Istri Tak Ternilai Tuan Jefrey

Istri Tak Ternilai Tuan Jefrey
Jutaan Kerinduan


Mansion utama Jefrey Van Efron


Isabella sejenak membeku saat bola matanya menangkap sosok seseorang yang tengah berdiri tepat dihadapan nya.


Dia awalnya tidak ingin mengeluarkan air mata nya, tapi respon gelombang otaknya memaksa dirinya untuk meneteskan air mata nya secara tiba-tiba.


Entahlah mungkin selain karena perempuan dewasa mempunyai rata-rata menangis 5-3x dalam sebulan sedangkan pria dewasa hanya sekitar 1-4x saja. Pada tingkat sel, secara anatomi air mata perempuan lebih mudah mengalir dibandingkan laki-laki.


Dimana penyebab utamanya adalah hormon prolaktin, hormon prolaktin pada perempuan meningkat 50 – 60 % lebih tinggi dibandingkan laki-laki dimulai dari umur 18 tahun. Hormon ini mengatur produksi kelenjar air mata dan berperan penting dalam proses menyusui seorang ibu.


Hingga tidak heran jika orang-orang sering menemukan teman maupun seorang perempuan yang suka menangis.


Alasan lainnya karena Isabella sadar siapa laki-laki yang kini berdiri tepat dihadapan nya.


"Pa...?!"


Suara nya jelas terdengar begitu bergetar.


Isabella langsung menoleh ke arah suaminya untuk beberapa waktu.


Ditengah genangan air matanya, dia menatap suaminya itu dengan jutaan tanda tanya.


Bagaimana bisa Papa nya baik-baik saja?!.


Jefrey terlihat menyentuh lembut kepala Isabella, seolah-olah laki-laki itu berkata.


Semua baik-baik saja, melangkah maju dan temui Papa mu, peluklah laki-laki tua itu sekarang juga.


Siapa yang tidak bahagia saat satu-satunya kekuarga yang tersisa rupanya masih hidup?!.


Karena dia Fikir selama ini, sang Papa nya telah tiada di tangan Meri.


Dia Fikir wanita itu sengaja tidak mengumumkan kematian Papa nya karena masih menunggu mendapatkan hak-hak milik Santoso agar jatuh ke tangan nya.


menipu para pemegang saham agar berpihak kepada Meri dan membuat semua orang menyetujui Meri menjadi pemilik sah Santoso dan mendapatkan tabungan investasi Papa nya di Brankas bank luar sana.


Ditengah perasaan nya yang berkecamuk menjadi satu, Isabella secepat kilat Bergerak berhamburan menuju kearah Papa nya, memeluk laki-laki tua itu dengan cepat dan Erat tanpa berfikir dua tiga kali.


Saat ini ada Jutaan kerinduan menghantam dirinya.


Perempuan itu jelas tidak menyangka jika Papa nya baik-baik saja.


"Maafkan Papa karena terlambat membantu mu"


Bisik papanya sambil mengelus lembut rambut Isabella..


Dibalik ketidak percayaan Isabella, ada gurat rasa sesal dibalik wajah Santoso.


Dia menyesal karena ke egoisan nya untuk menikah dengan Meri menyebabkan kehidupan putri nya hancur berantakan.


Bahkan mana dia tahu jika Putri nya mengalami penderitaan panjang karena wanita itu selama dia berada di luar negeri.


Menghasut dirinya jika Isabella menjadi putri pembangkang, bahkan Meri dengan pandai nya membuat dia percaya jika Putri nya banyak berubah.


Ditambah lagi karena kesibukan nya hilir mudik keluar negeri hingga membuat dia mengabaikan keberadaan Putri nya sendiri.


Dia benar-benar menyimpan jutaan rasa sesal dibalik wajah tuanya tersebut hingga menyebabkan putri nya hidup didalam kesulitan untuk waktu yang begitu lama.


"Maafkan Papa"


Hanya dua kalimat itu yang mampu di ucapkan laki-laki itu dari balik bibir nya.


Dia Terus memeluk erat-erat tubuh putri nya itu untuk beberapa waktu, melepaskan rindu yang telah lama dia pendam selama ini.


Jika bukan karena berawal dari peringatan Aldi, pada akhirnya dia dipertemukan dengan Jefrey dan Justin, mungkin dia tidak akan pernah berdiri disini, memeluk erat putri nya sendiri.