
Mansion utama Jefrey Van Efron
Isabella terlihat sibuk bermain bersama Harvey, terkadang mereka tertawa bersama, terkadang bisa dilihat Harvey bergelayut manja di belakang nya, Kadang bocah kecil itu merengek meminta sesuatu kepada Mama nya tersebut.
Jefrey Van Efron hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku bayi laki-laki besar tersebut.
Bagi Jefrey bagaimana pun juga Hervey tetap lah seorang bayi Dimata nya, hanya tubuh nya saja yang sudah mulai tumbuh kembang besar dengan sempurna.
Orang tua selalu berfikir anak-anak mau sedewasa apapun nanti mereka tetap lah seorang anak-anak bagi mereka.
Sejenak laki-laki itu menghela nafas nya, dia kembali konsentrasi membaca majalah yang ada di tangan nya.
Di sisi kanan nya bisa dia lihat ayah mertua nya tampak sibuk berkutat dengan laptop Milik nya, dia tahu belakangan perusahaan Santoso menjadi tidak baik-baik saja karena ulah Meri dan Ibnu dimasa kemarin.
Saham perusahaan jelas merosot tajam secara drastis karena berbagai skandal yang terjadi didalam keluarga mereka.
Dimulai dari skandal Mayang hingga skandal kecurangan Meri dan Ibnu sendiri.
Membuat laki-laki itu mau tidak mau berusaha mengendalikan kembali perusahaan Santoso agar kembali membaik seperti semula.
Jefrey pada Akhirnya harus ikut turun tangan untuk membantu memperbaiki Saham perusahaan, dia bahkan memberikan beberapa persen saham nya untuk membantu agar perusahaan Santoso yang berada di jalur kritis tidak semakin terjun bebas ke bawah.
Sebenarnya dengan terbongkar nya semua Kasus kejahatan Meri dan Ibnu ada sisi baik dan buruk yang harus mereka terima, ada konsekuensi besar yang harus mereka hadapi pada akhirnya.
Contoh nya dengan anjlok nya semua saham milik Santoso.
Bahkan mereka harus kehilangan banyak investor juga para pemegang saham yang harus mundur satu persatu takut karena merugi drastis.
Seperti kata Aldi di awal, mereka harus siap menerima konsekuensi buruk atas segalanya.
Bahkan saat salah satu ada yang hancur mereka harus merelakan nya.
Jefrey menghembuskan perlahan nafasnya, dia kemudian meletakkan majalah yang ada di tangan nya ke atas meja yang ada dihadapan nya.
Secara perlahan laki-laki itu beranjak dari posisi duduknya, dia bergerak menuju ke arah dimana istri dan putra nya berada.
"Pa..."
Harvey bicara sambil mengembang kan senyuman nya, cukup senang melihat kehadiran sang papa kesayangan nya itu.
"Belum mau pergi istirahat?"
Jefrey bertanya sambil meraih tubuh Bocah kecil tersebut.
Harvey buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Aku belum mengantuk"
Jawab Harvey menjawab dengan mantap.
Yah dia jelas belum mengantuk.
Biasanya juga dia belum benar-benar tidur di jam segini, dia lebih suka bermain dengan aneka mainan nya atau memilih belajar bersama Nenek nya.
Tapi sejak Mama nya kembali, bermain dengan Mama cantik nya jelas menjadi keputusan terbaik nya.
"Mari bermain satu permainan, setelah itu pergi beristirahat hmm"
Tawar Jefrey kemudian.
"Boleh aku tidur bersama Mama? aku bosan tidur dikamar ku, Papa"
Alih-alih menjawab pertanyaan papa nya, Harvey memutuskan untuk bertanya balik lebih dulu.
Yah dia mulai bosan tidur dikamar nya sendiri.
Mendengar pertanyaan Harvey sejenak Jefrey terlihat diam.
Entahlah apa yang difikirkan oleh laki-laki tersebut, dia melirik kearah istri nya untuk beberapa waktu.
Isabella terlihat menaikkan ujung bahu nya, tidak paham dengan maksud suami nya.
"Baiklah, itu bukan masalah "
jawab Jefrey pelan sambil menarik pelan nafasnya.
Dan Seperti biasa Dia fikir lagi-lagi mereka gagal melakukan nya.