
“Daddy !” pekik Asha saat tubuhnya di kungkung oleh Rain di dinding tembok.
“Why, apa kau terkejut sayang ?” bisik Rain tanpa rasa bersalah karena sudah membuat Asha terkejut dengan kelakuannya.
“Daddy membuatku terkejut sekaligus takut !” sunggut Asha karena merasa kesal dengan perbuatan suaminya.
“Kau dari mana hem…?” Rain membelai wajah Asha kemudian membawa tubuh Asha dengan menggendongnya seperti koala duduk di pinggir ranjang mereka.
“Aku membuat sarapan, ayo kita turun !” ajak Asha dengan lembut tanpa menatap wajah suaminya, entah mengapa ia terlalu malas untuk melihat wajah suaminya bukan karena pengaruh hormone kehamilannya, tapi karena ada banyak pertanyaan yang ingin Asha tanyakan padanya namun tak dapat ia utarakan karena terhalang sesuatu.
“Aku ingin sarapan yang lain, Baby !” bisik Rain ditelinga Asha dan menggigit lehernya hingga membuat tanda merah disana.
Asha menjauhkan tubuh subuh suaminya dan itu membuat Rain terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Asha, karena untuk pertama kalinya Asha menolak dirinya.
“Kenapa ?” tanya Rain dengan lembut, ia masih bisa menahan dirinya kala Asha menolaknya meskipun ia merasa kecewa.
“Ak..aku lelah Daddy !” Asha tertunduk tak berani menatap wajah Rain, mati-matian Asha menahan dirinya untuk tak mengeluarkan banyak sekali pertanyaan untuk Rain dan memendam perasaan yang begitu gelisah pada Rain.
Namun saat Rain ingin meminta haknya Asha tak dapat melakukan itu, ia tak bisa melaksanakan kewajibannya.
Rain menoleh pada Asha seolah Rain mengerti ada yang disembunyikan oleh istrinya tersebut padanya. Rain tahu Asha menyembunyikan sesuatu padanya.
“Kau kenapa, Sayang ?” Rain meraba kening Asha mengecek suhu tubuh istrinya namun tak ada yang salah dari tubuh Asha semuanya biasa-biasa saja.
“Daddy yang kenapa ?” Asha menatap manik mata milik suaminya hingga tatapan mereka saling mengunci satu sama lain.
Deg
Jantung Rain seakan berhenti berdetak, Rain tak tahu apa yang harus ia katakana pada istrinya tersebut. Rain juga bingung dari mana istrinya tahu ia menemui Maria.
“Jawab Daddy !” mata Asha berkaca-kaca menatap suaminya, karena sedari tadi ia bertanya Rain hanya diam tak menjawab pertanyaannya.
“Apa sebegitu nyamannya Daddy bersama Dia, hingga Daddy tidak kunjung keluar dari apartemennya ?”
Deg
Lagi-lagi Rain seolah diam terpaku lidahnya seolah terasa kelu tak mampu mengucapkan jawaban atas pertanyaan dari istrinya. Rain tak menyangka jika Asha mengetahui dirinya kemarin menemui Maria di apartemennya.
“Sa..sayang..” ucap Rain terbata-bata.
Asha meluapkan apa yang ia rasakan sejak kemarin pada Rain. Sejak kemarin setelah ia mendengar langsung penjelasan dari Leon hati Asha seolah ditikam ribuan jarum, ternyata suaminya masih begitu peduli pada mantan istrinya yang jelas-jelas sudah menyakiti Rain.
Namun begitu mendengarkan penjelasan Leon yang menerangkan jika Maria berbohong dengan penyakitnya, Asha sedikit lega mendengarnya. Asha berpikir mungkin kah Maria mencoba menjebak Rain agar kembali padanya.
“Ku kira aku bisa memberikan kejutan untuk Daddy kemarin siang, ternyata malah aku yang dibuat terkejut !” Asha menepis tangan Rain yang hendang menggenggam tangannya ia menatap tajam Rain agar Rain tahu jika Asha tengah kecewa dan marah padanya.
Rain seolah mati kutu tak tahu harus berbuat apa karena ini adalah kali pertama Asha merasa kecewa padanya.
Padahal sebenarnya…