
Gina berjalan keluar dari gedung rumah sakit dengan senyum mengembang di bibirnya sambil memegangi lehernya. Ia tak menyangka akan di mendapatkan durian runtuh siang ini. Pada awalnya Gina yang mau menggoda Marcus ternyata malah Marcus sendiri yang menggodanya, meskipun Marcus salah dengan beranggapan jika dirinya adalah Rose.
Gina sudah beranggapan terlalu jauh prihal Marcus padanya. Seharusnya ia sadar diri jika Marcus sudah menikah dengan Rose, bukan malah membenarkan perasaannya pada Marcus.
Beberapa saat kemudian, Gina sudah kembali ke rumah. Ia mendapatkan tatapan sinis dari pelayan lainnya yang melihat penampilannya saat ini. Mereka pun membicarakan sikap Gina yang akhir-akhir ini sangat mencurigakan.
“Apa kau memperhatikannya ? Dia seperti ingin merebut hati Tuan rumah ini !” bisik pelayan lainnya.
“Iya, aku sering melihatnya keluar masuk kamar Tuan. Apa jadinya jika Nyonya tahu ?” sahut yang lainnya.
Gina tak menatap tajam dua pelayan yang sedang berbisik-bisik tentangnya, ia tahu mereka pasti membicarakannya. Gina pun berjalan menuju dua pelayan tersebut dengan menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
“Apa kalian membicarakan ku ?”
“Kau terlalu percaya diri, siapa juga yang membicarakan mu !” sahut salah satu pelayan tersebut yang menatap tak suka pada Gina yang terkesan seperti orang sombong dan pemilik rumah padahal status mereka sama saja, seorang pelayan.
“Aku tahu kalian pasti iri pada ku kan ?” jawab Gina dengan sombongnya.
“Kau terlalu sombong, padahal kau hanya seorang pelayan sama seperti kami ! lihat tampilan diri mu kau tidak lebih dari seorang wanita penggoda saat ini !” sentak pelayan itu pada Gina yang melihat tampilan Gina mengenakan pakaian ketat dengan memperlihatkan lekuk tubuhnya.
“Jaga bicara mu !” Gina menekankan kata-katanya karena tak terima dirinya disebut sebagai wanita penggoda.
“Lalu apa sebutan yang pantas untuk wanita seperti mu ? Pelakor ?”
Perdebatan di antara ketiganya semakin sengit kala diantara mereka tak ada yang saling mengalah.
“Kurang ajar kau !” Gina hendak melayangkan pukulan di tangannya pada teman pelayannya tersebut namun tiba-tiba bunyi klakson mobil dari luar menyadarkan mereka hingga pada akhirnya mereka bertiga membubarkan diri.
“Sayang, ayo kita main.” Ajak Marcus pada Rose yang masih berkutat di layar laptopnya karena Rose disibukkan dengan tugas skripsinya.
“Nanti saja, Dad. Aku sedang sibuk ! besok pagi aku harus bertemu lagi dengan dosen pembimbing ku !” jawab Rose tanpa mengalihkan tatapannya karena ia sedang fokus mengerjakan skripsinya.
Marcus kemudian menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Memang benar saat ini Rose sedang disibukkan dengan skripsinya karena Rose tengah mengejar target wisuda akhir tahun ini.
Marcus melihat istrinya yang masih berkutat di laptopnya menjadi tak tega, ia kemudian bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar menuju dapur.
Saat Marcus di dapur ia tengah membuat segelas susu untuk istrinya, karena Marcus tahu istrinya perlu asupan nutrisi agar ia tetap fokus pada tugas kuliahnya.
Saat Marcus tengah berkutat di dapur, tiba-tiba Gina datang menghampirinya dan Marcus menyadari itu.
“Kau belum tidur ?” tanya Marcus basa basi sambil mengaduk susu di gelasnya.
“Belum Tuan, saya merasa haus.” Jawab Gina pelan ia melirik ke arah Marcus yang semakin hari semakin tampan dan berkarisma hingga ia semakin jatuh cinta pada pria yang sudah beristri tersebut.
“Oh, soal tadi siang lupakan saja. Atau jika kau butuh sesuatu katakan saja sebagai bentuk permintaan maaf ku !” Marcus mengucapkan itu tanpa melihat Gina disampingnya.
Gina yang mendengar tawaran tersebut, ia merasa seperti Dewi Fortuna sedang memihak padanya. Ia tak akan melewatkan kesempatan baik semacam ini untuk mendapatkan Marcus dan merebut Marcus dari Roseline.
“Tuan aku…”
... …………....