ISTRI KECIL KU "ASHA"

ISTRI KECIL KU "ASHA"
KENAPA DENGAN DADANYA ?


Diana masuk ke dalam toilet dan mempompa Asinya. Setelah Diana mempompanya ia mengutak-atik layar ponselnya untuk mesan ojek online agar mengantarkan Asi yang ia pompa ke apartemennya.


Setelah beberapa saat ojek online yang ia pesan tiba, Diana menyerahkan paperbag yang berisi dua kantong Asi tersebut dan tersenyum lega, lalu kemudian Diana masuk kembali ke ruang kerjanya yang sudah dipersiapkan oleh perusahaan Leon untuk dirinya dan rekan tim kuasa hukum yang akan membantu Leon beberapa bulan mendatang.


“Kau dari mana Diana ?” tanya salah satu temannya bersama Gio.


“Aku dari toilet !” jawab Diana singkat.


“Okey, mari kita mulai pekerjaan kita sekarang !” ucap Gio dan Diana berserta satu temannya yang lain menyambut hal tersebut dengan penuh semangat.


“Semangat !”


... ………....


“Kanapa dadanya basah ?” gumam Leon sambil fokus pada layar di laptopnya mengecek pekerjaannya kembali.


“Kau bilang apa, Leon ?” Hera seperti mendengar sesuatu dari Leon namun ia tak begitu jelas mendengarnya.


Leon kemudian tersadar ia lalu melihat Hera dan kembali beralibi pada kekasihnya tersebut. “Ah..tidak ada apa-apa !”


Beberapa jam kemudian setelah pekerjaan Leon usai, ia pergi menemani Hera melihat pameran lukisan. Bosan, tentu saja Leon sangat bosan karena ia sendiri tak begitu menyukai sebuah karya seni.


“Leon, apa kau tahu makna lukisan ini ?” tanya Hera yang memperhatikan lukisan karya Gustav Klimt tanpa menoleh ke arah Leon.


“Tidak !” jawab Leon apa adanya.


“Namanya The Kiss, pelukisnya tidak pernah menjelaskan siapa tokoh utamanya. Lukisan ini menggambarkan sebuah cinta yang hanya bisa dilihat dan dirasakan oleh orang itu sendiri, dan tokoh utamanya tak ingin rasa cintanya di lihat oleh orang lain karena ia sangat mencintai wanitanya mungkin karena tokoh utamanya tak ingin wanitanya terluka dan tersakiti oleh orang lain yang menyukainya. ”


terang Hera panjang lebar dan Leon kemudian sejenak terpaku pada lukisan itu seolah ia terhipnotis pada lukisan tersebut.


“Sayangnya ini hanya replikanya, lukisan aslinya ada di museum Österreichische Galerie Belvedere di Belvedere, Wina.” Hera tersenyum melihat reaksi Leon yang tiba-tiba terus saja menatap lukisan itu.


“Apa kau baik-baik saja ?” tanya Hera karena ia melihat perubahan sikap Leon yang sejak tadi pagi seolah tengah memikirkan sesuatu.


“Ya, aku baik-baik saja !”


... ………...


Malam harinya Leon mengangkat panggilan video call dari Marcus dan Rain tiba-tiba saja kedua pria itu menelponnya. Meskipun Leon tak lagi di Jerman, tapi mereka masih saling menjaga hubungan baik sampai sekarang.


“Hei, Tuan CEO Leonel Richard. Apa kau belum tidur ? Disana pasti sudah malam sedang disini masih pukul dua siang !” tanya Rain yang saat ini tengah bersama Marcus di kantornya.


“Apa kalian tidak punya kerjaan ?” bukannya menjawab pertanyaan Rain, Leon malah mengajukan pertanyaan lain.


“Dokter cabul ini baru saja memeriksaku !” jawab Rain menunjukkan jadinya pada Marcus dan Marcus hanya mendengus kesal mendengarnya.


“Apa kau sakit ?” tanya Leon kemudian


“Iya, dia sakit karena istrinya hamil lagi !” terang Marcus sehabis memeriksa kodisi kesehatan Rain, yang ternyata Rain mengalami sindrom kehamilan simpatik disebabkan karena Asha yang tengah hamil kembali.


“Hah ?” Leon hanya bisa melongo sebab usia Rasha baru berusia tiga bulan namun ternyata Rasha akan segera memiliki adik.


“Kau jangan meniru dia, Leon. Sudah ku bilang pakai pengaman tapi dia melupakannya !” omel Marcus dan Leon hanya mendengarnya seperti orang bodoh.


“Aku pakai pengaman, tapi di ronde kedua dan ketiga serta yang selanjutnya tidak ku pakai !" jawab Rain dan itu membuat Leon semakin seperti orang bodoh mendengarnya karena hal semacam itu menurut Leon tak perlu dijelaskan padanya, sebab ia sendiri belum menikah walaupun ia tahu cara membuat anak.


“Dasar para pria gila !” gumam Leon melihat Rain dan Marcus masih berada dari layar ponselnya.


... ……....