
Sudah satu minggu berlalu sejak pertengkaran yang terjadi diantara sepasang suami istri tersebut. Tak ada perubahan diantara hubungan mereka. Marcus harus berusaha untuk memenangkan hati istrinya kembali sedangkan Rose selalu jual mahal pada suaminya padahal ia pun sangat merindukan suaminya.
Hari ini Marcus buru-buru pergi ke rumah sakit karena pasiennya harus segera ia beri tindakan operasi. Rose melihat suaminya tersebut ia seolah seperti cuek pada suaminya padahal ia ingin sekali bertanya pada suaminya.
“Daddy harus pergi sekarang, karena ada pasien yang gawat darurat harus segera di operasi !” Marcus pamit pergi pada istrinya dan tak lupa mengecup kening istri cantiknya tersebut, sedangkan Rose hanya diam tak menanggapi suaminya.
Rose menghela nafasnya, padahal hari ini dirinya ujian skripsi dan ingin suaminya melihatnya, namun sepertinya suaminya disibukkan dengan pekerjaannya. Rose bisa mengerti karena suaminya seorang dokter dan pasien sangat membutuhkan pertolongannya.
Rose melihat mobil suaminya sudah berjalan keluar dari halaman rumah dan menjauh ia lalu masuk lagi ke kamarnya mengganti pakaiannya dan mengambil tasnya ia terus menyemangati dirinya agar dikampus nanti ujiannya berjalan dengan lancar.
...………...
Rose melihat keatas dimana sudah ada dua sahabatnya yang sudah duduk dikursi penonton menyaksikannya ujian hari ini. Ia tersenyum kala dua sahabatnya tersebut melambaikan tangan padanya.
“Fighting Roseline..” ucap Asha dengan pelan.
“Mana suaminya ?” tanya Venus melihat ke kanan dan ke kiri tak ia jumpai suaminya Roseline.
“Memang benar-benar…” Venus geram sekali kala menyadari suami Rose tidak datang, padahal Rose sudah memulai ujiannya.
Venus kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan foto Roseline pada Marcus.
Marcus tak membaca pesan yang dikirimkan oleh Venus karena ia tengah menyelamatkan pasiennya di meja operasi.
Hingga operasi selesai, Marcus keluar dari ruangan operasi dan membuka ponselnya ia membulatkan kedua matanya saat melihat foto dan video yang berdurasi beberapa menit dikirimkan oleh Venus dimana istrinya tengah ujian skripsi hari ini.
“Astaga, aku sampai lupa !” Marcus mengusap kasar wajahnya. Ia melihat jam dipergelangan tangannya sudah menujukkan pukul sebelas, itu artinya mungkin istrinya sudah selesai ujian skripsi.
Namun tak lama ponsel Marcus berbunyi saat Venus mengirimkan lagi video padanya dan membuat Marcus terharu menontonnya.
“Tetaplah sehat agar selalu bisa menjadi pahlawan ku dan pasien mu, Dokter Marcus Anderson. Aku tidak lagi marah padamu, I Love You.”
“Aku juga mencintai mu.” Marcus mencium ponselnya dimana terdapat video istrinya disana.
...……….....
Rose pulang kerumah ia mengernyitkan dahinya saat melihat kondisi rumah dalam keadaan gelap gulita. Saat ia melangkahkan kakinya mencari saklar lampu tiba-tiba ia melihat lilin menyala dengan taburan bunga mawar sepanjang menuju kolam renang.
Rose mengikuti lilin-lilin yang menerangi jalan tersebut hingga pada akhirnya tatapannya tertuju pada sosok tampan suaminya tengah berdiri di pinggir kolam renang dengan telah menyiapkan makan malam romantis disana.
“Surprise !” Marcus menyambut kedatangan istrinya dimana istrinya tersebut seperti orang kebingungan karena kejutan yang ia berikan.
“Selamat, karena sudah selesai ujian, Sayang.” Marcus memeluk istrinya dan mencium kening istri cantiknya tersebut.
“Terimakasih, Sejak kapan menyiapkan ini ?” Rose melihat begitu banyak taburan bunga mawar merah bahkan kolam renang pun penuh dengan kelopak bunga mawar tersebut.
“Mungkin empat jam yang lalu.” Marcus terkekeh karena memang beberapa jam lalu ia sendiri yang menyiapkan kejutan itu untuk istrinya.
“Kenapa kemarin-kemarin tidak romantis seperti ini ?” tanya Rose ia tiba-tiba protes karena ini adalah hal yang romantis yang pertama kali suaminya lakukan untuknya.
Marcus terdiam seharusnya ia bersikap seperti ini pada istrinya, lalu mengapa ia sampai melupakan dirinya jika ia memang pria yang tipikal romantis yang selalu memanjakan wanita, karena dia dulu adalah seorang cassanova.
“Aku lupa jati diriku !”
Dan membuat mulut Rose menganga karena mendengar jawaban dari suaminya.
... …………....