
“Dad, lebih bagus yang mana warna hitam atau yang putih ?” tanya Asha pada Rain yang bingung memilih pakaian yang akan ia kenakan pergi ke kampus.
Rain melihat kedua pakaian yang ada di tangan istrinya, kedua pakaian itu sama-sama bagus dan Rain yakin Asha akan cocok memakai warna apapun yang melekat ditubuh putih mulusnya.
“Keduanya sama-sama bagus Sayang, warna putih sepertinya cocok untuk kulit putih mu.” Jawab Rain apa adanya.
“Ya sudah aku akan pakai warna biru muda saja !” Asha meletakkan dua pakaian di tangannya di atas meja dan mengambil pakaian bewarna biru muda.
‘hah !’
Rain tercengang mendengarnya tadi istrinya tersebut memintanya untuk memilih warna putih atau hitam lalu kini istrinya itu malah mengambil warna biru.
‘Astaga, sabar Rain…sabar demi anak mu.’
... ……...
“Asha !” pekik Venus dan Rose mereka berdua kemudian menghampiri sahabatnya tersebut. Mereka lalu berpelukan satu sama lain karena sudah lama tidak bertemu disebabkan oleh kesibukan kuliah mereka masing-masing.
“Perut mu sepertinya membuncit ?” Venus mengatakan itu sembari melihat perut Asha yang memang sudah sedikit membuncit karena kadungannya sudah memasuki bulan ke empat.
“Astaga ! kau hamil ya ?” Rose seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat dari sahabatnya tersebut kalau Asha sudah hamil.
“Pasti kau sering digempur oleh suami mu, ya ? Ah…aku jadi tidak sabar untuk menikah.” Ucap Venus dengan santainya dan terkekeh sendiri.
Dan itu membuat Rose dan Asha melongo setelah mendengar ucapan Venus.
“Buat apa menikah jika kau sudah sering kawin !” ledek Rose yang tahu betul seperti apa sahabatnya itu.
“Jadi kau masih berpacaran dengan Johan ?” tanya Asha karena setahu Asha, sahabatnya itu berpacaran dengan Johan dan sudah bukan rahasia umum lagi bagi Rose dan Asha mengenai cara berpacaran sahabatnya itu sudah seperti suami istri saking lengketnya hubungan mereka.
“Heem…katanya dia mau mengajak ku menikah !” terang Venus kemudian.
“Itu jauh lebih baik, Ven.” Jawab Asha
... …….....
“Sayang kau dimana ?” tanya Rain di seberang teleponnya pada Asha, karena tadi Rain menyuruh anak buahnya untuk menjemput Asha namun tak mereka temui di kampusnya.
“Aku bersama Venus dan Rose, jangan khawatir kan aku Dad, aku akan baik-baik saja.” Jawab Asha dengan jujur saat ini ia tengah berbelanja dengan kedua sahabatnya tersebut di sebuah mall.
“Tapi sayang kau sendang hamil…” ucapan Rain terputus saat Asha memotongnya terlebih dahulu.
“Aku akan baik-baik saja Dad, aku hanya ingin berbelanja dengan mereka. Okey, aku tutup telponnya, bye !” Asha mematikan ponselnya dan kembali bergabung bersama kedua sahabatnya yang sibuk memilih-milih pakaian.
Sedangkan Rain mengusap layar ponselnya setelah Asha menutup panggilannya.
‘Sabar Rain…sabar... biarkan istrimu menikmati harinya dengan para sahabatnya.’
“Suami yang sabar hadiahnya adalah surga !” ucap Rain berbicara sendiri.
“Ayo kita beli tas !” Ajak Asha setelah membayar total belanjaannya dan juga kedua sahabatnya.
Venus dan Rose menjadi tak enak hati saat Asha membayari semua belanjaan mereka berdua, karena beginilah jika Asha sudah mengajaknya Venus dan Rose untuk berbelanja pasti belanjaan mereka akan dibayar oleh Asha.
“Tapi ini sudah lebih dari cukup, Asha.” Tolak Rose dengan halus ia menjadi tak enak jika Asha akan membayari dirinya dan Venus lagi membeli sebuah tas.
“Aku ingin menghabiskan uang suami ku, karena dia selalu membuatku kesal !” Ajak Asha menggamit lengan kedua sahabatnya untuk menuju toko tas bermerek terkenal di dalam mall tersebut, yaitu hermes.
Faktanya mau dihabiskan seberapa banyak pun uang Rain De Costa tidak akan pernah ada habisnya karena ia adalah orang terkaya dengan status pembisnis nomor satu di dunia.
...……….. ...
A : Thor yang bener aja Rain si pengusaha no 1 di dunia, terlalu halu gak ?
Author : biarin…biar makin halu dah..siapa tahu nanti dapet suami kaya seperti Rain..ckckck