
Leon terbangun dari tidurnya ini sudah kesekian kalinya ia bermimpi menggendong anak bayi bahkan ia bermain dengan anak tersebut seolah mereka sangat akrab dan memiliki ikatan yang begitu kuat.
Leon memijat pangkal hidungnya ia benar-benar bingung mengapa ia selalu bermimpi hal semacam itu setiap tidur malamnya. Saat Leon terus berpikir tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan yang menelponnya adalah Ibu nya yang selalu ia hindari selama lima tahun berlakangan ini.
Leon kemudian melihat jam di dinding menandakan pukul enam pagi, ia kemudian turun dari atas tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah ia mandi dan berpakaian rapi, Leon kemudian keluar dari kamarnya dan menuju dapur dimana ia akan membuat sarapan untuk dirinya sendiri, hanya segelas kopi, roti selai cokelat dan sebuah apel.
Setelah Leon sarapan ia kemudian mengambil tas kerjanya dan pergi meninggalkan apartemennya menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya hendak pergi ke kantor.
Sepanjang perjalan menuju kantor, Leon menepikan mobilnya di toko roti membelikan Rain roti yang selalu ia makan untuk cemilan di kantor setiap harinya. Apa yang tidak Leon ketahui prihal Rain, karena semenjak ia bekerja dengannya Leon harus memahami dan dituntut untuk mengetahui apa saja yang Rain perlukan, karena itu adalah salah satu pekerjaan yang Leon kerjakan untuk Rain.
Setelah Leon membeli roti ia masuk lagi ke dalam mobilnya dan melanjutkan perjalanannya menuju kantor. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang Leon tiba dikantor dan menuju ruang kerjanya yang satu lantai dengan Rain De Costa.
Begitu Leon sampai diruang kerjanya ia mendudukkan dirinya dikursi dan memulai pekerjaannya. Satu jam, dua jam bahkan tiga jam berlalu pekerjaan yang dilakukan oleh Rain telah selesai ia kemudian membawa hasil kerjanya menuju ruangan Rain.
Saat ia mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan Rain, Leon membulatkan kedua matanya saat melihat Ayah dan Ibu nya sudah duduk berhadapan dengan Rain.
“Leon…” Ibu Leon yang bernama Shinta tersebut langsung berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh putranya karena begitu rindu padanya.
“Ibu !” lirih Leon, Leon tak menyangka kedua orang tuanya akan menemukannya di Jerman dan menemukan dimana ia bekerja sekarang.
“Tuan Rain, anda salah paham !” sangkal Leon, karena Leon pikir Rain kecewa padanya karena merasa dibohongi olehnya selama ini.
“Mulai sekarang kau tidak bekerja lagi padaku, seharusnya kau menjadi seorang CEO diperusahaan Ayah mu dan meneruskan kepemimpinannya bukan malah menjadi seorang asissten pribadiku !” terang Rain, ia sendiri merasa tidak enak jika Leon terus bekerja padanya dan menjadi asisstennya begitu Rain tahu bagaimana latar belakang keluarga Leon sebenarnya.
“Tapi Tuan…” Leon merasa tak terima jika harus berhenti dari pekerjaannya karena ia sendiri sudah lima tahun terakhir ini merasa nyaman bekerja dengan Rain.
“Berhenti bekerja atau aku tidak mau lagi mengakui mu sebagai seorang adik !” Rain memberikan ancaman pada Leon, karena baik Rain sendiri sudah menganggap Leon sebagai adiknya selama ini.
“Leon ayolah pulang, Ibu dan Ayah tidak akan lagi memaksamu untuk menikah !” pinta Shinta pada putranya. Leon pergi dari rumah dan meninggalkan tanah air karena sebuah perjodohan yang tak Leon inginkan. Leon kemudian memutuskan untuk pergi dan menghindari kedua orang tuanya agar kedua orang tuanya tak selalu memaksanya untuk menikah.
Rain mendengar percakapan antara anak dan sepasang orang itu ia menyunggingkan senyuman dibibirnya, ia tak menyangka jika Leon bernasib sama dengannya dulu ketika belum menikah, selalu dijodoh-jodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya yang tidak ia sukai agar dirinya segera menikah.
“Pulang lah, Leon. Sudah cukup lima tahun ini kau menghindar dari orang tua mu, kau juga harus mencari pendamping hidup mu sendiri.” Rain ikut menasehati Leon dan membujuknya agar kembali pulang bersama kedua orang tuanya.
Melihat ketulusan kedua orang tuanya, Leon menjadi tak tega dan mengiyakan permintaan mereka. Dengan berat hati Leon akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan meninggalkan negara Jerman berserta kenangannya.
“Baiklah aku akan pulang !”
... ……....