
Gaes satu bab dulu ya, aku hari ini sibuk banget soalnya, walaupun hanya satu bab ini tuh panjang banget sama aja kaya kalian baca dua bab ! makasih buat pengertiannya. Aku sayang kalian, jangan lupa like dan komentar kalian tentang ceritaku yang satu ini, plis komentar yang banyak kasih author masukan kalo bisa, hehehe…
... ……....
Dua minggu berlalu sejak pertemuan Asha dan Moreno waktu itu Asha benar-benar bak seperti perangko yang selalu menempel pada suaminya, Rain.
Asha akan ikut kemana pun Rain pergi seperti hari ini, Rain akan ke Paris mengecek perkembangan cabang perusahaannya disana. Tentu saja Asha merasa senang karena ini kali pertama ia pergi ke negara romantis tersebut.
“Wah…eiffel !” Asha begitu kagum dengan menara menjulang tinggi yang sangat melegenda tersebut. Akhirnya ia bisa melihatnya dari dekat.
“Kenapa tidak bilang jika kau menyukai negara ini, baby ?” Rain memeluk Asha dari belakang.
“Aku hanya kagum Dad, lagi pula aku tidak ingin merepotkan suamiku yang tampan ini hanya untuk ke sini !” Asha membalikkan tubuhnya meraba wajah tampan suaminya.
Inilah yang tidak disukai oleh Rain, Asha selalu bersikap mandiri dan tidak mau menyusahkan dirinya. Padahal Rain begitu senang kalau Asha banyak meminta ini dan itu padanya. Bukan hanya soal Asha yang tengah mengandung calon penerusnya tapi memang Rain begitu sangat mencintai dan menyayangi Asha.
“Apa Daddy beli saja rumah di negara ini ? untuk kita tinggali suatu saat kau ingin kembali ke sini ?” tawar Rain
Asha terkekeh mendengar ucapan suaminya dimana Rain akan membeli rumah di Paris, karena menurutnya itu adalah hal yang berlebihan.
“Dad..aku tahu kau pria kaya dan banyak uang, tapi simpan saja uang mu untuk anak kita nanti karena aku sudah merasa cukup dengan apa yang kau berikan padaku, cinta dan kasih sayang mu !” jawab Asha dengan lembut ia mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.
“Kau selalu seperti ini, itu yang membuat aku jatuh cinta padamu !” Rain menarik pinggang Asha agar menempel pada tubuhnya kemudian ia mencium bibir Asha dan menatap manik mata coklat Asha yang selalu dapat menghipnotisnya.
Cup
“Jadi apa kau sudah memaafkan Daddy ?”
Rain menggigit bibirnya karena prihal permasalahannya bersama Asha tentang Rain dan Maria masih saja menghantui dirinya. Sebab Asha sama sekali belum memberikan jawaban jika Asha sudah memaafkannya, Asha hanya memberikan syarat padanya bukan sebuah jawaban jika Asha memaafkannya.
“Apa Daddy tahu kalau wanita bergerak 90% menggunakan perasaannya sendangkan 10% nya lagi menggunakan akalnya. Aku mungkin bisa menerima perlakuan baik Daddy, tapi wanita itu tipikal orang yang perasa dan mudah mengingat hal sekecil apapun yang diberikan oleh pasangannya, entah itu hal yang penuh kebahagiaan atau kekesalan atas kesalahan.”
“Dan aku berada di posisi dimana aku harus memilih antara ego atau dirimu Dad, aku memaafkan mu Dad…tapi aku tetap akan ingat apa yang pernah kau lakukan di belakang ku !” terang Asha yang membuat Rain diam membisu.
Rain merenungkan ucapan Asha untuknya, benar apa yang dikatakan Asha untuknya, walau bagaimana pun bukan hal mudah untuk melupakan hal yang terjadi diantara dirinya dan Maria dan semua itu karena dirinya yang terlalu bodoh dan tidak melihat sisi lain dari Maria yang ternyata memanfaatkannya untuk menghancurkan rumah tangganya.
Rain hanya bisa menerima keputusan yang Asha berikan untuknya, dimaafkan namun dia akan tetap ingat apa yang pernah Rain lakukan dibelakangnya.
“Terimakasih, Daddy berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jika Daddy mengulanginya lagi maka…”
“Daddy harus siap tak melihat aku dan bayi kita untuk selamanya ! karena aku akan membawa bayi kita jauh dari sisi Daddy !” ancam Asha memotong ucapan suaminya yang tentu saja membuat Rain mati kutu mendengarnya.
Ia tidak bisa terpisah jauh dari Asha apalagi sebentar lagi Asha akan melahirkan anaknya, tidak ! Rain tak bisa membayangkan bagaimana hancur dan hampa hidupnya tanpa Asha dan anaknya.
... ………...
Diana menatap lurus kedepan dimana ia tengah melihat pemandangan ibu kota lewat jendela apartemennya. Ini sudah sembilan bulan dimana ia memutuskan untuk berhenti bekerja karena sesuatu hal yang memaksanya untuk melepaskan karirnya yang susah payah ia raih.
Diana menitihkan air matanya dimana ia merasa menyesal dengan apa yang telah terjadi dengan dirinya sendiri. Sebuah keputusan dimana ia harus menanggung semua yang ia rasakan sendiri.
Diana terus menangis sambil mengelus perutnya yang ternyata sudah sangat membesar. Ya, Diana tengah mengandung benih dari pria yang ia maki sembilan bulan lalu. Andai dulu ia tidak berbuat kasar dan memikirkan keputusannya tentu ia tak akan mengalami nasib semacam ini.
Flash Back
“kenapa kau berikan bunganya padaku ?!” bentak Diana pada seorang pria tampan di hadapannya saat mereka berdua tengah berada di koridor hotel.
“Kau sendiri yang memberikannya padaku, mengapa kau yang marah, dasar wanita aneh, perawan tua !” pria itu balik membentak Diana hingga Diana semakin tersulut emosi.
“Kau tidak berkaca pada dirimu sendiri sebelum memaki orang ! jika kau pria normal pasti dirimu sudah menikah dan punya anak !” maki Diana dan itu sukses membuat amarah pria tersebut kian mendidih.
“Apa kau bilang ? Aku tidak normal ?” pria itu mengepalkan kedua tangannya dan itu membuat Diana semakin semangat membuat pria itu kian memanas.
“Iya, aku yakin kau pria tidak normal atau jangan-jangan kau seorang Gay atau pria impoten !”
“Tutup mulut mu !”
Pria itu kemudian menarik kasar tangan Diana masuk ke dalam kamar hotel yang ia tempati. Dengan kasar ia menghempaskan tubuh Diana hingga terjerembab diatas ranjang tempat tidurnya.
“Apa yang kau lakukan ? Aku seorang jaksa, aku bisa menuntut mu dan memenjarakan mu atas perbuatan mu ini !” ucap Diana dengan suara meninggi dan itu membuat pria tersebut menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang mengejek pada Diana.
“Aku hanya ingin membuktikan jika aku pria yang normal !” pria itu mengungkung tubuh Diana hingga terjadilah pergulatan panas diantara mereka berdua.
“Kenapa, apa kau menginginkannya ? katakan jika kau ingin berhenti maka aku tidak akan melanjutkannya !”
Tubuh Diana seolah berkhianat pada pikirannya entah mengapa sentuhan yang pria itu berikan benar-benar seolah membuat Diana seperti terbang ke atas awan dan membuatnya tak ingin menyudahinya.
“Diam mu adalah sebuah persetujuan !”
‘aaaahh…’
Pria tersebut adalah….
... ………....