
“Hei kami mendengarnya !” Marcus tak sengaja mendengar gumaman Leon barusan.
Leon mengusap kasar wajahnya namun kemudian ia teringat lagi akan kejadian tadi pagi bersama Diana. “Marcus, aku ingin bertanya !” ucap Leon ragu-ragu.
“Kau ingin bertanya apa ? Jika tentang kesehatan kau harus mentransferku uang, karena biaya konsultasi tidak gratis !” jawab Marcus cepat dan itu membuat Rain yang ada disebelahnya terkekeh mendengarnya.
“Aku transfer nanti, sebutakan saja nominalnya !” jawab Leon dengan remeh sedangkan Marcus tersenyum-senyum setelah mendengar jawaban Leon.
“Jadi apa yang ingin kau tanyakan ? Apa kau merasakan sakit ditubuh mu ?” tanya Marcus ia bertanya serius layaknya memang seorang dokter yang memeriksa pasiennya.
“Bukan aku yang sakit !” jawab Leon dengan santainya.
“Jika kau tidak sakit kenapa kau bertanya padaku !” sunggut Marcus kemudian.
“Anggap saja temanku yang sakit, dan aku penasaran dengan penyakitnya !”
“Oh begitu rupanya, apa yang dirasakan oleh teman mu ?” tanya Marcus lagi
“Dadanya mengeluarkan air !” jawab Leon dan itu membuat Rain dan Marcus melongo.
“Air apa ?” tanya Marcus lagi dan itu membuat Leon kesal karena Marcus bukan memberikan jawaban padanya malah terus menerus bertanya yang sudah pasti Leon tak tahu jawabannya.
“Jika aku tahu air apa aku tidak akan bertanya padamu !” jawab Leon cepat.
“Teman mu laki-laki atau perempuan ?” kali ini Rain yang ikut bertanya, karena ia sendiri merasa penasaran dengan cerita Leon.
“Perempuan !” Leon berkata lirih
“Berarti teman mu sedang menyusui !” jawab Marcus apa adanya, karena apa lagi jawabannya jika bukan karena menyusui. Wanita tidak akan mengeluarkan air apapun di dadanya jika bukan air susu ibu karena sedang menyusui.
“Menyusui ?” ulang Leon
“Iya, wanita yang pernah hamil setelah melahirkan, dadanya akan mengeluarkan air susu yang disebut Asi !” jawab Marcus lagi.
Sejenak Leon terdiam saat Marcus mengatakan itu padanya. Leon kemudian berpikir mungkin kah Diana sudah memiliki anak yang masih membutuhkan Asi nya ?
“Jangan-jangan kau menghamili anak orang ya ? sampai-sampai menanyakan air susu ibu pada Marcus !” tebak Rain dan itu membuat Leon tersadar kemudian ia pamit keluar dari panggilan video call tersebut.
“Aku tutup dulu !” jawab Leon dan itu membuat Marcus dan Rain menatap Leon di layar ponsel seolah seperti orang bodoh.
“Apa dia baik-baik saja ?” ucap Marcus mematikan layar ponselnya berbicara dengan Rain disampingnya.
“Fiks, dia pasti dalam masalah besar !” tebakan Rain ia seolah yakin dengan tebakannya jika Leon mungkin saja menghamili teman wanitanya.
“Ternyata dia lebih bahaya dari kita !” sambung Rain lagi.
“Wanita mana yang ia tiduri ?” tanya Marcus
“Mana aku tahu, kita lihat saja nanti jika benar dia pasti mengundang kita diacara pernikahannya !” jawab Rain
“Kenapa tidak kau angkat ?” tanya Rain saat melihat sahabatnya itu tidak mengangkat panggilan masuk di ponselnya.
“Biarkan saja !” jawab Marcus malas untuk mengangkat panggilan tersebut sedangkan ponselnya terus saja berdering tanpa henti.
“Nanti dia marah dan mengadu pada Mommy mu !” Rain berdiri dari sofa yang ia duduki dan berjalan ke arah meja kerjanya. “Lagi pula apa susahnya menikah ? Menikah itu enak !” sindir Rain kemudian.
