
‘Alana masuk rumah sakit, Leon.’
Tulis Diana pada pesannya untuk Leon. Diana mengirimkan kabar pada Leon jika Alana dilarikan ke rumah sakit karena demam tinggi.
Leon yang membaca pesan tersebut ia langsung bergegas mengganti pakaiannya dan keluar dari kamar untuk pergi ke rumah sakit. Namun saat ia hendak pergi keluar, tiba-tiba langkahya terhenti saat Hera menghalangi jalannya.
“Kau mau kemana, Leon ?” Hera menelisik penampilan Leon yang sudah berganti pakaian.
“Aku harus ke rumah sakit, putri ku demam !” jawab Leon menatap Hera dengan raut muka datar.
“Aku ikut !” pinta Hera ia kemudian hendak mengambil tasnya namun apa yang ingin ia lakukan tiba-tiba saja terhenti saat Leon meranganya untuk ikut dengannya.
“Tetaplah disini, aku hanya ingin menemui putri ku. Karena aku merindukannya !”
Hera kemudian berbalik dan menatap Leon dengan sinis. Bertemu dengan Alana itu artinya Leon akan bertemu dengan Diana juga. Hera merasa itu hanyalah alasan Leon untuk menemui Diana.
“Merindukan putri mu atau merindukan Diana ?!”
“Hera..!” jawab Leon dengan suara beratnya semakin hari Hera semakin mengekangnya dan itu membuat Leon semakin muak.
“Benar bukan ? Kau merindukan wanita sialan itu ?!” ucap Hera dengan suara sedikit meninggi karena ia sangat membenci Diana.
“Cukup !” sentak Leon
“Putri mu masuk rumah sakit, lalu apa hubungannya dengan mu ? Disana sudah tersedia dokter dan perawat ! Jangan-jangan itu hanyalah alasan Diana untuk bertemu dengan mu !” cecar Hera
“Hera, kau jangan selalu berpikiran buruk tentang Diana !” balas Leon dengan suara beratnya.
“Bahkan kau membelanya, aku jadi penasaran apakah kau jatuh cinta padanya ?” Hera menarik sudut bibirnya membentu senyuman mengejek pada Leon.
“Benar kan ?! Kau mencintainya ! Kau jahat Leon !” teriak Hera degan mata yang memerah dan rahang yang mengeras.
Sejenak Leon diam terpaku saat Hera mengatakan jika ia mencintai Diana. Namun buru-buru Leon menepis pikiran itu karena dalam bayangannya saat ini adalah kondisi Alana yang berada di rumah sakit.
“Aku tidak ingin berdebat lagi !” Leon kemudian berbalik dan keluar dari apartemen meninggalkan Hera yang berteriak kesal memanggil namanya.
“Leon…!”
... …….....
Richard melihat kedatangan putranya ia menatap kerinduan dengan putranya tersebut namun perasaan itu tiba-tiba sirna saat ia teringat bagaimana Shinta kehilangan nyawanya karena ke egoisan putranya itu.
“Mau apa kau kemari ?!” ucap Richard dengan suara beratnya.
“Ayah sudah, aku yang memintanya kesini untuk melihat Alana.” Diana menenangkan Ayah mertuanya agar tak terjadi keributan di kamar rawat Alana yang masih dalam keadaan tertidur.
“Diana..!” Richard menoleh ke arah menantunya tersebut, Richard merasa tak percaya menantunya tersebut seolah tak merasakan kekecewaan terhadap putranya atas apa yang dilakukannya.
“Ayah, tolong maafkan Leon. Bagaimana pun dia adalah putra kandung Ayah, tidak kah Ayah kasihan padanya terlebih lagi pada cucu Ayah dia masih membutuhkan sosok Ayah nya.” Ucap Diana dengan mata berkaca-kaca.
Leon yang mendengar itu hatinya seolah teriris sembilu. Diana bahkan memohon pada Ayahnya untuk memaafkan kesalahannya. Padahal Diana juga sama terlukanya, namun ia masih membelanya.
Leon tertunduk malu pada dirinya sendiri, seharusnya ia tak menyia-nyiakan wanita sebaik Diana.
“Diana…
... ……....