
Isabella cukup terkejut melihat laki-laki yang ada dihadapan nya itu.
"Justin? Kak?"
Jelas saja dia bingung.
itu adalah Justin, bagaimana bisa laki-laki itu memanggil Jefrey kak?!.
Isabella seketika berfikir, apakah yang ikut andil membebaskan dirinya dari penjara juga Jefrey?!.
Seolah-olah tahu dengan jutaan pertanyaan di dalam kepala Isabella, laki-laki itu buru-buru membawa Isabella masuk ke dalam elevator kaca tersebut.
"Dia adik laki-laki ku"
Hahhhh?!.
Isabella jelas terkejut, langsung menoleh ke arah Justin yang berdiri sisi kanan Jefrey.
Bagaimana bisa? bahkan karakter nya cukup berbeda.
Begitu fikir Isabella.
Jefrey punya wajah sedatar teflon yang meskipun di letakkan di atas bara api tidak akan mengubah ekspresi nya , sedangkan Justin jelas terkesan lebih santai dan ramah meskipun tidak menambah kesan kewibawaan nya.
"Apa kamu ikut andil dalam membebaskan aku di penjara?"
Tanya Isabella tiba-tiba, karena yang dia tahu Justin dan Raisa yang bergerak di belakang semua ini.
Membebaskan dirinya di penjara dan membentuk nya menjadi seperti hari ini.
Saat Isabella menanyakan soal itu, Jefrey sama sekali tidak menjawab, dia hanya menatap Isabella untuk beberapa waktu lantas menyentuh lembut wajah gadis itu.
"Soal itu kami bisa tanyakan dengan Justin"
Ucap Jefrey pelan.
Lalu laki-laki itu membuang pandangannya nya.
Tidak paham dengan keadaan, Isabella berusaha mencari Jawaban dari laki-laki yang adalah adik Jefrey tersebut.
"Kakak ipar begitu serius menatap ku"
Justin bicara sambil mengembangkan senyuman nya, laki-laki itu berdiri Santai sambil memasukkan kedua tangan nya di kantong celananya.
"Ada bagian yang tetap tidak aku pahami, Justin"
Isabella jelas bertanya sambil terus mengerutkan keningnya, dia fikir apakah mungkin J nya tahu soal dia sudah lama?!.
"J?"
"Kasus pembunuhan nya cukup membuat aku marah"
Tiba-tiba kata-kata Jefrey membuat Isabella cukup terkejut.
"Maafkan aku karena terlambat tahu soal kamu"
Ucapan Jefrey cukup membuat Isabella tahu bagaimana Jefrey langsung mengenali dirinya.
Bisa jadi benar, semua fasilitas dan kenyamanan di penjara setelah jutaan siksaan yang dia terima diberikan oleh Jefrey pada dirinya.
"Mari mengorek dan membalas mereka semua Bella, satu persatu hingga ke akar-akarnya"
Isabella terlihat diam, dia tidak punya kata-kata yang paling tepat untuk dia ucapkan.
"Kamu percaya aku tidak membunuh nya, J?"
Tanya gadis itu dengan penuh kekhawatiran.
Malam itu membuat dia ingat bagaimana seorang gadis muda berusia mungkin sekitar 23 tahunan tergeletak tidak berdaya dihadapan nya, saat itu usia Isabella masih 20 tahunan.
Darah segar mengalir dari perut gadis itu, tidak dia dengar rintihan dibalik bibir gadis itu, seolah-olah sejak awal gadis itu telah di matikan.
"Aku tahu kamu tidak melakukan nya, bella"
Justin tiba-tiba menjawab, bisa Isabella lihat mimik wajah laki-laki itu seketika berubah, menampilkan kemarahan di sertai rasa sakit yang begitu mendalam.
Dia tidak tahu ada apa dengan ekspresi yang di tampilkan Justin saat ini, tapi dia merasa seolah-olah Justin mengenal siapa korbannya malam itu.
"Cukup kamu Bergerak memancing ikan di dalam air yang keruh, sisa nya aku yang akan bergerak menyudahi semuanya"
Bola mata Justin menatap dalam bola mata Isabella, seolah-olah menyakinkan gadis itu jika dia akan berdiri di belakang Isabella untuk terus mengawasi nya.
Isabella mengangguk kan pelan kepala nya.
Tidak lama kemudian ketika pintu Elevator terbuka, 2 orang perempuan menyambut mereka di depan sana, menundukkan kepala mereka secara perlahan.
Jefrey secara perlahan menyentuh lembut rambut Isabella, dia membenahi rambut Isabella dan merapikan nya ke belakang daun telinganya.
"Pergilah, mereka akan menyulap mu menjadi Cinderella"
Bisik Laki-laki itu pelan.
"Aku akan menunggu di ruangan lain dimana masa kita berdua akan berubah menjadi satu"
Setelah berkata begitu, Jefrey mencium lembut kening Isabella Lantas dia beranjak menjauhi gadis tersebut.