“Ku tidak mencintainya !” Marcus mematikan ponselnya agar ponselnya tak terus berbunyi.
“Ingat umur !” sindir Rain lagi
“Kau sudah pintar menasehatiku semenjak telah menikah dan punya anak !” skak Marcus pada Rain yang membuat Rain mengatupkan bibirnya, karena sudah membuat sahabatnya tersebut merasa kesal.
“Kalau begitu cari saja pengganti calon istri mu, dan bawa dia dihadapan orang tuamu ! bukan kah dua minggu lagi kalian akan menikah ?” terang Rain mencoba memberikan solusi pada Marcus yang enak solusinya tersebut benar atau salah.
“Pengganti ?” Marcus sejenak memikirkannya, lalu ia tersenyum setelah mendapatkan ide yang mampu membuatnya tidak jadi menikah dengan wanita yang dijodohkan orang tuanya untuknya.
... ……....
“Kau mau kemana, Leon ?” tanya Shinta pada putranya ia melihat putranya menuruni anak tangga dan berpakaian casual seolah hendak pergi keluar rumah.
“Aku ada urusan, Bu !” jawab Leon cepat kemudian ia pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai mobilnya menuju suatu tempat.
Leon mengemudikan mobilnya menuju tempat yang ia ingin kunjungi. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, tibalah Leon di sebuah gadung apartemen dimana itu adalah tempat tinggal Diana.
Leon berjalan menuju unit apartemen yang ditempati oleh Diana. Setelah ia tiba di unit tersebut, Leon menekan bel dan tak lama pintu pun terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya dihadapannya.
“Anda siapa Tuan ?” tanya Mirna yang merupakan pengasuh dari bayi Diana.
“Aku teman Diana Resti ! Bolehkah aku bertemu dengannya ?” sapa Leon tersenyum tipis.
“Sayang sekali, Nyonya Diana sedang keluar. Kemungkinan sebentar lagi akan pulang, jika Tuan ingin menunggu silahkan masuk saja menunggu di dalam.” Mirna mempersilahkan Leon masuk ke dalam apartemen Diana dan tentu saja Leon dengan senang hati masuk ke dalam dan duduk di kursi.
“Sebentar Tuan, saya buatkan minum dulu.” Mirna membuatkan Leon minuman di dapur namun pada saat Mirna sedang membuatkan minum tiba-tiba bayi Diana menangis kencang dikamarnya.
Leon yang mendengar suara tangisan bayi tersebut merasa penasaran dan mengintip Mirna yang sedang menenangkan seorang bayi dikamarnya. Semakin di tenangkan nyatanya bayi tersebut semakin menangis dengan kencang, dan itu membuat Leon jadi tak sabaran, ia pun tanpa permisi masuk ke dalam kamar dan mendekati Mirna yang tengah menggendong bayi tersebut.
“Berikan padaku, siapa tahu dia akan berhenti menangis !" Leon meminta Mirna untuk memberikan bayi itu padanya. dan Mirna kemudian memberikannya dengan harapan Leon bisa menenangkannya.
Saat berada di gendongan Leon bayi itu berhenti menangis dan menatap Leon begitupun Leon ia tak henti-hentinya menatap bayi tersebut. Leon kemudian membawa bayi itu keluar kamar dan pada saat ia tengah berada di depan pintu kamar, ternyata Diana sudah kembali ke apartemen dengan mambawa dua kantong diapers bayi.
Diana menjatuhkan dua kantong ditangannya tersebut karena merasa terkejut melihat kehadiran Leon di apartemennya. dan lebih membuatnya terkejut lagi adalah saat ia melihat bayinya yang begitu tenang di gendong oleh Leon.
Leon menatap tajam Diana, ia merasa Diana telah membohongi dirinya jika Diana tidak memiliki anak darinya. Diana yang mengerti tatapan tajam Leon tersebut ia mencoba setenang mungkin untuk tidak terbawa perasaan, karena jika saja ia menunjukkan sikap lemah dihadapan Leon, pasti Leon akan membawa anaknya pergi dan memisahkan dia dengan anaknya.
Leon…
... ……....