ISTRI KECIL KU "ASHA"

ISTRI KECIL KU "ASHA"
MARCUS ANDERSON


“Selamat datang Tuan Leonel Richard sang pengusaha tambang batu bara terbesar di Indonesia !” Rain menyambut kedatangan Leon di mansionsnya karena Rain pada hari ini tengah mengadakan pesta aqiqah anak keduanya, Sharine Khairunisa De Costa.


“Kau membuatku malu.” Leon tersenyum pada Rain mereka kemudian saling berpelukan satu sama lain, karena mereka sudah lama tak bertemu meskipun mereka sering saling mengirimkan pesan.


“Anak mu sudah besar sekali ! Hallo, Alana.” Sapa Asha pada Alana di hadapan Leon dan Diana.


“Apa kalian melupakan aku ?” ucap Marcus yang datang tiba-tiba dan membuat Rain dan Leon menoleh ke arahnya.


“Apa kabar mu, Pak Dokter ?” sapa Leon kemudian memeluk Marcus.


“Sangat buruk !” jawab Marcus dengan santainya. Sedangkan Leon dan Rain terkekeh mendengarnya. Lain halnya dengan Diana, Asha membawa Diana untuk melihat putrinya yang baru saja lahir dua minggu lalu meninggalkan para suami mereka.


“Kenapa ? Bukan kah kau merasa bahagia setelah menikah dengan teman Asha, Roseline ?” tanya Leon


“Bagaimana ya menjelaskannya, ya begitulah pokoknya !” jawab Marcus dengan santainya.


“Bagaimana..begitulah..maksudmu apa ? jangan berbelit-belit !” tanya Leon mengernyitkan dahinya karena ia tak mengerti jawaban Marcus barusan.


“Mereka menikah tapi seperti orang asing dalam satu rumah !” Rain yang menimpali dan itu membuat Marcus melirik ke arahnya.


“Oh…begitu rupanya. Ku doakan semoga rumah tangga mu bisa seperti kami !” jawab Leon mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya tersebut.


“Aamiin !” jawab Rain hanya Rain yang menjawabnya sedangkan Marcus hanya menganggukkan kepalanya.


Dalam hati Marcus ia benar-benar tak berniat untuk membicarakan prihal rumah tangganya pada kedua sahabatnya tersebut, karena menurutnya itu tidak penting apalagi membahas tentang Roseline.


Setelah acara syukuran aqiqah anak ke dua Rain selesai. Marcus kembali ke rumahnya, rumah yang tidak terlalu besar tapi cukup esthetic karena interior di dalamya mengikuti tren zaman sekarang. Sehingga terkesan sederhana namun mewah.


Rose tidak menyapa Marcus sama sekali bahkan ia melewati Marcus begitu saja saat ia sudah mengambil botol air minum di dalam lemari pendingin.


Marcus yang melihat Rose yang semakin hari semakin mendiamkannya bahkan tak menganggap keberadaanya ia merasa kesal sendiri karena biasanya Rose tidak akan seperti itu, ia biasanya akan mengomel tanpa henti hanya karena prihal sepele.


Marcus kemudian menyusul Rose yang tengah menaiki anak tangga hendak kembali ke kamarnya.


“Kenapa kau seperti ini ? Ada apa dengan mu ?” Marcus menatap tajam Rose yang semakin hari semakin membuatnya muak.


“Ada apa dengan ku ? Memangnya aku kenapa ?” Rose bertanya balik karena ia merasa aneh dengan pertanyaan Marcus padanya.


“Kenapa kau mendiamkan aku ?” tanya Marcus to the point.


Diana terkekeh mendengar pertanyaan itu, mendiamkannya ?


“Memangnya apa pentingnya aku bagimu ?” jawab Rose dengan santainya.


Marcus terdiam memang benar apa yang dikatakan Rose padanya, apa pentingnya Rose baginya ? Karena ia pun tak pernah menganggap Rose ada walaupun Rose adalah istrinya. Namun entah mengapa pada saat Rose tiba-tiba diam seperti ini, ia seperti merasa ada yang hilang dari dirinya.


“Aku tidak mau ikut campur dalam urusan mu, kau urus saja urusan mu !” Rose belalu dari hadapan Marcus dan masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu kamar.


Rose menatap lurus ke depan dengan pikiran kosong kemudian ia teringat apa saja yang dilakukan oleh Marcus selama ini padanya, yang membuat ia memilih untuk diam dan tak lagi memperdulikan suaminya tersebut.


Marcus tenyata……