
Sorry gaes udah berapa hari gak update, keasyikan liburan akunya.... 🤣
... ............ ...
Marcus keluar dari kamar mandi dalam keadaan masih menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Gina yang baru saja meletakkan kopi di atas meja kamar majikannya tersebut diam terpaku kala melihat tubuh atletis Marcus yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Kenapa kau masuk ke kamar ini ?” Marcus menatap tak suka kehadiran Gina di dalam kamarnya.
“Maaf Tuan, saya hanya mengantarkan kopinya.” Marcus kemudian tersadar jika ia tadi memang menyuruh Gina membawakan kopinya ke dalam kamarnya.
“Ah, ya sudah kau boleh keluar !” titah Marcus mengusir Gina keluar dari kamarnya dengan mengibaskan tangannya.
Gina pun berjalan menuju pintu dan keluar dari kamar, saat Gina akan membuka pintu tiba-tiba pintu kamar tersebut dibuka dari luar yang ternyata Rose baru saja pulang dari rumah mertuanya.
Rose mengernyit heran akan keberadaan Gina yang ada di kamarnya, karena ia dari awal sudah mengatakan pada seluruh pelayan yang bekerja di rumahnya untuk tidak masuk ke dalam kamarnya.
“Sedang apa kau di kamar ku, dan…” Rose mengalihkan pandangannya pada suaminya yang masih dalam keadaan setengah polos.
“Sayang, tadi aku menyuruhnya membawakan kopi ke kamar kita.” Jawab Marcus
“Oh, begitu rupanya. Ya sudah lain kali jangan masuk lagi ke kamar ini, karena aku tidak suka ada orang lain yang masuk ke dalam kamar ku.” Terang Rose menatap Gina.
“Ba..baik Nyonya.” Gina pun berlalu pergi dari kamar majikannya dan pintu kamar ditutup oleh Rose.
‘Tunggu saatnya, aku akan merebut suami mu !’ batin Gina mengepalkan kedua tangannya menatap pintu kamar Rose dan Marcus.
... ………...
Keesokan harinya seperti biasa, Rose akan memasak makan siang untuk suaminya di bantu oleh Gina. Sebenarnya masakan yang Rose masak sangatlah enak namun akal licik Gina mulai bekerja, ia memasukkan bumbu lain ke dalam masakan Rose hingga rasa masakan yang dibuat oleh Rose tak karuan rasanya.
Rose tak pernah menyadari itu karena Gina melakukannya pada saat Rose selesai memasak.
Pada saat Rose hendak mengantarkakan makan siang suaminya, Rose mendapatkan pesan dari Dosennya untuk datang ke kampus membawa skripsinya.
Dengan terpaksa Rose tidak bisa mengantarkan makan siang untuk suaminya.
“Nyonya mau ke mana ?” tanya Gina melihat Rose naik lagi ke lantai atas dan turun membawa beberapa file skripsinya.
“Aku akan ke kampus !” jawab Rose cepat.
“Lalu bagaimana dengan makan siangnya ?” tanya Gina lagi.
Mendengar permintaan Rose demikian, Gina bersorak gembira dalam hatinya. Karena ini adalah kesempatan untuknya mendekati Marcus.
“Baik Nyonya, akan saya antarkan.” Jawab Gina pelan.
“Terimakasih !” Rose pun berlalu menuju mobilnya pergi ke kampus.
...………...
Beberapa jam kemudian, Gina sudah berdiri di depan ruang kerja Marcus. Gina berpenampilan semenarik mungkin dan berdadan cantik untuk memikat Marcus.
“Aku sepupu Tuan Marcus Anderson !” jawab Gina mengelabuhi sekretaris Marcus karena tidak mungkin jika Gina mengatakan siapa dirinya untuk bertemu dengan Marcus saat ini, sebab pasti sekretaris tersebut akan mengusirnya.
Mendengar identitas yang disebutkan oleh Gina, sekretaris Marcus kemudian mempersilahkan Gina masuk ke dalam ruangan Marcus. Dan dengan senang hati Gina pun melangkah kan kakinya.
Saat Gina masuk ke dalam ruangan Marcus, ia terkejut saat tubuhnya di peluk oleh seseorang dari belakang apalagi orang tersebut mencium lehernya sampingnya.
“Baby, aku rindu, ayo kita bercinta. Bukan kah kau sudah selesai masa menstruasi.” Marcus terus menjilati leher wanita yang ia tahu itu adalah istrinya padahal wanita tersebut adalah Gina.
Mendengar ucapan Marcus barusan, tubuh Gina seketika menegang apalagi ia marasakan sesuatu yang menonjol menempel di belakang bo.ko.ngnya.
“Tu..tuan..”
Marcus kemudian melepaskan pelukan tangannya dari tubuh wanita yang ia pikir itu adalah istrinya.
“Ka..kau..!” Marcus menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, ternyata baru saja ia memeluk dan mencium Gina.
“Maaf…aku pikir kau istri ku !” Marcus merasa bersalah dan tak enak hati karena sudah melecehkan Gina, apalagi leher Gina sampai memerah.
“Tidak apa-apa Tuan, saya yang salah. Saya hanya ingin mengantarkan bekal makan siang Tuan, karena Nyonya Rose harus pergi ke kampus.” Jawab Gina apa adanya, padahal dalam benaknya ia begitu senang disentuh oleh Marcus.
“Tapi tetap saja aku merasa bersalah.” Lirih Marcus kemudian. “Bagaimana cara ku menebus kesalahan ku ?” sambung Marcus lagi.
“Tidak perlu, Tuan. Saya akan menganggapnya tak pernah terjadi dan melupakannya.” Gina menundukkan wajahnya seolah bersikap seperti wanita lugu di hadapan Marcus.
Marcus mengusap kasar wajahnya dan merutukki kebodohannya. Bagaimana jika istrinya tahu soal ini pasti Rose akan marah besar padanya.
... ……….....