
Leon menatap gundukan tanah merah yang masih basah bertaburkan bunga. Ibunya benar-benar telah berpulang ke pangkuan-Nya. Leon terus menatap pusara Ibunya dengan penuh rasa duka mendalam, dunianya seakan hancur dalam sekejab.
Lagi-lagi tatapan matanya terus saja bersibobrok dengan Diana. Leon tahu dibalik duka yang mendalam ini ada dia yang paling tersiksa dan tersakiti. Ia sudah menghancurkan hati wanita itu, yang tak memiliki kesalahan sama sekali.
“Sayang ayo kita pulang !” Ajak Hera pada Leon yang masih saja diam berdiri menyaksikan pusara Ibu nya, bukan tentang hal itu saja. Hera tak suka jika Leon sedari tadi melihat Diana.
Namun bukannya menjawab ucapan Hera, Leon malah mendekat ke arah Diana dan Hera hanya bisa menatap kesal Leon dengan mengepalkan kedua tangannya.
“Tolong jaga Ayah ku, dia memiliki penyakit lambung, tolong jaga pola makannya dan maafkan aku sekali lagi maafkan aku.” Leon tertunduk dihadapan Diana dan kembali meneteskan air matanya.
Diana tetap kuat dan tegar saat berhadapan dengan Leon. Ia bahkan hanya bisa mengiyakan permintaan Leon dengan menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi hatinya semakin berdenyut nyeri saat Hera mendekat dan merangkul tangan Leon dan membawa Leon pergi.
‘Apakah seperti ini rasanya menjadi istri yang dimadu ?’ batin Diana menatap Hera dan Leon yang telah masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan pemakaman.
... ………...
Satu bulan berlalu,
Semenjak kepergian Shinta, Richard benar-benar serius dengan ucapannya pada Leon. Richard menarik fasilitas yang dipakai oleh Leon bahkan Richard menurunkan hak pada Leon sebagai seorang CEO.
Hubungan Leon dan Hera semakin hari semakin dingin karena mereka jarang berkomunikasi itu disebabkan oleh kematian Shinta yang membuat Leon menjadi pribadi yang pendiam dan dingin.
Hera yang setiap harinya melihat prilaku Leon yang semakin hari semakin menjadi-jadi mendiamkannya dan masih terus menerus berselimutkan duka ia menjadi kesal sendiri.
“Ibu mu meninggal karena takdir, jadi jangan terus menyalahkan diri mu ! Apa hanya kau sendiri yang merasa hampa ? Aku juga merasakannya !” ucap Hera dengan suara meninggi.
“Lantas apa yang kau inginkan ? kau sudah mendapatkan ku bukan ? Aku sudah kehilangan semuanya, Ibuku, status keluarga sebagai seorang anak, jabatan sebagai seorang CEO dan yang lebih penting aku kehilangan hak atas anak ku, Alana !” balas Leon dengan suara beratnya.
“Kau membicarakan tentang anak, padahal aku sendiri istri mu yang tidak pernah kau sentuh semenjak kita menikah ! kau bisa memiliki anak dari ku, tidak hanya dengan wanita sialan itu !” jawab Hera semakin geram.
“Dia punya nama, Diana namanya !” Leon menatap tajam Hera yang semakin hari terus saja menyalahkan Diana dan membencinya.
“Oh kau membela dia, sekarang ? Hah ! Apa kau membelanya karena ingin mendekatinya lagi dan mengambil hati Ayah mu dengan begitu kau bisa mendapatkan posisi mu lagi sebagai seorang CEO ?!” tekan Hera yang membuat Leon semakin muak mendengarnya karena ucapan Hera seolah menginjak harga dirinya.
“Tutup mulut mu, Hera !” bentak Leon, namun bukannya takut Hera semakin melawan.
“Apa hah ? ku pikir dengan kematian Ibu mu hidup kita akan lebih bahagia karena tidak ada lagi penghalang diantara kita hanya karena seorang cucu ! Tapi nyatanya apa ? mati atau tidaknya sama saja !” jawab Hera dengan sinis dan itu memantik kemarahan Leon semakin mencuat.
Leon mengangkat tangannya karena merasa geram dengan pekataan Hera padanya. Namun Leon sadar ia kemudian menurunkan tangannya yang hendak menampar Hera.
“Apa ? Kau mau mau menampar ku ? tampar aku, kau mau memukul ku hanya demi Diana ! Ini semua karena Diana ! aku akan membuat perhitungan dengannya !”
jawab Hera lagi dengan nafas yang naik turun meluapkan emosinya. Ia kemudian pergi meninggalkan Leon dan masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu kamar meninggalkan Leon yang hanya diam mematung merenungkan kesalahannya.
Brak
... ………….. ...