
Rain mencabut miliknya dari milik Maria. Maria tentu saja merasa kesal karena Rain tidak meneruskannya.
“Kenapa ?” tanya Maria dengan berdecak kesal.
“Katakan siapa yang sudah lebih dulu mendahuluiku ?” Rain balik bertanya pada Maria. Rain tak menyangka jika Maria tidak lagi suci alias perawan. Padahal Rain sangat mengidam-idamkan malam pengantin dengan darah perawan.
Pupus sudah harapan Rain, karena ternyata wanita yang sudah ia nikahi tidak lagi suci. Kecewa tentu saja Rain kecewa pada Maria. Walaupun dirinya setahun lalu adalah seorang pemain dan sering berganti-ganti wanita yang tidur dengannya, namun untuk seorang istri Rain begitu menginginkan wanita yang masih suci yang dapat menjaga kehormatannya hanya untuknya sebagai istrinya.
Mendengar hal itu Maria terhenyak ia tak menyangka jika Rain begitu menomor satukan keperawanan. Ia menyesal pada dirinya sendiri mengapa dulu ia tak melakukan operasi keperawanan kembali.
Maria mulai berpikir dan mencoba mengambil kembali hati Rain dengan membujuk rayunya hingga Rain percaya padanya.
“Ah…aku tidak tahu jika kau sangat menjunjung tinggi kesucian seorang wanita. Kau tahu benar bukan bagaimana kehidupan para remaja pra dewasa, siapapun sudah pernah melakukannya sebelum mereka menikah.” Jawab Maria dengan suara lemah lembut agar Rain tak lagi marah dan kecewa padanya.
Rain mencoba memahami ucapan Maria, ia merasa apa yang dikatakan oleh Maria ada benarnya. Karena nyatanya ia pun mengenal **** pada saat ia tengah duduk dibangku kuliah.
“Kalau begitu, beri aku seorang anak. Agar aku tak lagi kecewa.” Ucap Rain menoleh pada Maria, diusia Rain yang cukup matang tentu saja Rain begitu ingin memiliki seorang anak.
Mendengar kata anak dengan ragu Maria menganggukkan kepalanya, begitu Rain mendapatkan jawaban dari Maria ia pun kembali meneruskan apa yang seharusnya mereka lakukan. Menyatukan gelora asmara dalam sebuah percintaan panas di malam pengantin mereka berdua.
... …….....
Pagi hari menjelang, pasangan pengantin baru yang masih berbalut selimut tebal dengan tubuh polos tersebut masih memejamkan mata. Pasalnya mereka berdua menghabiskan waktu hingga pukul empat pagi untuk bercinta.
Pukul sebelas siang,
Maria meraba-raba disamping tempat tidurnya, ia merasakan kosong tak ada Rain disampingnya. Maria kemudian membuka kedua matanya dan dilihatkan ke samping ternyata Rain telah rapi dengan pakaian kerjanya dan sedang memakan makanan yang tersedia di atas meja.
“Kau mau kemana ?” tanya Maria dengan bingung karena melihat Rain dengan pakaian kerjanya, ia berpikir tak mungkin jika Rain akan pergi bekerja setelah semalam mereka menikah.
“Jangan bilang kau…” ucapan Maria terputus saat Rain menyela perkataannya.
“Aku harus pergi ke Paris.” Ucap Rain tanpa melihat Maria dan ia masih memotong steak di piringnya hingga Maria merasa kaget.
Yang benar saja, Rain akan meninggalkan dirinya ke Paris setelah mereka menikah. “Rain, kita baru menikah dan kau mau meninggalkan aku ?” protes Maria ia merasa kecewa.
Rain menaruh garpu dan pisau dipiringnya. Dan mendongak menatap Maria dari kejauhan. Jujur saja ia masih kecewa pada Maria meski pun ia sudah menyentuh Maria, entah mengapa harga diri Rain seolah tak berarti apa-apa saat mendapatkan istri yang sudah bekas orang lain.
Rain berjalan mendekat ke arah tempat tidur dimana Maria masih duduk disana berbalutkan selimut dengan tubuh polosnya. Ia kemudian membelai wajah Maria dan tersenyum pada Maria.
“Aku harus pergi ! Jaga dirimu, Maria.” Setelah mengatakan itu Rain meninggalkan Maria di kamar tersebut dengan raut wajah Maria yang sudah dipastikan berubah semakin kecewa karena Rain menyebutnya dengan nama, bukan panggilan sayang.
... ……….....
Bantu komen yang banyak ya gaes... hari ini aku up 10 bab dulu 😘