
Leon tertunduk malu pada dirinya sendiri, seharusnya ia tak menyia-nyiakan wanita sebaik Diana.
“Aku pernah teringat pesan dari Ibu ku, bahwa anak-anak yang melakukan kesalahan bukan serta merta karena ia salah. Tapi mungkin karena sebuah keterpaksaan yang memaksanya untuk memilih jalan yang salah. Dan seharusnya sebagai orang tua, kita bisa memahami bagaimana perasaan anak.” Diana memberikan pengertian pada Ayah mertuanya.
Richard terduduk di kursi samping ranjang Alana, Richard sejenak terbayang akan masa lalunya. Dulu ia juga pernah menghianati Shinta, dengan menikah lagi dengan wanita lain yang tak lain adalah sekretarisnya sendiri. Namun ia kemudian ia menceraikannya karena takut kehilangan wanita sebaik Shinta hanya demi kesenangan hati yang bersifat sementara.
Ia kemudian terbayang akan hal itu, mungkin kah itu adalah teguran untuknya karena dulu ia pernah berdosa dengan menyakiti hati Shinta. Mungkinkah ini adalah sebuah Karma untuknya.
“Ayah….aku sudah mengikhlaskan jika aku harus berbagi suami dengan wanita lain, aku hanya wanita yang melahirkan anak Leon bukan wanita yang dicintai olehnya.”
“Apakah kita bisa memaksakan kehendak seseorang ? Tidak Ayah ! Dan aku bisa melihat itu dari Leon, meski dia mengecewakan aku, tapi tetap saja dia adalah Ayah dari anak ku, Alana.” Sambung Diana kemudian.
“Diana…” kali ini Leon yang membuka suara, ia merasa tersentuh dengan apa yang diucapkan oleh Diana pada Ayahnya. Ia menyesal sungguh ia sangat menyesal seharusnya ia dapat memperjuangkan Diana sebagai istrinya.
Leon baru sadar sekarang, cinta yang ia miliki dengan Hera tak sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan oleh Hera selama ini. Diana rela melewati semua yang terjadi karena kesalahannya bahkan dikecewakan olehnya saat ini, Diana bahkan rela.
Leon menatap Diana lekat, apakah dia sudah jatuh cinta padanya ? seperti yang dikatakan oleh Hera padanya.
‘Kau mencintainya bukan ?!”
“Apa setelah ini kau masih ingin mengecewakan Ayah dan juga istri mu, Diana ?” tanya Richard menatap nanar Leon.
Sebesar apapun rasa kecewanya pada Leon, tapi tetap saja Leon adalah putranya darah dagingnya sendiri. Apakah ia mampu memupuk kebencian dan kekecewaan yang berlarut pada putranya tersebut ? Tidak, sekuat apapun Richard bertahan dengan egonya ia tak bisa kehilangan Leon. Hanya Leon putranya, dan hanya Leon yang nantinya akan menjaganya hingga ia menutup mata. Sebab siapa lagi yang akan merawatnya kini dan nanti saat ia sudah tak gagah lagi.
Richard merasa bersalah karena telah mengusir Leon dan tak mengakuinya sebagai seorang anak.
“Aku akan memperbaiki diri ku, Ayah ! Maafkan aku !” Leon berlutut di kaki Ayahnya memohon ampun pada Ayahnya.
“Apa kau tidak ingin memeluk Ayah mu ? Ayah sangat merindukan mu !” Richard menitihkan air matanya menatap Leon.
Leon menatap Ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca lalu ia tersenyum tipis dan memeluk Ayahnya hingga tak sadar air matanya sudah jatuh di pelupuk matanya.
Diana yang menyaksikan hubungan antara Ayah dan Anak yang kembali berdamai tersebut merasa terharu dan ikut bahagia ia bahkan menitihkan air matanya dan menghapus air matanya.
‘Setidaknya Alana bisa dekat dengan mu Leon, karena Alana sangat membutuhkan mu. Tak apa jika aku harus merasakan luka, asal Alana bahagia.’
... …….....