ISTRI KECIL KU "ASHA"

ISTRI KECIL KU "ASHA"
NGEGAME


“Terimakasih.” Rain mengecup bibir Asha setelah mereka bercinta dengan hebatnya barusan. Sedangkan Asha mengerucutkan bibirnya merasa kesal dengan apa mereka lakukan barusan. Asha benar-benar harus melayani Rain tanpa henti sampai Rain mendapatkan pelepasannya.


“Jangan cemberut, apa mau Daddy makan lagi ?” Rain terkekeh melihat raut wajah Asha yang mungkin kesal padanya.


Dengan cepat Asha menggelengkan kepalanya pada Rain. Karena ia benar-benar lelah akibat perbuatan suaminya padanya. Hingga tiba-tiba terdengar suara aneh diantara mereka berdua yang menandakan mereka tengah lapar.


Mereka tertawa lepas berdua setelah mendengar suara perut tersebut. Rain kemudian menghidupkan mobilnya dan menuju tempat yang seharusnya ia tuju bersama Asha.


...……....


‘Rain, aku butuh pertolongan mu’


Tulis Maria pada pesannya untuk Rain, Maria mendapatkan nomor ponsel Rain dengan susah payah karena nomor ponsel Rain bersifat pribadi tidak ada yang tahu kecuali kedua orang tuanya, adiknya dan Asha.


“Dari mana dia mendapatkan nomor ku ?” Rain mengernyit heran karena ia tak pernah memberikan nomor ponselnya dengan orang lain.


Tak lama Maria mengirimkan fotonya sedang terbaring lemah di rumah sakit dengan jarum infus yang melekat di tangannya. Sebenarnya itu adalah foto lama dimana ia pernah jatuh sakit, Maria benar-benar menipu Rain dengan mengambil simpatinya agar Rain iba padanya.


Rain diam tanpa ekspresi ketika melihat foto Maria, ia sebenarnya tak peduli dengan apa yang terjadi dengan Maria. Namun entah mengapa ia merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan Maria, bimbang itu lah yang Rain rasakan.


Rain kemudian mematikan ponselnya saat Asha memeluknya dari arah belakang. Dan memasukkan ponselnya di saku celananya.


“Daddy !”


“Ada apa, hem…?” Rain membalikkan tubuhnya menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening Asha.


“Mau bermain game dengan ku ?” ajak Asha karena ia merasa bosan dan ingin mengajak suaminya bermain game bersama.


Rain tersenyum bersama Asha ia merasa seperti kembali ke masa remajanya, dan tentu saja Rain menyetujuinya.


Mereka kemudian bermain game bersama mereka bermain dengan begitu semangat.


“Dad, kau akan kalah dari ku !” Asha sibuk dengan stick gamenya.


“Daddy, apa yang kau lakukan pada ku ?” Asha tak terima Rain terus memberikan perlawanan padanya.


“Yes !” Rain memenangkan permainannya, dan Asha cemberut kesal karena berhasil dikalahkan oleh Rain.


“Mana hadiah nya ?” tanya Rain menoleh pada Asha.


“Hadiah apa ?” Asha menoleh pada Rain merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


“Hadiah jika Daddy berhasil menang ?”


Asha melongo dengan apa yang dikatakan oleh suaminya, sebab ia merasa tak mengatakan apapun sebelum bermain game dengan suaminya.


“Aku tidak menjanjikan apapun, Dad.” Sangkal Asha karena ia baru ingat sebelum ia mengajak Rain bermain game ia berucap akan memberikan hadiah pada suaminya tersebut jika berhasil mengalahkannya.


‘Akan ku beri hadiah jika Daddy berhasil mengalahkan aku !’


Asha menelan kasar silvanya ia bingung harus memberikan hadiah apa pada suaminya itu karena sebenarnya ia hanya asal bicara pada suaminya.


“Sudah ingat, Baby.”


“Daddy mau hadiah apa ? ah…aku ingin membuatkan Daddy dessert, tunggu sebentar.” Saat Asha ingin berdiri dari duduknya diatas karpet bulu tiba-tiba Rain menarik tangannya agar tak pergi darinya.


“Aku ingin hadiah yang lain.” Rain membelai pipi Asha dan bahunya.


“Hadiah yang lain ? Apa ?” Asha menjauhkan wajahnya dari Rain karena jarak wajah mereka cukup dekat.


“Dirimu.”


Deg


...………...