HOT AFFAIR AT JUST ONE NIGHT

HOT AFFAIR AT JUST ONE NIGHT
Bab 46


Lesca Thor 46


Gadis kecil itu jatuh dan tampaknya lututnya terluka.


Thor langsung meminggirkan motornya dan turun dari motornya.


Pria itu menghampiri gadis kecil yang masih berlutut di atas jalan itu.


"Kau tak apa?" tanya Thor membantu gadis itu berdiri.


"Aku tak apa -apa. Maaf, aku yang salah," sahut gadis cantik itu.


"Di mana orang tuamu?" tanya Thor.


"Ssstt ... Jangan keras - keras, nanti nenek dan mommy akan memarahiku kalau sampai tahu aku menyeberang jalan," sahut gadis itu berbisik.


Thor melihat mata unik gadis itu dari balik kacamata hitamnya.


Mata unik yang mengingatkannya pada sang nenek buyut.


Lalu gadis itu kembali ke trotoar dan berlari ke arah toko serba ada yang kemungkinan ada orang tuanya di sana.


Thor masih melihat ke arah gadis itu yang kini sudah jauh darinya.


Gadis itu digandeng oleh seorang pria tua dan masuk ke dalam toko besar itu.


"Huufftt ... Untung saja," gumamnya.


Lalu Thor kembali mengendarai motornya dan mencari hotel di dekat sana karena dia ingin istirahat.


Tubuhnya sangat lelah setelah mengendarai sepeda motor selama dua jam dengan kecepatan tinggi.


*


*


"Given, kau ke mana saja?" tanya Lesca ketika baru melihat sang putri cantiknya baru saja masuk pintu masuk supermarket itu.


"Aku melihat - lihat di luar saja, Mom. Aku bersama kakek. Ya kan, Kek?" sahut Given.


"Kakek juga mencarimu tadi," sahut Lesca dan melihat lutut Given yang sedikit tergores.


"Ya Tuhan, kau terjatuh tadi?" tanya Lesca berlutut dan melihat lutut Given yang sedikit berdarah.


"Ini tak sakit, Mom," sahut Given.


"Dia tak apa - apa, Sayang," kata Franklin akhirnya.


"Dia seorang gadis, Dad. Tapi kelakuannya seperti anak laki - laki," sahut Lesca yang kemudian menggendong Given ke arah kursi sebuah cafetaria yang ada di dalam supermarket itu.


"Seperti mommy, right? Kakek pernah bercerita padaku," ucap Given.


Lesca menggelengkan kepalanya dan mencium pipi gadis cantiknya itu.


"Mom, bolehkah aku memukul teman kelasku yang baru?" tanya gadis berusia lima tahun itu.


"Oh God ... Tentu saja itu tak boleh, Honey," kata Lesca.


"Mommy tak keren," sahut Given.


"Bertemanlah dengan baik di kelas. Jika ada yang mengganggumu, bilang pada mommy," jawab Lesca.


"Apakah mommy akan menyuntik anak nakal yang menggangguku?" tanya Given.


"Ya," sahut Lesca sembari mengambil obat dari tangan Natasha yang baru saja datang ke meja mereka.


Lalu Lesca memberi obat itu ke lutut Given dan menempelnya dengan plester bergambar singa dan gajah.


"Kita pulang atau kau masih ingin berkeliling?" tanya Lesca pada Given.


"Aku ingin berkeliling di taman itu, Mom," jawab Given sembari menunjuk ke arah taman di seberang supermarket itu.


"Kau mau es krim, Sayang?" tanya Franklin.


"MAUUU!!" teriak Given dengan sumringah.


Natasha tersenyum lalu menggandeng tangan cucu cantiknya itu dan berjalan keluar dari supermarket.


"Aku akan membawa barang- barang belanjaan kita ke mobil terlebih dulu, Dad. Nanti aku akan menyusul ke taman," kata Lesca.


"Baiklah, Sayang," sahut Franklin dan memegang tangan kiri Given.


Lesca tersenyum melihat sang putri yang tampaknya sudah lumayan betah di kota baru ini.


Lesca berjalan menuju mobil dan memasukkan semua barang belanjaannya di dalam bagasi mobilnya.


Setelah itu, Lesca menyusul kedua orang tuanya dan putri semata wayangnya ke taman yang ada di seberang jalan.