
“Tuan, Nyonya Asha sudah menyiapkan sarapan untuk anda.” Ucap kepala pelayan pada Rain yang hendak pergi meninggalkan mansions untuk bertemu dengan Maria.
Rain ingin menemui mantan istrinya yang sudah mengobrak-abrik rumah tangganya dalam sekejab dan membuat perhitungan padanya.
Rain menoleh ke arah meja makan dimana sudah tersaji sarapan untuknya. Jika Rain tidak mencintai dan menghargai apa yang dilakukan untuk Asha mungkin ia sudah pergi begitu saja meninggalkan mansions namun ia tak bisa seperti itu.
Rain kemudian duduk di meja makan dan melahap sarapan yang sudah dimasak oleh istrinya. Setidaknya meskipun Asha marah padanya Asha masih peduli dengannya dan cara Rain menghargai apa yang yang dilakukan Asha padanya salah satunya tetap memakan masakan yang Asha masak untuknya.
Setelah Rain memakan sarapannya ia kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan ke kamar tamu dimana istrinya sudah dua jam tak kunjung keluar dari kamar tersebut.
Hari Rain seperti tersayat sembilu ia bisa mengerti apa yang Asha rasakan di dalam kamar itu, mungkin Asha tengah bersedih karena kecewa padanya.
Rain kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi berjalan keluar dari mansions ia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan menyalakannya lalu pergi menemui Maria diapartemennya.
Sedangkan di dalam kamar Asha menggerutu tiada henti saat melihat mobil Rain berjalan keluar mansions.
“Dasar bodoh ! sudah di bohongi dan di sakiti oleh nenek sirih itu, masih saja menemuinya ! Awas kau Dad…!” Asha merutuki Rain yang menurutnya begitu bodoh.
Saat Asha masih terus menggerutu tiba-tiba ponselnya berbunyi ternyata yang menelponnya adalah Ibu mertuanya, Kate.
“Halo..Mommy.”
“Asha kami akan ke Jerman pagi ini, karena Mommy dan Daddy rindu pada kalian !”
“Ah…Iya Mom ! Kami tunggu kedatangan Mommy !” jawab Asha ia menghembuskan nafasnya pelan.
Setelah berbincang-bincang keduanya kemudian mematikan panggilan tersebut. Asha terdiam dan menatap langit-langit kamar ia bingung apa yang harus ia lakukan ketika mertuanya akan kembali ke Jerman. Sedangkan ia dan Rain sedang bertengkar seperti ini.
... ...……....
“Apa yang kau lakukan, hah !” Rain membanting vas bunga hingga pecah ke lantai di hadapan Maria hingga Maria begitu ketakutan melihat amarah dari mantan suaminya tersebut.
“Memangnya apa yang ku lakukan, Rain ?!” jawab Maria mencoba membela dirinya dengan berbicara sedikit meninggi.
“Mengapa kau menghasut istri ku ?! Apa hak mu untuk ikut campur dalam rumah tangga ku ! Ingat aku peduli padamu hanya karena kau tengah sakit aku hanya kasihan dan iba padamu !”
“Namun ternyata aku salah ! Kau benar-benar wanita pembohong ! Kau berpura-pura sakit !” Rain menekan kan kata-katanya.
Deg
Jantung Maria seolah berhenti berdetak ia kemudian mendekati Maria dan mencekik leher Maria hingga Maria merasa kesakitan di lehernya.
Rain kemudian menghempaskan tubuh Maria ke lantai saat Rain sadar jika Maria hampir saja kehilangan nyawanya karena ia mencekik leher Maria.
“Uhuk..uhuk..” Maria terbatuk-batuk ia memegangi lehernya yang begitu sakit karena dicekik oleh Rain, Maria tak menyangka jika Rain bisa berbuat kasar padanya dan hampir membunuhnya.
Rain mencengkram pipi Maria dan menatap tajam manik mata Maria. Hingga Maria tak bisa berkutik sama sekali.
“Jika saja aku tak mengingat kau adalah mantan istriku sudah ku pastikan kau mati di tanganku ! Jangan pernah bermain-main dengan ku, Maria. Apa kau lupa siapa aku ? Aku bahkan bisa saja mengirim mu ke tempat paling terkutuk yang tak bisa kau bayangkan dalam hidup mu !”
Rain menghempaskan pipi Maria hingga Maria merasakan sakit di pipinya. Setelah Rain mengatakan itu Rain pergi meninggalkan Maria yang meraung memanggil namanya, Rain tak peduli lagi karena ia tak ingin berurusan lagi dengan mantan istrinya, Maria.
... ………....