
Pagi harinya Leon dan Diana terbangun dari tidur mereka karena silau cahaya matahari yang menerpa wajah mereka.
Mereka bangun terbangun pukul sepuluh pagi karena semalam melewati malam pengantin yang begitu panas yang tak behenti. Leon melepaskan Diana di waktu empat pagi dan mereka baru tertidur di jam tersebut karena kelelahan.
Leon membangunkan dirinya dengan duduk bersandar di kepala ranjang dan menatap Diana yang masih meringkuk dibalik selimut tebal yang menutup tubuh polos mereka berdua.
Leon lalu menatap lurus ke depan entah keputusannya saat ini benar atau salah bahkan bisa disebut serakah karena ingin memiliki dua wanita sekaligus, Hera dan Diana.
Saat bersama dengan Diana, Leon seakan lupa dengan Hera dan janjinya pada Hera jika ia tak boleh menyentuh Diana dan memberikan nafkah bantinnya. Namun Leon tak dapat menepati janji tersebut, ada perasaan lain ketika ia tengah bersama Diana apalagi saat ia menyentuh Diana.
Seolah Leon tak ingin jauh dari Diana dan ada rasa nyaman yang Leon rasakan pada Diana yang tak dapat ia rasakan dari Hera.
Saat Leon hendak menggerakkan tubuhnya dan turun dari atas ranjang, tiba-tiba tubuh Diana menggeliat ia merasakan sakit di dadanya karena merasa Asi nya sudah penuh. Dan benar saja dada Diana kini sudah membesar dan membengkak bahkan salah satu diantaranya mengeluarkan Asi dengan sendirinya.
Diana memang aktif menyusui itu sebabnya produksi Asinya sangat banyak dan bahkan ia selalu menyetok Asi dikulkas agar Alana selalu bisa meminum susu darinya tepat waktu dan pernah telat.
Melihat Diana yang sedang memegangi dadanya dibalik selimut, Leon mengernyitkan dahinya karena Diana pun merasa kesakitan dengan dadanya.
“Kau kenapa ?” Leon melihat Diana dengan khawatir karena tiba-tiba wajah Diana menjadi pucat.
“Asinya sudah penuh, aku harus mengeluarkannya sedangkan aku lupa membawa pompa Asi ku!” keluh Diana yang tak mau menatap Leon, sebab ia masih malu dengan suaminya tersebut padahal mereka telah melewati malam pengantin bersama dan sama-sama melihat semuanya. Namun tetap saja Diana masih merasa malu.
“Sebentar, biar aku hubungi Andre untuk membawakannya !” Leon kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Andre untuk membelikannya pompa asi.
Beberapa menit ditunggu namun ternyata Andre tak kunjung datang juga karena Andre mengatakan jika ia terjebak macet dijalan, sedangkan Diana semakin kesakitan karena dadanya semakin membengkak.
“Tolong bantu aku !” lirih Diana yang merasa tak tahan lagi dengan rasa sakit di bagian ***********.
“Tolong bantu keluarkan !” pinta Diana ia bahkan mengambil gelas yang ada diatas nakas dan mengeluarkan asinya masuk kedalam gelas tersebut.
“Perah dada ku yang sebelahnya!” titah Diana melemparkan satu gelas lagi pada Leon agar Leon memerah dada Diana yang sebelahnya lagi.
Leon menelan kasar silvanya karena menolong Diana sama saja mengancam nyawanya. Sebab milik Leon tiba-tiba berdiri tegak melihat dada Diana yang semakin besar dan meteskan air susunya.
Bukannya malah memerah dada Diana, Leon malah mendekatkan wajahnya ke sana dan menyedot Asi Diana. Awalnya Diana menolak Leon namun beberapa detik kemudian dada sebelah kirinya tidak merasakan sakit lagi karena bantuan Leon.
Leon menelan Asi Diana ia menyedotnya seperti anak yang kehausan pada Ibunya, padahal semalam pada saat ia menyentuh Diana, dada Diana tak mengeluarkan Asi sama sekali karena sebelunya Diana sudah mengosongkan Asinya degan memompanya dan menyusui Alana.
“Kau merasa lebih baik ?” Leon mengusap dudut bibirnya terdapat air susu dan melihat reaksi Diana yang tidak meringis kesakitan lagi.
Namun Leon melihat sebelah kanan dada Diana lagi yang masih membengkak, ia kemudian mengisapnya ia hanya membantu Diana mengurangi rasa sakitnya dan Diana hanya bisa pasrah saat Leon mengisapnya.
Mulut Diana nyatanya tak bisa dikondisikan saat Leon masih mengisap dadanya, ia mengeluarkan suara yang membuat tubuh Leon semakin menegang padahal ia sudah mati-matian menahan dirinya pada Diana.
‘Aaahhh…’
“Kau memancingku Diana ! Kau harus bertanggung jawab !” ucap Leon dengan suara beratnya.
Diana gelagapan karena ucapan Leon padanya seolah ingin menerkam dirinya. “Ap..apa yang kau inginkan ?”
“Meminta imbalan !” bisik Leon ditelinga Diana hingga membuat tubuh Diana menegang mendapati sentuhan itu dari Leon, tubuhnya seakan tersengat aliran listrik.
Leon kemudian menatap manik mata Diana, tatapan mereka seolah menginginkan satu sama lain. Hingga terjadilah kegiatan seperti tadi malam diantara mereka berdua.
... ……...