
Mansion utama Santoso
Kamar Mayang
Mayang seketika meringkuk di pinggir ranjang dengan kedua tangannya mencoba menutupi kedua belah telinganya dengan erat, berita tentang persoalan dirinya semakin hari semakin memanas, sandal yang tidak pernah diharap kan oleh nya pecah begitu saja tanpa bisa dihindari lagi.
Dia fikir bagaimana bisa rencana matangnya hancur dalam semalam.
Padahal semua nya telah dia persiapkan dengan sebaik-baiknya nya, tidak ada yang salah, semua telah bergerak sesuai dengan keinginan nya.
Lalu bagaimana bisa?!.
Yah... mayang fikir seseorang pasti telah mengkhianati dirinya, hingga dia terjebak dan terjerumus pada permainan nya sendiri.
Dia yakin seseorang pasti melakukan sesuatu di belakang Dirinya.
Mayang jelas begitu marah dan jijik dengan semua keadaan yang berbanding terbalik 180°.
Yahhh...Jika dia ingat kejadian malam itu, mayang jelas merasa jijik dengan tubuh nya sendiri ketika dia disentuh oleh laki-laki itu.
Tiap jengkal tubuhnya dari atas hingga ke ujung kakinya tidak ada yang tidak disentuh oleh laki-laki tersebut.
Coba bayangkan bagaimana perasaan dia saat ini, ketika seluruh tubuhnya di jamah oleh laki-laki yang tidak dia ingin kan.
Bayangkan pula Betapa hancur nya hati Mayang saat dia ingat bagaimana Tiap inci tubuhnya dijamah satu persatu oleh laki-laki yang tidak dia cinta, yang bahkan tidak memiliki kelebihan apa-apa dan benar di masa lalu dia pernah menghina keluarga nya termasuk adik laki-laki tersebut.
Yang lebih lagi dia takutkan saat ini adalah, bagaimana jika seandainya dia hamil?!.
Sebab Mayang tidak tahu dengan jelas berapa ronde permainan mereka berlangsung malam itu.
Dia tidak dalam keadaan waras dan baik-baik saja, seseorang membubuhi nya sesuatu didalam minuman nya, dia berhalusinasi jika dia menikmati malam panjang bersama Jefrey Van Efron.
Realitanya dia melewati malam panjang dengan laki-laki lain yang tidak begitu dia kenal.
"Akhhhhhhh"
Mayang berteriak histeris sambil menarik kesal rambutnya dengan kedua belah tangannya.
Dia ingin sekali melampiaskan kemarahannya saat ini, namun yang jadi pertanyaan kepada siapa dia boleh melampiaskan kemarahannya, rasa jijik, kebencian dan lain sebagainya saat ini.
Praanggggg
"Akhhhhhh"
Seketika seluruh peralatan make up perempuan itu berhamburan ke lantai dan hancur berkeping-keping tanpa toleransi sedikit pun.
"Bagaimana bisa????? bagaimana bisa...???"
Pekik Mayang histeris.
Yah bagaimana cara nya dia tidak histeris saat ini, selain merasa dirugikan karena keadaan, kini karir nya berada di ambang kehancuran.
Ditengah amukan Dan kemarahan Mayang yang menggebu-gebu, dari arah pintu masuk kamar nya, sang Mama nya Meri masuk ke dalam begitu saja tanpa mengetuk pintu.
"Kebodohan apa yang kau lakukan sekarang, Mayang?"
Tanya wanita itu dengan perasaan kesal sambil berjalan mendekati Mayang.
"Bangun dan berhenti lah menangis atau jika tidak Mama akan menyeret mu persis seperti Mama menyeret Lira di masa lalu"
Ancam Sang Mama nya sambil mendekati Mayang, kemudian tiba-tiba wanita itu menarik kasar rambut mayang ke arah belakang.
"Kau tahu? setelah melakukan kesalahan bodoh yang menjijikkan kemarin seharusnya kamu berhenti bersikap kekanak-kanakan, dan cari cara untuk menangkap pelaku yang berani macam-macam dengan kamu."
Ucap wanita itu tiba-tiba dengan nada dingin nya.
"Bangun dan berhenti bersikap seolah-olah kamu rugi karena kebodohan yang kamu buat sendiri"
"Ma..."
Mayang meringis kesakitan saat mendapat kan perlakuan kasar sang Mamanya yang berubah seketika.
" Berhentilah menangis dan memberikan kerugian di rumah ini, bersihkan tubuh mu dan bersiap lah untuk keberangkatan kita ke Prancis"
Setelah berkata begitu wanita itu Langsung melepas kan dengan kasar tangan nya yang menarik kasar rambut mayang tadi.