
Malu tentu saja Rose begitu malu dengan dirinya sendiri, rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya di dasar lautan setelah mendengarkan penjelasan Olivia barusan.
Rose menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, ia begitu malu jika harus melihat Marcus. Marcus hanya tersenyum melihat tingkah Rose semacam itu, ia bahkan tak marah pada Rose. Lagi pula wajar saja jika istrinya curiga karena ia pun tak pernah membicarakan hal demikan pada Rose.
“Kenapa ditutup, aku tidak marah !” Marcus mencoba menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya.
“Aku malu..!” rengek Rose dari balik selimut.
Marcus terkekeh medengarnya ia kemudian tersenyum smirk pada Rose. Marcus ikut masuk ke dalam selimut dan membuat Rose terkejut saat tubuhnya di kungkung oleh suaminya.
“Kenapa ikut masuk ?” ucap Rose cepat ia begitu canggung dengan posisi seperti ini bersama suaminya.
“Aku ingin melihat ini, yang sedari tadi mengomel tak jelas !” Marcus menempelkan jari telujuknya di bibir Rose. Hingga muka Rose memerah seperti tomat karena semakin malu.
“Maaf..!” lirih Rose
Rose menggigit bibirnya ia menyesal dan bersalah selama ini sudah berburuk sangka pada suaminya.
“Apa kau masih ingin mendiamkan aku ?” tanya Marcus membelai wajah Rose hingga Rose merasa terbuai dengan sentuhannya.
Belaian tangan Marcus menjalar ke bibir manis Rose. “Jadi benar kau sudah mencintai aku ?” tanya Marcus lagi, hingga mereka saling betatapan mata.
“Entahlah.” Elak Rose ia begitu gengsi mengatakan jika ia sudah mencintai suaminya tersebut.
“Tadi kau bilang mencintai ku ?” Marcus tak terima dengan jawaban Rose saat ini padanya.
“Kan tadi.”
Cup
“Marcus Anderso !” pekik Rose saat bibirnya di ***** oleh suaminya.
Ciuman yang awalnya lembut kini berubah menjadi panas dan menuntut, hingga entah kapan tubuh Marcus sudah polos tanpa sehelai benang.
Marcus menjamah setiap inci tubuh Rose, apalagi bagian dada Rose, Marcus seolah ingin terus memainkannya. Tangan Marcus bergerak kebawah dan membuka kain segi tiga Bermuda milik Rose hingga terlepas.
“Sa..sayang.” Marcus menatap tangannya dengan perasaan sedih, ia tahu darah apa itu.
“Ma..maf aku datang bulan !” Rose langsung turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi meninggalkan suaminya yang sudah di pastikan kesal, marah dan kecewa namun apa boleh di kata Marcus harus menerimanya dengan lapang dada.
“Astaga bagaimana dengan ular naga ku ?” Marcus melihat dan merasakan miliknya yang sudah berdiri tegak bahkan sangat mengeras.
Setelah beberapa menit kemudian Rose keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe, ia melihat suaminya seolah tengah merasa frustasi.
“Kenapa ?” tanya Rose tanpa dosa.
“Kepala ku mendadak pusing !” Marcus memijit keningnya karena ular naganya tak kunjung tidur.
“Biar ku ambilkan obat !”
“Aku tak butuh obat dokter, dia butuh obat yang lain !”
“Dia ?” Rose merasa bingung dengan ucapan suaminya tersebut.
Marcus lalu menunjukkan jari tangannya ke bagian inti miliknya yang tertutup selimut tebal.
“Bantu aku menidurkannya !” pinta Marcus
“Tapi aku lagi haid, lain kali saja.” Tolak Rose
“Please !” Marcus memelas pada Rose berharap istrinya tersebut mau menuruti keinginannya.
“Aku tidak berpengalaman, lagi pula punya ku masih ori !” tolak Rose lagi karena permintaan suaminya tersebut sangat aneh baginya.
“Nanti akan selalu ku ajarkan agar kau jadi berpengalaman memuaskan suami mu !” Marcus mengedipkan satu matanya pada Rose hingga Rose bergedik ngeri.
“Ayo !”
... …….....