
Van Efron fashion company
Ruang kerja khusus Isabella
Jefrey terus memijat bahu Isabella sejak tadi sambil sesekali mereka mengobrol bersama, berbagi cerita tentang Harvey dan apa yang di sukai bocah Laki-laki tersebut.
Bahkan Jefrey bercerita soal sikap putra nya yang memang lebih dominan ke dirinya.
"Itu karena yang di contoh nya adalah kamu, karena itu Harvey terlihat lebih kaku"
Ucap Isabella cepat, kemudian dia seolah-olah sedang memikirkan soal sesuatu.
"Hmmm bisa jadi"
Jawab Jefrey pelan.
"Aku fikir kita butuh waktu khusus untuk liburan bersama Harvey, apa mungkin kita bisa mendapatkan nya?"
Tanya isabella tiba-tiba.
Sejenak Jefrey diam, dia terlihat berfikir untuk beberapa waktu.
Dia fikir ada benarnya juga, mereka seharusnya memiliki waktu khusus bersama. Jefrey harus meminta Ken dan Moma menyusun jadwal Isabella dengan baik, mencoba mencari waktu luang ditengah kesibukan barunya itu.
"Aku akan minta Moma mengecek ulang jadwal kamu"
Mendengar ucapan Jefrey, Isabella terlihat mengangguk kan kepalanya.
"Bicara soal Santoso group, mereka bilang ada proyek baru yang akan di lakukan oleh Meri (Panggilan Ibu tiri isabella), dia sedang mencari seorang investor dalam proyek tersebut"
Ucap Jefrey kemudian masih sambil memijat bahu Isabella, kali ini dia memindahkan pijatan nya ke kepala Isabella.
Mendengar nama Meri, seketika Isabella diam, ekspresi wajah nya langsung berubah.
"Dia butuh dana besar untuk proyek nya kali ini"
Lanjut Jefrey lagi.
"Aku sudah memasukkan seseorang untuk mewakili kamu menjadi sang investor nya, jika berhasil masuk, kamu bisa bergerak didalam Santoso group sesuai kemauan kamu"
Mendengar ucapan Jefrey, isabella belum menyahut. Dia mencoba memahami maksud dari kata-kata sang suami nya.
"Dari sana nanti kamu bisa menjalankan rencana A, jika semua rencana berhasil dan pecah, percayalah kamu bisa menarik seluruh perjanjian dan menekan nya"
Ucap Jefrey lagi sambil menghentikan gerakan tangannya. Laki-laki itu secara perlahan mendekat kan kepalanya ke telinga Isabella.
Setelah berkata begitu, Jefrey memeluk hangat tubuh Isabella.
"Kamu bisa membalas wanita itu sesuai dengan keinginan kamu"
lanjut Jefrey lagi.
Isabella menyentuh lembut tangan Jefrey yang melingkar di leher nya, dia bersandar sejenak ke arah Jefrey sambil menghela pelan nafasnya.
"Apa semua akan berjalan sesuai rencana?"
Tanya Isabella pelan.
"Selama kamu bisa mengatur dengan baik semuanya, semua akan berjalan sesuai keinginan kamu"
bisik Jefrey pelan.
Isabella tidak menjawab, dia Fikir mereka telah membuat rencana ini Sejak beberapa hari kemarin, bahkan Raisa menyusun strategi sempurna untuk dia bisa masuk ke Santoso group, hanya saja terkadang dia khawatir jika kedok nya terbongkar.
"Mereka tidak akan mengenali kamu kali ini, percayalah"
Seolah-olah tahu kegelisahan isabella, Jefrey berusaha untuk menyakinkan sang istri nya.
Dia tahu Isabella mengalami trauma soal penyiksaan yang dia terima di masa kemarin, karena itu kadang Isabella berfikir dia belum siap untuk bertempur dan bertemu langsung dengan Meri dan mayang.
Tapi jika terus menunda nya, Jefrey takut Isabella akan cukup menyesali langkah nya.
"Kamu tahu? ada satu informan yang berhasil membawa sebuah berita dari kediaman keluarga Santoso"
Saat mendengar ucapan Jefrey, sejenak Isabella menoleh ke arah suami nya.
"Soal?"
Tanya nya sambil mengerutkan keningnya.
"Ayah mu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja"
Mendengar kata soal ayah nya seketika Isabella tercekat.
"Ya?"
Tanya nya dengan ekspresi wajah yang cukup terkejut.