
Ke esokan hari nya
Prancis
Hotel Le Meurice
Musim dingin
Saat Raisa dan Jefrey Kemarin di Indonesia di mansion Jefrey berkata mereka akan membawa seseorang untuk menjadi kandidat terbaik menjebak pelaku pembunuh Amora ke hotel Le Maurice seketika Justin menghembus kan berat Nafas nya.
Dia takut apa yang menjadi pilihan mereka akan berjalan di luar ekspektasi nya.
"Bagaimana jika kita gagal melakukan nya? bagaimana jika sang pelaku mengelak dan tidak punya alasan untuk mengaku jika dia yang telah menghabisi nyawa Amora?"
Tanya laki-laki itu cepat ke arah Raisa dan Jefrey.
"kenapa tiba-tiba nyalimu menciut setelah kita tiba di sini?"
Raisa bertanya sambil menaikkan ujung alisnya.
Dia fikir bagaimana mungkin Justin tiba-tiba bisa berpikiran seperti itu, padahal selama ini yang paling bersemangat untuk membuka tabir kematian Amora adalah laki-laki tersebut.
"Bukan masalah ciut atau tidak, tapi mencari seseorang untuk berpura-pura agar menjadi Amora jelas pilihan yang tidak bijaksana"
Protes Justin cepat.
"Kau tahu? bahkan kita harus mencari seorang penata rias agar bisa mengubah seluruh penampilan sang pemeran pengganti nya nanti"
Mendengar protestan Justin, Raisa dan Jefrey saling menoleh.
Entahlah apa yang kedua orang itu fikirkan Justin tidak tahu.
Tapi ide kali ini dia cukup tidak setuju.
"Fikirkan ide yang lain lagi, yang Terlihat masuk akal"
Hingga akhirnya perdebatan panjang Terjadi di antara mereka kemarin ketika berada di kediaman Jefrey.
Kemudian saat Raisa tiba-tiba memberikan foto kepada dirinya, dia baru sadar apa yang dimaksud oleh gadis tersebut.
"Tidak ingin melihat dulu siapa kandidat yang kami maksud?"
Pertanyaan Jefrey jelas membuat dia sedikit bingung.
"Kau tidak akan menyesal saat melihat siapa dia"
Setelah berkata begitu, Jefrey langsung membuang pandangannya.
"Aku jamin mata mu akan cukup terkejut melihat nya"
lanjut Jefrey lagi.
Justin terlihat diam, dia kemudian secara perlahan menarik lembaran kertas dan foto yang diberikan Raisa.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Berikut nya bisa dilihat bagaimana ekspresi wajah Justin mulai berubah drastis tanpa disangka-sangka.
Seketika bola mata Justin membulat tidak percaya, dia mencoba memperhatikan dengan seksama atas apa yang dilihat nya, mencoba menyakinkan diri soal penglihatan nya.
laki-laki itu langsung menatap ke arah Raisa lantas berpindah ke arah Jefrey.
"Apa kalian sedang mengerjai ku?"
Tanya Justin tiba-tiba.
"Ada apa ini?"
Dia tercekat setengah mati.
"Bagaimana bisa?"
Dan kini dia benar-benar tercekat dengan apa yang dia lihat dihadapan nya saat ini.
Justin berusaha untuk menahan tubuhnya dengan cara berpegangan pada satu meja kerja di sisi kanannya.
Justin benar-benar shok dengan apa yang baru saja dia lihat saat ini.
Seolah-olah Dejavu, dia ingat kembali hubungan antara Diri nya dan Amora.
Terlalu banyak yang manis-manis Terjadi di antara mereka, terlalu manis untuk dilupakan.
Penikahan yang telah di susun matang seketika hancur tanpa bisa di hentikan.
Dia fikir tidak akan pernah bertemu dengan sosok gadis itu lagi, tidak akan pernah bisa melihat senyuman itu lagi.
Tapi sekarang apa yang telah dia lihat?!.
Tiba-tiba sosok yang sangat Mirip sekali dengan Amora berdiri tepat dihadapan nya.
"Halo, selamat siang Tuan"
Sosok cantik itu kini bicara sambil melebarkan senyuman nya begitu saja.
Tidak mungkin?!.
Justin rasanya ingin tumbang saat ini juga.
"Kau tidak apa-apa?"
Saudara laki-laki nya, Jefrey Bertanya sambil berusaha menyadarkan dirinya dari keterkejutan.