
Semula ku tak yakin
Kau lakukan ini padaku
Meski di hati merasa
Kau berubah saat kau mengenal dia
Bila cinta tak lagi untukku
Bila hati tak lagi padaku
Mengapa harus dia yang merebut dirimu
Bila aku tak baik untukmu
Dan bila dia bahagia dirimu
Aku kan pergi meski hati tak akan rela
... ……....
Shinta dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. Semua tampak menunggu Shinta yang tengah dilakukan pemeriksaan di UGD. Richard menatap pintu ruang UDG dengan harap cemas dan khawatir bagitu pula dengan Diana dan Leon namun tidak dengan Hera ia merasa jengah berada ditengah-tengah mereka rasanya ia ingin pulang saja, namun ia tetap bertahan di samping Leon demi menjaga imagenya.
“Sudah puas kah kau menyakiti Ibu mu !” Richard menatap nanar Leon ia tak menyang jika Leon akan berbuat diluar batas semacam ini. Bagaimana bisa Leon menikahi dua wanita.
Leon hanya bisa diam merenungkan apa yang terjadi pada Ibu nya karena memang benar semua adalah kesalahannya, andai saja ia tak gegabah mengambil keputusan pasti Ibu nya akan baik-baik saja dan masih bisa tersenyum sampai saat ini.
Namun apalah daya Leon hanyalah manusia biasa, dua wanita disampingnya sama-sama memiliki kedudukan di hatinya. Ia mencintai Hera dan ia juga membutuhkan Diana.
“Ayah, sudahlah…” Diana mengelus punggung Richard menenangkannya. Dalam keadaan ini pun Diana masih bisa menenangkan Ayah mertuanya padahal disini dialah yang terluka, kecewa dan tersakiti.
Tak lama pintu ruang UDG terbuka menampilkan sosok seorang dokter yang menangani Shinta. Semua tampak berdiri dan menghampiri dokter tersebut menanyakan kondisi Shinta dengan harap cemas.
“Bagaimana keadaan istriku, Dokter ?” tanya Richard dengan cepat.
Dokter tersebut menatap sendu keluarga pasien. “Saya sudah berusaha, tapi Tuhan ternyata memiliki kehendak yang lain. Maafkan kami !” Dokter tersebut menundukkan kepalanya dan memberikan penghormatan pada keluarga pasien.
Deg
Jantung Richard berdetak tak karuan saat mendengar penjelasan dari Dokter jika Shinta tak bisa diselamatkan ia kemudian berlari masuk ke dalam UGD dimana istrinya tengah ditutupi kain putih disekujur tubunya.
“Sayang..aaa…Shinta !” Richard menangisi kepergian Shinta dengan pilu disampingnya pun ada Diana yang ikut merasakan duka yang mendalam atas kepergiaan Ibu mertuanya.
Lain halnya dengan Leon kaki pria tersebut seolah tak mampu untuk digerakkan tubuhnya bergetar hebat karena menangis melihat Ibu nya telah tiada.
Baru saja dia melihat senyum kebahagiaan di wajah Ibunya, namun kini semua telah sirna berganti dengan tangis duka orang yang menyayanginya atas kepergiannya.
“Ibu…” Tubuh Leon ambruk di lantai sambil bersandarkan kepala di dinding. Rasa bersalah dan penyesalan, hanya itu yang Leon rasakan. Andai saja waktu bisa diulang, andai saja.
Hera mencoba menenangkan Leon dengan memeluk tubuh Leon yang tak memberikan respon apapun padanya. Ia pun ikut merasakan kesedihan atas kepergian Ibu Mertuanya, namun ia tak menyesal sama sekali telah memberitahu kedua orang tua Leon karena baginya kedua orang tua Leon dan terutama Diana harus tahu kebenaran tentang status hubungannya dengan Leon.
Richard berjalan keluar ruangan UGD dan menegakkan tubuh Leon lalu memukul Leon meluapkan rasa amarahnya pada Leon.
Bugh
Hera berteriak saat melihat Leon yang dipukul oleh Ayahnya bahkan bibir Leon sampai mengeluarkan darah segar.
Bugh
“Ayah hentikan !” Hera memeluk tubuh Leon dan itu membuat Richard semakin geram melihat Hera dan Leon.
“Mulai saat ini kau tidak perlu menginjakkan kaki mu di mansions, dan aku Richard tidak memiliki putra seperti mu !” ucap Richard dengan suara menggelegar dan mengejutkan Hera dan Leon.
“Ay..Ayah…” ucap Leon terbata-bata.
“Pergilah bersama istri mu ! jangan pernah kau kembali menemui Ayah apalagi anak mu Alana dan juga Diana ! Bahagiakanlah satu istri mu, Hera !” Richard menekankan kata-katanya dengan menatap tajam Leon dan Hera hingga Leon dan Hera hanya bisa diam mendengar keputusan Ayahnya.
Diana yang menyaksikan pemandangan dimana pertengkaran yang terjadi antara Ayah dan suaminya tersebut hanya bisa diam dan menangis. Diana begitu terluka dan kecewa dengan sikap Leon bahkan Hera dengan terang-terangan menunjukkan sikap bahkan mereka berdua memang benar-benar pasangan yang saling mencintai satu sama lain.
Setelah Richard mengatakan itu ia kembali masuk ke dalam ruang UGD. Leon menyaksikan itu dengan perasaan yang hampa dan penuh rasa penyesalan. Saat ia melihat punggung Ayahnya yang sudah menghilang dibalik pintu, matanya bersibobrok dengan Diana yang tengah menangis melihatnya.
Leon sukses menyakiti semua orang, bahkan membuat Ibu nya menjadi korban atas ke egoisannya. Leon kemudian berdiri dari duduknya di lantai dan berjalan ke arah Diana, Hera yang melihat langkah kakinya akan mendekat ke arah Diana, ia mencegah Leon dengan menarik tangan Leon hingga Leon menghentikan langkah kakinya.
Diana melihat itu, melihat dengan jelas jika Hera tak mau Leon mendekatinya.
“Maafkan aku, Diana !” Leon tertunduk tak berani menatap Diana lebih lama lagi, hingga pada akhirnya Hera membawa Leon pergi meninggalkan rumah sakit dan Diana hanya bisa menatap punggung Leon semakin menjauh dari pandangan matanya dengan tangis yang terus saja luruh.
Belum sempat ku membagi kebahagiaanku
Belum sempat ku membuat dia tersenyum
Haruskah ku kehilangan 'tuk kesekian kali?
Tuhan, kumohon, jangan lakukan itu
Sebab ku sayang dia
S'bab kukasihi dia
Sebab ku tak rela
Tak s'lalu bersama
Ku rapuh tanpa dia
S'perti kehilangan arah
Jikalau memang harus kualami duka
Kuatkan hati ini menerimanya
... ………...