
Malam harinya Asha pindah ke kamar dimana ia tempati bersama Rain. Rain yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian merasa terkejut dengan kehadiran istrinya yang tiba-tiba kembali ke kamar mereka.
“Sa..sayang.”
Rain mendekati Asha namun Asha seolah malas untuk melihat suaminya. Ia hanya diam saja dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
Rain semakin bingung kala Asha terus mendiamkannya ini sudah satu hari penuh sejak tadi pagi mereka bertengkar Asha sama sekali tak mau berbicara padanya.
“Sayang, apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkan aku ?” bujuk Rain yang ikut merebahkan diri disamping Asha.
“Sayang, aku akui perbuatan ku salah aku menyesal aku seharusnya tak peduli padanya dan seharusnya aku..” ucapan Rain terpotong saat Asha menyela terlebih dahulu.
“Tidak bodoh !” jawab Asha dengan ketus tanpa membuka kedua matanya.
Gleg
Rain menelan kasar air ludahnya sendiri, dua kata yang diucapkan oleh istrinya tersebut memang pantas ia dapatkan karena andai saja Rain tidak bodoh dan mudah percaya pasti tidak ada pertengkaran dirumah tangga mereka saat ini.
“Sayang...Aku..” Rain kembali mencoba berbicara pada Asha namun sayangnya hal tersebut membuat Asha yang ingin memejamkan matanya untuk tidur menjadi kesal karena Rain terus banyak bicara.
“Sudah diamlah Daddy ! aku ingin tidur !” Asha begitu kesal dengan suaminya hingga Rain diam terpaku setelah dimarahi oleh Asha seolah menurut dengan apa yang dikatakan oleh Asha.
... ……....
Beberapa jam kemudian Asha terbangun dari tidurnya karena merasa ingin memakan sesuatu. Asha tahu jika ia tengah mengalami masa ngidam, Asha ingin sekali makan spagethi ia bangun dan turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamar menuju dapur.
Rain yang menyadari Asha yang tak berada di samping tidurnya ia pun bangun dan turun dari atas tempat tidur mencari keberadaan Asha di kamar mandi dan ruang ganti namun tak ia temui keberadaan istrinya.
Rain yang khawatir kemudian ia keluar dari kamar dan melihat lampu dapur yang menyala. Rain kemudian pergi ke dapar dan melihat istrinya tengah kesulitan mengambil sesuatu di lemari atas dapur.
Rain tersenyum kemudian ia mendekati Asha dan membantu mengambil satu kotak spagethi di dalam lemari tersebut, sontak hal itu membuat Asha terkejut karena ia tak tahu jika suaminya sudah berada dibelakangnya.
“Kau lapar ?” tanya Rain kemudian meletakkan kotak spagethi tersebut di dekat kompor.
Rain kemudian memasakkannya untuk Asha.
“Sejak aku hamil.” Jawab Asha dengan santainya.
Rain menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari istrinya seolah itu adalah hal yang biasa Rain dengar. Namun sedetik kemudian ia membulatkan matanya dan terkejut kala mengulang apa yang dikatakan oleh Asha barusan.
“Apa ?! hamil ?” Rain menoleh ke arah istrinya yang tampak biasa saja mengaduk-aduk spagethi yang sedang direbus.
“Sa..sayang..” ucapan Rain tercekat ia merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut istrinya barusan yang mengatakan istrinya tengah hamil dan itu artinya Rain akan segera menjadi seorang Ayah.
“Sayang..kau hamil ? benarkah ? Aku tidak salah mendengarnya kan ?” tanya Rain memastikan ucapan Asha barusan karena hal tersebut membuat jantung Rain berdetak tak karuan dan membuat hatinya begitu bahagia.
Asha mematikan kompor dan menatap suaminya lekat-lekat. “Apa setelah aku hamil Daddy masih ingin bertemu Maria ?”
Rain menggelengkan kepalanya cepat tentu saja ia tak ingin bertemu dengan wanita itu lagi, ia sudah melupakan Maria dan tak ingin berurusan lagi dengannya untuk hal sekecil apapun.
“Bagus ! jika sampai Daddy melakukannya lagi, aku tidak segan-segan untuk menjauhkan Daddy dengan anak kita !” ancam Asha dengan menekankan kata-katanya hingga membuat Rain diam terpaku dan menelan kasar silvanya.
Gleg
Rain menggendong Asha dan memutar-mutar tubuh mereka karena saking merasa bahagianya. Ia tak menyangka akan menjadi seorang Ayah karena Asha tengah mengandung benihnya.
“Daddy, turunkan aku !” Asha begitu takut saat tubuhnya diputar-putar oleh suaminya.
“Tidak mau !” Rain yang begitu bahagia dan bersemangat seolah melupakan jika apa yang ia lakukan mungkin saja bisa membahayakan janin yang ada di kandungan istrinya.
“Daddy, nanti bayi kita pusing !” bujuk Asha yang kemudian Rain tersadar dengan apa yang ia lakukan. Rain lalu menurunkan Asha dari gendongannya.
Setelah Rain menurunkan Asha tiba-tiba mereka berdua terkejut saat melihat siapa yang tengah berdiri sejak tadi melihat mereka berdua.
“Mommy..Daddy !”
... ………...