
“Kita lagi dimana, Dad ?” tanya Rose saat ia diturunkan dari mobil dengan mata yang tertutup kain merah.
“Ada kejutan untuk mu !” jawab Marcus pelan dengan tersenyum manis.
“Okey, akan ku buka penutupnya.” Marcus kemudian membuka kain merah yang menutup mata Rose.
Rose membuka kedua matanya di hadapannya kini ada sebuah rumah yang begitu besar dengan cat bewarna putih hitam yang sangat indah.
“Rumah siapa ini ?” tanya Rose mengerutkan keningnya.
“Rumah kita !” Marcus memeluk istrinya dari belakang. “Rumah kita dan anak-anak kita !” ucap Marcus lagi.
Rose kemudian membalik kan tubuhnya pada suaminya seolah ia merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut suaminya. Sebab rumah yang ditunjukkan suaminya tersebut pasti sangatlah mahal untuk membangunnya.
“Dad, kau dapat uang dari mana membangun rumah besar seperti ini ? apa kau merampok pasien mu ?” cecar Rose dan membuat Marcus terkekeh mendengarnya.
“Aku mengumpulkan uang sejak aku bekerja menjadi dokter dan satu tahun lalu Rain memberikan ku kepercayaan untuk mengurus rumah sakit, maaf aku tidak pernah menceritakan prihal pekerjaan ku yang lain. Suami mu ini bukan hanya seorang dokter tapi juga direktur rumah sakit.” Marcus mengatakan itu dengan tersenyum manis pada istrinya.
Selama ini Marcus tak pernah memberitahu Rose jika Rain memberikannya kepercayaan untuk memimpin De Costa Hospital. Karena pada awalnya baik ia dan Rose tidak saling mencintai, namun beda dengan sekarang hubungan mereka bukan seperti orang asing lagi melainkan benar-benar pasangan suami istri yang saling mengasihi dan mencintai.
“Da..ddy..” Rose terkejut mendengar ucapan suaminya tersebut. Ia tak menyangka jika suaminya adalah seorang direktur rumah sakit.
“Berjanji lah kau akan selalu mencintai ku, dan tidak pernah meninggalkan aku !”Marcus menggenggam erat tangan Rose dan menatap manik matanya.
Rose menganggukkan kepalanya ia tentu saja sangat mencintai suaminya, bukan tentang Marcus yang ia tahu sudah sebagai seorang direktur tapi memang pada dasarnya ia mencintai suaminya dengan tulus bukan dengan materi.
“Seharusnya aku yang berkata demikan !” Rose mengerucutkan bibirnya dan membuat Marcus merasa gemas.
Marcus membuka pintu rumahnya yang bercat putih tersebut yang ternyata kehadiran mereka sudah disambut oleh enam orang pelayan dengan masing-masing tugas mereka.
“Selamat datang, Tuan dan Nyonya !”
“Mulai sekarang kau tidak usah repot membersihkan rumah cukup kau layani aku dan merawat anak kita nantinya !” ucap Marcus membuat Rose menjadi terharu mendengarnya.
“Kau membuat ku terharu Dad, sepertinya kau berhak mendapatkan hadiah !” Rose mengedipkan mata pada suaminya.
“Ayo sekarang saja !”
Marcus yang langsung mengerti ia kemudian mengajak Rose menuju kamar mereka, dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi diantara keduanya pasangan suami istri yang tengah di mabuk cinta tersebut.
... ………...
“Gina ?”
Rose menatap tak percaya dengan siapa yang ia lihat di hadapannya kini, Giorgina yang dulu adalah teman satu sekolah dengannya yang dulu juga pernah membully Asha dan juga dirinya maupun Venus kini menjadi pelayan di rumahnya.
Gina menunduk malu untuk menatap Roseline, ia tak tahu jika rumah tempat ia bekerja adalah milik Rose dan Suaminya. Dulu ia begitu jahat pada Asha dan juga Rose maupun Venus bahkan ia begitu sombong dan angkuh karena memiliki kedua orang tua yang kaya dan punya segalanya.
Namun kini ia sudah berakhir menjadi seorang pelayan dan lebih mirisnya lagi ia menjadi pelayan di rumah Roseline.
“Rose…
... ………....