ISTRI KECIL KU "ASHA"

ISTRI KECIL KU "ASHA"
HORMON IBU HAMIL


“Daddy mau apa ?” Asha menatap tajam suaminya yang tiba-tiba mengedus-endus tubuhnya saat mereka sudah kembali ke kamar dan hendak tidur lagi.


“Jangan macam-macam Dad, aku belum memaafkan mu ! Jadi jangan coba-coba untuk menyentuh aku !”


Gleg


Lagi-lagi Rain harus menelan pil pahit kala Asha menolak dirinya. Entah bagaimana nasib juniornya jika terlalu lama tak masuk ke dalam sarangnya.


“Lagi pula aku sedang hamil Dad, oh ayolah Daddy kau lebih tua dari ku mengapa hal semacam itu saja kau tidak tahu.” Omel Asha ia benar-benar tak habis pikir dengan suaminya, saat ia tengah hamil bukankah terlalu beresiko melakukan hubungan intim di trimester pertama kehamilan.


“Daddy bukan Dokter sayang…Daddy hanya tahu cara membuatnya saja !” elak Rain dan itu membuat Asha semakin jengkel padanya.


Bugh


“Aww…” Rain meraba wajahnya setelah dipukul oleh Asha menggunakan bantal guling.


“Apa ?!” sentak Asha yang menatap tajam suaminya yang kini malah seperti kucing yang penurut pada majikannya.


‘mengapa istriku jadi pemarah ? apa karena bawaan calon penerusku ?’ ucap Rain dalam hati.


“Aku tahu apa yang kau bicarakan Dad !” ucap Asha yang sudah merebahkan tubuhnya dan menutup matanya ia mengatakan itu tanpa membuka kedua matanya.


‘Astaga !’


... …………....


Hari berhari terus berlalu, Asha memberikan kabar pada kedua orang tuanya dan kakaknya jika ia tengah mengandung. Mereka tentu saja merasa ikut senang dan bahagia apalagi Kate, mertua Asha tersebut begitu bahagia kala mendengar Asha tengah hamil.


Kate benar-benar menjaga Asha mulai dari makanannya dan kebutuhan lainnya untuk menantu kesayangannya tersebut.


Lain halnya dengan Rain pria berusia 34 tahun tersebut nampak bahagia sekaligus frustasi karena perubahan mood yang dialami oleh istrinya. Kadang Asha bersikap manja padanya lalu dengan sekejab Asha akan berubah menjadi pemarah.


Salah satunya pada saat ini, Rain diminta oleh Asha untuk membelikannya cake keju begitu Rain membawakannya sepulang dari kantor ternyata Asha marah padanya karena menganggap Rain salah membelikan pesanan untuknya.


“Bukan kah kau yang meminta dibelikan rasa keju, Sayang ?” tanya Rain dengan lembut.


“Kata siapa ? Aku minta dibelikan yang cokelat bukan yang keju !” balas Asha karena ia merasa tidak pernah meminta dibelikan kue rasa keju, melainkan rasa cokelat.


Duar


Rain terperanjat kaget mendengar ucapan istrinya, sejak kapan Asha meminta kue rasa cokelat ? padahal sudah jelas-jelas di telepon tadi siang ia bicara meminta kue rasa keju.


“Aku tidak mau ini !” Asha mendorong kue yang ada di meja makan menjauh darinya seolah ia benar-benar enggan memakannya.


“Sayang…Daddy harus mengantri selama…” ucapan Rain terputus saat Asha pergi meninggalkan dirinya dan membuat Rain mengusap kasar wajahnya saat ia tak didengarkan oleh Asha.


“Astaga..!”


“Hormon Ibu hamil memang seperti itu Rain, kau harus sabar menghadapi istri mu, dia seperti itu juga bukan karena kemauannya tapi karena kemauan calon bayi mu !” ucap Kate yang tiba-tiba datang menghapiri Rain.


Kate tidak sengaja mendengar perdebatan diantara Asha dan Rain, ia hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum karena memang Asha sedang dalam fase mengidam dan banyak kemauan yang harus dituruti karena seperti itulah namanya ibu hamil.


“Aku mengantri membeli kue ini selama dua jam, Mom. Dan Asha tidak mau memakannya sama sekali ! Apa anak kun anti lahir akan memiliki sifat banyak mau nya ?” tanya Rain meluapkan apa yang ia rasakan pada Mommy nya.


“Iya dan seperti dia akan sama seperti dirimu, banyak kemauan !” jawab Kate dengan santainya sembari mengupas kulit apel.


“Mommy..” ucap Rain tak terima dengan jawaban Mommy nya barusan.


“Kau itu calon Ayah nya tentu saja anak mu nantinya akan mewarisi sifat Ayah dan Ibu nya !” omel Kate pada Rain ia merasa kesal dengan putranya.


Rain mengusap kasar wajahnya lagi-lagi ia mendapatkan omelan dari Mommy nya, belum selesai ia diomeli oleh istrinya kini ditambah oleh Mommy nya, benar-benar Rain sungguh kasihan dirimu !


... ……....