa kamu yang sebenarnya"
klatakkkkk
Laki-laki itu mengacungkan senjata nya kearah Amora.
"Jangan dengarkan Pe..lacur itu, bill"
"Tidakkah kamu lihat bagaimana panik nya Papa kamu Bill?"
Gadis itu semakin membuat suasana disekitar mereka menegang.
Klatakkkkk
Kali ini bill mengacungkan pistol Milik nya kearah Papa nya.
"Turunkan pistol mu, Pa"
Ayah dan anak tersebut seketika menjadi menegang.
Amora terlihat puas melihat ekspresi kedua laki-laki tersebut.
"Kau berani mengacungkan pistol mu ke pada ku?"
"Aku hanya ingin tahu kenapa Papa begitu terobsesi untuk membunuh gadis ini malam itu"
"Kau yang memperkosa nya lebih dulu, aku berusaha menutup kebodohan mu"
"aku melakukan nya karena mencintai dia, tapi dia mencintai Justin dan mereka akan menikah"
"Kau tahu gadis itu seorang pembohong"
"Aku tidak pernah membohongi siapapun, kau tahu bill? Papa mu menyembunyikan rahasia besar soal putra siapa kamu yang sebenarnya"
Amora sengaja menyeruak masuk di antara obrolan dua laki-laki itu.
"Tutup mulut mu Pe..lacur sialan"
"Katakan"
"Ibu mu adalah..."
"Amora......"
Amora baru akan bicara namun tiba-tiba lengkingan suara Ibnu memecah keadaan.
"Katakan..."
Begitu dua suara orang tersebut saling bersahutan, kemudian....
Klatakkkkk
Dorrrrrrr
Dorrrrrrr
Dorrrrrrr
Tiga suara tembakan memecah keheningan malam.
Sejenak semua orang membeku, Amora berusaha menatap kearah perutnya untuk beberapa waktu.
Bola mata bill menatap ke arah depannya kemudian menatap kearah Amora secara bergantian dimana dia bisa melihat semburan darah mengenai wajah nya.
Bisa dibayangkan bagaimana suasana saat itu, ditengah malam mencekam yang gelap gulita.
Darah segar terlihat mengalir disepanjang jalanan beraspal di pinggiran kota Paris dimana mereka berdiri di antara gedung yang menjulang tinggi di bagian lorong sempit tidak berpenghuni.