
“Jadi kau belum bicara juga pada istri mu ?” tanya Rain saat ini Rain tengah berkunjung guna mengecek perkembangan rumah sakit.
“Aku takut dia kecewa.” Marcus berkata lirih, hanya Rain yang tahu tentang kesehatan dirinya karena Rain adalah sahabat yang sudah seperti saudara baginya.
“Semakin kau tidak jujur padanya, kau akan semakin membuatnya kecewa. Aku yakin istri mu bisa berpikir dewasa, lihat saja sampai detik ini bahkan dia masih setia menemani mu !” jawab Rain ia berdecak kesal karena sifat Marcus yang pengecut menurutnya.
“Ada banyak pengobatan bukan ? Kau masih bisa memiliki anak, tapi yang lebih penting adalah jujurlah terlebih dahulu padanya.” ucap Rain menasehati sahabatnya.
“Akan ku coba.” Lirih Marcus kemudian.
... ………….....
“Nyonya, bekal nya sudah siap. Aku akan mengantarkan….” Ucapan Gina terpotong saat Rose menyelanya.
“Tidak perlu ! Aku akan mengantarkannya, aku sudah selesai dengan urusan skripsi ku.” Jawab Rose dengan santainya lalu mengambil paper bag berisi bekal makan siang untuk suaminya.
Mendadak senyum yang mengembang di bibir Gina sirna, padahal ia sudah menyiapkan diri dengan membeli pakaian baru kemarin untuk ia pakai bertemu dengan Marcus. Tapi ternyata Rose tak ingin dirinya mengantarkan bekal makan siang untuk Marcus.
“Aku pergi dulu !” Rose kemudian keluar dari rumahnya dan masuk ke dalam mobil dimana sopir sudah menunggunya.
Gina mengepalkan kedua tangannya, kesal tentu saja Gina tengah merasakan kekesalan dalam hatinya karena tak dapat bertemu dengan Marcus.
Sepanjang perjalanan Rose menatap jalanan lewat jendela, lalu ia mengalihkan tatapannya pada cctv mobil yang tengah aktif.
“Bisakah kau mengambil memori cardnya ?” Rose seolah menginginkan memori card mobil tersebut karena biasanya memang satu bulan sekali Rose akan mengeceknya namun ini sudah hampir dua bulan ia tak mengecek cctv mobil tersebut.
“Baik Nyonya.” Jawab sopir tersebut pada majikannya.
Setelah Rose mendapatkan memori card tersebut ia menyambungkannya lewat ponselnya awalnya Rose melihat sepintas video dengan biasa-biasa saja, namun ketika ia melihat Gina masuk ke dalam mobil matanya menyipit kala melihat Gina membawa dua paperbag.
“Apa yang dia lakukan ?” ucap Rose seorang diri.
“Ada apa nyonya ?” tanya sopir tersebut karena mendengar suara majikannya.
Rose kemudian menatap sopirnya lewat kaca mobil depan, karena selama ia menyuruh Gina mengantarkan bekal makan siang suaminya hanya sopirnya yang membawanya pergi ke rumah sakit.
“Apa yang di lakukan Gina di mobil belakangan ini ?” tanya Rose langsung pada intinya.
“Gina ? Ah…dia selalu memberikan saya makan siang, Nyonya.” Jawab sopir tersebut apa adanya.
“Makan siang ?” tanya Rose lagi.
“Iya Nyonya, makanannya sangat enak. Apalagi kemarin menunya udang asam manis itu enak sekali.” Jawab Sopir itu tanpa ada yang ditutup-tutupi.
“Hah..!” Rose terdiam jelas saja kemarin ia memasakkan menu udang untuk suaminya, ternyata Gina tak memberikan bekal siang tersebut untuk suaminya.
Rose kalut dengan perasaannya, dan pikirannya sendiri. Ia kemudian teringat akan ucapan kedua sahabatnya yang mengatakan tentang sifat Gina.
‘Tapi kau harus berhati-hati, karena Gina sangat manipulative !’
Rose menggelengkan kepalanya ia tak menyadari selama ini Gina berusaha merusak rumah tangganya dengan mencoba mempengaruhi suaminya.
“Gina…”
... ,........ ...