
Leon menarik tangan Diana masuk ke dalam lift khusus CEO yang tentu adalah lift khusus miliknya. Leon kemudian menekan tombol menutup pintu lift dan menyandarkan Diana ke dinding dan menatap tajam Diana.
“Apa yang anda lakukan Tuan ?” Diana pura-pura tak mengenal Leon dan menganggap ini adalah kali pertama ia bertemu dengan pria tersebut.
Leon menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman dan menatap remeh Diana, ia berpikir bisa-bisanya Diana sampai melupakan dirinya. Apalagi mereka pernah tidur dan melewati malam panas bersama di Dubai satu tahun lalu.
“Kau tidak mengenal ku ?” Leon menekankan kata-katanya terus menatap manik mata Diana yang Leon tahu Diana berpura-pura tak mengenalnya dan lupa siapa dirinya.
“Tidak Tuan, yang ku tahu anda adalah pemimpin perusahaan ini !” jawab Diana ia mencoba menetralkan ucapannya padahal dalam hatinya ia ingin sekali kabur dari hadapan Leon.
“Kau benar-benar lupa ? Benarkah kau lupa ? Aku bahkan masih mengingatnya sampai sekarang, di setiap detiknya !” Leon dengan suara beratnya dan itu membuat jantung Diana semakin bedegup tak karuan.
Deg
“Aku bahkan mengeluarkannya di dalam tanpa pengaman apapun, apa aku boleh bertanya ? Apakah kau mengandung anak ku ?” cecar Leon dengan pertanyaan karena Leon terus berpikir mungkin saja wanita di hadapannya kini mengandung anaknya, buah dari perbuatan mereka satu tahun lalu.
Mendengar hal itu Diana tak lagi mampu berpura-pura dihadapan Leon. Ia tersenyum mengejek pada Leon dan menjawab pertanyaannya.
“Apa anda habis minum ? Mana mungkin aku mengandung anak anda sedangkan kita hanya melakukannya sekali !” Diana menekankan kata-katanya dan itu membuat Leon terhenyak mendengarnya.
Ting
Lift tiba di lantai paling atas dimana ruangan Leon berada disana. Leon yang masih belum puas bertanya pada Diana ia menekan tombol lift kembali ke lobby.
“Aku serius Diana ! jawab sekali lagi pertanyaan ku, apakah kau mengandung anak ku ?” Leon kembali memastikannya pada Diana karena menurut Leon ia merasa tak percaya dengan jawaban yang diberikan Diana untuknya.
“Apa kau terobsesi ingin punya anak dariku ? Aku masih pemilih dalam mencari seorang Suami yang akan menjadi Ayah untuk anak-anakku kelak !” ejek Diana dan itu membuat Leon geram mendengarnya.
Diana harus berbohong dan menutupi kenyataan jika ia tidak pernah mengandung anak Leon. Karena Diana tidak mau kehilangan putrinya, sebab putrinya adalah satu-satunya penyemangat hidupnya. Sejak ia kehilangan kedua orang tuanya hidupnya begitu kesepian, namun ketika Tuhan memberikan kepercayaan pada dirinya untuk memiliki anak, dengan ikhlas Diana menerimanya dan merawatnya meskipun tanpa bantuan dari seorang pria yang menanam benih di dalam rahimnya.
Leon mengela nafasnya lega karena Diana benar-benar menjawab pertanyaannya seolah tak berbohong sedikit pun, dan Leon mempercayai itu.
“Baiklah, aku minta maaf jika aku sudah bersikap kurang ajar padamu.” Jawab Leon memutus pembicaraan diantara mereka berdua. Saat Leon menundukkan kepalanya meminta maaf pada Diana. Mata Leon tertuju pada pakaian yang dikenakan oleh Diana yang tiba-tiba dibagian dadanya mengeluarkan air dan membuat pakaian yang dikenakan Diana membasah.
Diana tersadar jika Asi nya sudah penuh dan sampai keluar dengan sendirinya. Ia buru-buru menutup bagian dadanya dengan blazer yang ada ditangannya agar tak terlihat oleh Leon, padahal Leon terlebih dulu sudah melihatnya.
Saat Leon hendak bertanya lagi pada Diana, tiba-tiba lift terbuka dan menampilkan sosok Hera yang sudah berdiri di depan pintu lift dimana Leon dan Diana saling menatap Hera.
Melihat Leon yang masih menatap Hera, Diana menundukkan kepalanya untuk Hera dan segera pergi dari hadapan Leon dan Hera.
Hera yang mengernyit heran mengapa ada orang lain yang berani menggunakan lift khusus CEO dan terlebih Leon ada disana. “Kenapa dia memakai lift ini ?” tanya Hera
“Oh…itu..dia salah masuk lift dan kebetulan lift khusus karyawan penuh, jadi aku mempersilahkan dia ikut bersamaku.” Leon terpaksa berbohong pada Hera karena ia tak ingin Hera mengetahui apa hubungan dirinya dengan Diana dimasa lalu, sebab apa jadinya nanti jika Hera sampai tahu kalau kalau dia pernah tidur dengan Diana.
Sedangkan Hera adalah tipikal wanita yang overprotektif pada pasangannya dan itu adalah Leon dan juga pecemburuan.
“Apa kau sibuk ?” tanya Hera kemudian ia melupakan dan menganggap pertanyaannya barusan pada Leon seperti angin lalu.
“Tidak juga, hanya sedikit pekerjaan mungkin satu sudah selesai !” jawb Leon apa adanya.
Mendengar jawaban Leon, hati Hera bersorak gembira karena ia ingin sekali mengajak Leon untuk pergi ke acara pameran lukisan hari ini.
“Aku akan menunggu mu ! Setelah itu, ayo temani aku ke pameran lukisan !” Hera bergelayut manja di lengan Leon dan Leon hanya bisa pasrah ketika harus menuruti kemauan Hera untuk pergi ke sana ke mari, pahal menurut Leon itu adalah hal yang sangat membosankan.
“Baiklah !”
... ……...