HOT AFFAIR AT JUST ONE NIGHT

HOT AFFAIR AT JUST ONE NIGHT
Season 2 - 44


Given 43


Tangan Kenzo menyusuri kaki jenjang Given dengan gerakan sangat perlahan dan itu membuat seluruh Given gemetar.


"F*ck you," bisik Given dengan hanya menggerakkan bibirnya saja.


Kenzo hanya tersenyum miring melihatnya dan menikmati wajah Given yang tampak tersiksa karena sentuhannya.


Kini Kenzo bahkan memijat telapak kaki Given agar kaki nakal itu tak bergerak di area sensitifnya.


Given kembali mengusap tengkuk lehernya yang masih meremang.


Lalu Given menaruh pisau dan garpunya kemudian meletakkan tangannya di paha pria yang ada di sebelahnya itu.


"Kau sudah selesai makan, Tuan?" tanya Given sembari tersenyum palsu.


"Wine - ku belum habis," sahut Kenzo yang kemudian mengambil wine dengan tangan kirinya.


"Aku ingin ke kamar mandi sebentar," kata Richard yang kemudian berdiri dari tempat duduknya.


Setelah Richard pergi, Given menurunkan kakinya dan menyingkirkan tangan Kenzo dari kakinya.


"Kau gila?" tanya Given kesal dengan suara pelan.


"Kau pikir aku bodoh? Kau yang lebih dulu memancingku," sahut Kenzo.


"Dan kau terpancing. I got you," jawab Given.


"Given ... Hei ..." panggil Brenn yang kebetulan baru tiba di restoran itu bersama kekasihnya.


Given dan Kenzo melihat ke arah Brenn dan wanita dengan rambut pirang di sebelahnya.


"Hei, Brenn. Kau di sini juga?" tanya Given dengan senyum manisnya seperti biasa.


Brenn mengangguk dan melihat ke arah Kenzo.


"Selamat malam, Tuan Kenzo," ucap Brenn dengan sopan.


"Malam, Brenn. Lanjutkan acaramu dan jangan mengganggu kami," sahut Kenzo dengan wajah cool nya seperti biasa.


"B-baik, Tuan," sahut Brenn dan mengerlingkan matanya pada Given, tanda bahwa ia akan membiarkan mereka berdua menikmati makan malam ini.


Tak lama kemudian Richard datang dan kembali duduk di kursinya.


"Putraku akan datang sebentar lagi. Tunggulah," ucap Richard pada Given.


"Sekarang?" tanya Given sembari mengangkat satu alisnya.


"Ya, aku mengiriminya pesan singkat tadi dan memberi tahu bahwa aku makan malam bersamaku, jadi dia akan menyusul kemari untuk berkenalan denganmu," jawab Richard.


Kenzo mengerutkan keningnya mendengar hal itu.


"Ah begitu ya. Tapi maaf, aku harus segera pergi sebentar lagi karena masih ada urusan," jawab Given.


"Hanya lima menit saja dia akan sampai. Tunggulah, oke?" sahut Richard.


"Hmmm ... Baiklah, hanya berkenalan saja, bukan? Oke, no problem, aku akan menunggunya," jawab Given tersenyum dan meminum jus buahnya karena Given tak minum wine.


Lalu Kenzo beranjak dari kursinya dan pamit ingin pergi ke toilet. Pria itu tampak mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang ketika berjalan menuju toilet.


*


*


Sepuluh menit kemudian, anak Richard pun datang.


Pemuda itu tampak terpesona melihat mata Given dan sudah lama ingin berkenalan dengan Given tapi tak punya keberanian.


"Hei, aku Ryan," ucap pemuda itu dengan senyum sumringahnya pada Given.


"Hai, senang bertemu denganmu," sahut Given tersenyum.


"Aku yang senang bertemu denganmu. Maaf membuatmu menungguku," kata Ryan.


"Ryan, dia Tuan Kenzo, CEO yang baru," ucap Richard pada sang anak.


Ryan melihat ke arah Kenzo yang menatapnya dengan tanpa ekspresi.


"Hai, Tuan Kenzo. Daddy sudah menceritakan tentang anda padaku. Kita akan sering bertemu nanti," sahut Ryan ramah.


'Pria yang ramah. Inikah tipenya?' batin Kenzo.


Kenzo hanya menyunggingkan senyum tipisnya yang hampir tak terlihat itu.


"Duduklah," ucap Given pada Ryan.


Lalu Ryan pun duduk di sebelah sang ayah dan matanya tak berhenti menatap mata indah Given.


"You're so gorgeous," ucap Ryan dengan mata kagumnya.


"Thank you," sahut Given.


"Maaf, aku harus pergi. Lain kali kita bertemu lagi," kata Given yang sebenarnya tak enak harus langsung meninggalkan makan malam ini.


"Ya, silahkan. Aku justru berterima kasih padamu karena masih mau menunggu kedatanganku. Hati hati di jalan," kata Ryan.


"Ya, baiklah. Bye," sahut Given dan beranjak dari kursinya.


Given melihat ke arah Kenzo dan kemudian pergi dari sana.


Given berjalan keluar dari restoran kemudian menuju ke mobilnya. Lalu keningnya mengerut ketika melihat salah satu ban mobilnya bocor.


"Apa apaan ini?" gumamnya heran.