
“Hati-hati di jalan ya Daddy.” Ucap Rose setelah Marcus mengecup keningnya.
“Nanti datanglah ke kantor, aku tidak ada jadwal operasi hari ini !” pinta Marcus
“Baiklah aku akan datang membawa makan siang.” jawab Rose tersenyum manis
“Kau sudah cukup jadi makan siang ku, baby.” Yang ternyata dijawab dengan sebuah cubitan di pinggangnya.
“Dasar suami mesum.”
“Aww…sakit Sayang.” Ringis Marcus
Percakapan Marcus dan Rose ternyata di dengar dan di lihat oleh beberapa pelayan yang tak sengaja melintas, mereka merasa turut bahagia melihat majikannya yang selalu harmonis seperti itu. Lain halnya dengan Gina ia melihat Rose dan Marcus dari kejauhan dengan perasaan yang sulit untuk di mengerti.
Setelah kepergian Marcus, Rose kemudian menuju dapur ia akan membuatkan menu makanan yang spesial untuk suaminya. Prihal soal makan, Rose nyatanya lebih suka memasak sendiri, karena ia ingin berbakti untuk suaminya sebagai seorang istri yang baik.
Rose berkutat di dapur, ia begitu bahagia menjalani hari-hari berumah tangganya bersama Marcus terkadang terlintas dari ingatannya bagaimana dulu sepak terjang hubungannya bersama Marcus seperti Tom and Jerry.
Rose tersenyum sembari membayangkan hal tersebut, semenjak mereka sudah saling mencintai, Rose tidak lagi suka mengomel pada Marcus hanya karena hal sepele.
“Ekhem..”
Rose menoleh ke samping ternyata Gina menghampirinya.
“Nyonya, biar saya bantu,” tawar Gina dengan lembut.
“Ah…tidak perlu aku bisa melakukannya sendiri.” Tolak Rose dengan tersenyum manis sambil mengaduk-aduk makanan yang ia masak.
“Pekerjaan ku sudah selesai, Nyonya. Jadi biarkan aku membantu.” Tawar Gina lagi.
Rose tampak memikirkannya, ia kemudian melihat piring dan peralatan dapur yang kotor, dan ia menyuruh Gina untuk mencucinya.
“Cuci saja piringnya.” Jawab Rose dan Gina mengangguk setuju.
Setelah Rose selesai memasak ia meletakkan makanannya di dalam kotak makanan, kotak tersebut ada dua satu untuk suaminya dan satu untuknya.
“Selesai !” Rose mengusap telapak tangannya dan melepaskan apron yang ia kenakan. Setelah Rose selesai masak ia berjalan menuju kamarnya, ia mengganti pakaiannya dan memoleskan make up di wajahnya karena akan pergi ke kantor rumah sakit tempat Marcus bekerja.
... ………....
Beberapa jam kemudian Rose sudah tiba di rumah sakit ia membuka pintu ruangan suaminya namun melihat tidak ada suaminya di kursi kerjanya. Namun sedetik kemudian ia merasakan tangan kekar sedang memeluknya dari belakang.
cup
“Baby, aku rindu.” Ucap Marcus dengan manjanya sambil mengecup pipi Rose dari samping.
“Ah..Daddy mengagetkan ku.” Jawab Rose yang merasa terkejut dengan perlakuan Marcus yang secara tiba-tiba.
“Ayo makan siang dulu, aku sudah memasak untuk mu, Dad.” Ajak Rose mendudukkan diri mereka di sofa.
“Jangan bercanda, Dad. Ayo makan dulu !” Rose membuka kotak makanan yang ia bawa di atas meja sedangkan Marcus terkekeh mendengarnya.
Marcus kemudian menerima kotak makanan di tangan Rose karena ia pun sudah merasa lapar. Marcus menyuap kan satu sendok ke dalam mulutnya, sedetik kemudian Marcus membulatkan kedua matanya saat merasakan rasa makanan yang dibuat istrinya terlalu asin, namun Marcus tetap menghargai Rose yang sudah memasak untuknya dan tetap mengunyah dan menelan makanan tersebut.
“Apa Daddy suka ? Aku akan buatkan lagi lain kali.” Tanya Rose ia bahkan belum memakan kotak makanan miliknya.
“I..iya aku menyukainya, Sayang.” Marcus terus mengunyah makanan tersebut hingga makanannya tandas, begitu pula dengan Rose ia memakan makanan di kotak makanannya.
Setelah Marcus selesai makan, ia meminum segelas air putih hingga tandas dan Rose memperhatikan itu sebab tidak biasanya suaminya tersebut sampai menghabiskan air minumnya namun Rose tak mau berpikir jauh, karena ia hanya menganggap mungkin suaminya memang sudah lapar.
... …….....
Satu minggu berlalu,
Setiap harinya Marcus harus merasakan rasa makanan istrinya yang begitu aneh di lidahnya. Yang awalnya terlalu asin, kemudian terlalu manis, lalu terlalu pedas seolah makanan istrinya semakin hari semakin aneh ia makan.
Sore ini saja, ia susah bolak balik ke kamar mandi setelah memakan makanan Rose yang terlalu pedas di lidahnya tadi siang. Marcus sampai tak bisa berkonsentrasi bekerja akibat makanan yang ia makan dari istrinya.
Beberapa jam kemudian Marcus pulang ke rumah dengan wajah yang lesu karena lelah, ia memanggil Rose namun ternyata Rose tidak ada dirumah sebab Rose belum pulang dari mengunjungi rumah kedua orang tuanya.
Marcus mengetahui dimana keberadaan istrinya lewat pesan yang dikirimkan Rose, Marcus yang tak mempermasalahkan itu karena ia sendiri pun merasa lelah hari ini.
Marcus mendudukkan diri di kursi sofa ruang keluarga samping mengadahkan kepalanya ke atas dan sejenak memejam kan matanya. Tak lama datang lah Gina membawakan Marcus kopi dan kue di cemilan untuknya.
“Tuan, ini kopi anda.” Gina meletakkannya di atas meja dan Marcus membuka kedua matanya lalu menatap Gina.
“Kau tahu saja jika aku butuh kopi, terima kasih !” jawab Marcus mengambil kopinya ia tak tahu jika kopi yang Gina buat masih panas dan tak meniupnya terlebih dahulu sebelum meminumnya.
“Aah..” Marcus meletakkan kembali kopinya di atas meja dan Gina dengan sigap mengambil tisu untuk membersihkan pakaian Marcus yang terkena sedikit tumpahan kopi.
“Maaf Tuan, aku lupa memberitahu jika kopinya masih panas.” Gina mengelap dada Marcus dengan tisu di tangannya.
“Ah tidak apa-apa salah ku sendiri yang tidak meniupnya terlebih dahulu.”
Deg
Gina terpaku menatap Marcus, jantungnya berdebar sangat kencang. Ya, Gina sudah jatuh cinta pada Marcus sejak pertama kali ia bekerja di rumah Marcus. Gina pikir Marcus belum menikah, namun nyatanya Gina salah ternyata Marcus sudah menikah dan istrinya adalah Roseline teman sekolahnya dulu yang pernah ia bully.
“Maaf Tuan.” Ucap Gina yang berpura-pura telah lancang menyentuh majikannya.
“Tidak apa-apa ! Nanti bawakan saja kopi ku ke kamar !” titah Marcus kemudian berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya meninggalkan Gina yang masih menatap punggungnya yang kian menjauh.
Gina menarik sudut bibirnya membentuk senyuman ia tengah berpikir suatu hal yang hanya ia sendiri yang tahu.
... ………....