
Beberapa bulan lalu Marcus mencengkram kuat laporan medis mengenai kesehatan dirinya. Matanya berkaca-kaca setelah membaca laporan tersebut dan seolah tak terima dengan apa yang sudah terjadi.
“Anda bisa masih bisa memiliki keturunan dengan cara program bayi tabung, Tuan.” Ucap Dokter tersebut pada Marcus.
Sampai saat ini Marcus masih terbayang-bayang menganai dirinya yang ternyata bemasalah, lalu apa jadinya jika istrinya tahu ? mungkinkah Rose masih ingin tetap berada disisinya dan setia padanya.
Ucapan Rose barusan seolah membuat hati Marcus terasa pedih. Siapa yang tidak mau menginginkan anak ? Semua orang yang sudah menikah pasti mendambakan itu. Rumah akan terasa ramai dan lebih indah karena kehadiran seorang anak.
Lalu apa yang harus Marcus lakukan sekarang ? mungkin kah dirinya berterus terang saja mengenai kesehatannya.
“Dad, mengapa kau diam ? Bagaimana ? Apa aku perlu ke dokter saja ?” Rose kembali bertanya pada suaminya sebab sedari tadi suaminya tersebut hanya diam tak menjawab ucapannya.
“Untuk apa ke Dokter, bukan kah suami mu juga seorang Doker. Lebih baik diperiksa suami sendiri.” Jawab Marcus sambil terkekeh mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
“Daddy, aku serius !” sunggut Rose lalu Marcus menanggapi itu dengan memeluk erat tubuhnya.
“Kita jalani saja dulu pernikahan ini, Tuhan pasti memiliki rencana kapan dia akan memberikan kita kepercayaan memiliki seorang anak.” Marcus mengecup pucuk kepala istrinya, jujur saja Marcus mengatakan itu dengan berusaha kuat menegarkan hatinya.
“Tapi, Dad….” Potong Rose kemudian bibirnya di bungkam oleh bibir suaminya.
“Kita buat lagi, supaya dia segera hadir disini.” Marcus mengelus perut rata istrinya, ingin sekali ia berteriak sekencang-kencangnya meluapkan apa yang ia rasakan saat ini.
“Ayo !” Rose kali ini mengubah posisinya berada di atas tubuh suaminya, kali ini ia yang begitu bersemangat ingin melakukannya agar segera tumbuh calon anak di dalam rahimnya.
... ………....
Johan, kekasih Venus mengirimkan foto-fotonya bersama seorang wanita cantik. Johan tidak tinggal di Jerman melainkan di Inggris karena Johan tengah berkuliah di sana. Memang Johan sering pulang ke Jerman untuk menemui Venus, namun pada saat Johan tahu Venus tengah mengandung anaknya ia tak lagi pulang ke Jerman karena tak sanggup jika harus mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Venus.
‘Jangan pernah mencari ku lagi, hubungan kita sudah selesai !’
Begitulah pesan terakhir yang di tuliskan Johan padanya. Sakit, marah, dan kecewa, apalagi benci tentu saja Venus rasakan itu. Ia di campakkan begitu saja oleh Johan.
‘Aku tidak mungkin menikahi mu, usia kita masih sangat muda. Lagi pula aku ini seorang pewaris di keluarga ku ! Gugurkan saja, lagi pula dia masih berusia dua bulan !’
Kata-kata Johan terus saja teringiang-ngiang di otaknya. Dengan mudahnya Johan menyuruh Venus untuk menggugurkan darah daging mereka. Venus tak menyangka jika selama ini ia menghabiskan waktu dengan pria yang salah, seharusnya ia tak semudah itu memberikan tubuhnya pada Johan. Venus benar-benar menyesal, namun apa yang harus ia sesali saat ini karena semua telah terjadi.
Derap langkah seseorang menyadarkan Venus dari tangisannya. Zayn, seorang pria tampan berusia 29 tahun. Dia adalah dosen Venus di kampus yang kini telah menjadi suaminya.
“Apa kau menangisi dia lagi ?” tanya Zayn yang merebut posel di tangan Venus dan melihat Johan yang mengirimkan foto-fotonya bersama seorang wanita.
Zayn kemudian mengeluarkan sim card dari dalam ponsel Venus dan membuangnya keluar. Hingga Venus terdiam dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
“Mulai saat ini, jangan pernah lagi menangisinya, dia itu hanyalah pria pengecut. Tatap aku, aku bahkan mencintai mu, meskipun kau tengah mengandung anak dari pria lain aku masih tetap mencintai mu.”
Zayn menatap manik mata Venus yang masih berkaca-kaca dengan menangkup wajah Venus dengan kedua tangannya. Ia begitu mencintai Venus, ia jatuh cinta dengan Venus pada saat pertemuan pertama saat Venus masih duduk dibangku semester pertama.
Zayn……
... ……………....