
Rose memasak sarapan pagi di dapur,setelah ia menyiapkannya di atas meja. Ia kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian, karena ia memiliki jadwal kuliah pagi.
Setelah Rose berganti pakaian dan siap. Ia kemudian keluar dari kamarnya yang ternyata berpapasan dengan Marcus.
Marcus buru-buru pergi ke rumah sakit karena ada sesuatu yang penting yang harus ia kerjakan.
“Kau tidak ingin sarapan ?” tanya Rose yang melihat Marcus buru-buru menuruni anak tangga.
“Ada yang lebih penting dari pada sarapan !” jawab Marcus cepat karena memang ia harus segera pergi.
“Percuma saja aku memasak ! Tahu begini aku tidak usah masak saja !” sunggut Rose yang ternyata di dengar oleh Marcus.
“Siapa juga yang menyuruh mu masak ?” ucapan Marcus ternyata membuat Rose semakin kesal karena merasa tak dihargai.
“Kemana sepatu ku ?” tanya Marcus yang kebingungan mencari sepatunya di rak.
“Sudah ku cuci !” Rose menunjukkan jarinya ke halaman belakang dimana sepatunya tengah di jemur.
“Apa kau selalu sebersih ini ? Itu baru satu hari dipakai !” ucap Marcus tak terima jika sepatunya sudah dicuci karena ia harus memakainya hari ini.
“Bagiku pakaian yang sudah dipakai walaupun baru sehari baik itu sepatu sekali pun pasti sudah bau, dan haru segera di bersihkan !” jawab Rose
Marcus mengusap kasar wajahnya semakin hari rumahnya memang semakin terurus dan itu berkat Rose, tapi setidaknya Rose bisa mengerti situasinya.
“Kalau kau mau kau bisa memakai sepatu ku !” ucap Rose dengan santainya.
“Apa kau gila ? Aku harus memakai sepatu wanita ?” Marcus kemudian memakai sepatunya yang lain.
“Lain kali kau harus membeli sepatu olahraga lagi jangan hanya satu tapi tiga sekalian !” omel Rose
“Berisik !” Marcus keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya dan pergi menuju rumah sakit meninggalkan Rose yang sudah pasti bersunggut di dalam rumah.
... ……...
“Kau ini jorok sekali ! Jika ingin merokok pergilah ke luar. Percuma punya asbak rokok jika abunya bertebaran dimana-mana !” omel Rose sambil memberishkan abu rokok yang ada di lantai bawah kursi.
Sedangkan Marcus yang sedari tadi sedang menonton televisi sambil memakan kacang kulit buru-buru menutup telinganya dengan kapas.
Rose semakin geram saat Marcus tertawa dan melempar kulit kacang yang tak masuk ke dalam kotak sampah sehingga kulit kacangnya bertebaran dimana-mana.
“Kau ini seorang Dokter tapi sayangnya pemalas bin jorok !” maki Rose yang ternyata tak di dengar oleh Marcus.
“Hei Dokter cabul !” teriak Rose kemudian melepas sumpalan ditelinga Marcus hingga telinga Marcus berdenging.
“Astaga ! Gendang telinga ku bisa rusak jika kau teriak-teriak !” sentak Marcus dan itu membuat Rose semakin kesal padanya.
“Dasar Dokter cabul !” maki Rose yang membuat Marcus tak terima.
“Kau..!” Marcus menunjukkan jarinya pada Rose, bukannya takut Rose malah menantang Marcus dengan berkacak pinggang padanya.
“Kata siapa aku Dokter cabul ?” tanya Marcus cepat
“Suami Asha yang bilang ! Kau itu seorang pemain, astaga aku tak menyangka jika menikah dengan pria penikmat lubang !” oceh Rose yang membuat Marcus membulatkan kedua matanya.
“Aku sudah tobat !” jawab Marcus dengan santainya.
“Tobat ?” Rose tertawa mendengarnya
“Hal yang seperti itu mana ada tobatnya !” ejek Rose yang kini mendudukkan dirinya di sofa dan mengganti tayangan televisi yang ia sukai.
“Aku serius !” Marcus menatap Rose yang tak menatapnya.
“Aku tak percaya ! lagi pula apa urusannya dengan ku !” Rose masih memperhatikan drama korea yang ia sukai yang ternyata pemeran utamanya akan menyatakan cinta pada seorang wanita.
“Tentu ada ! Karena aku mencintai mu !” ucap Marcus pelan
“Ya, aku juga mencintai mu !” jawab Rose ia bukannya membalas ucapan Marcus tapi sedang mengharapkan peran wanita di drama tersebut menjawab ucapan pemeran utamanya seperti yang Rose inginkan.
“Benarkah ?” Mata Marcus berbinar dan tersenyum bahagia.
“Apanya ?” Rose menoleh ke arah Marcus dimana ia menatap aneh pada suaminya tersebut. Hingga mereka saling bertatapan satu sama lain.
Cup
Rose membulatkan kedua matanya saat Marcus mengecup bibirnya.
... …………...