
Given 58
Sesampainya di rumah sakit, Kenzo langsung ditangani oleh dokter. Bahu Kenzo hanya sedikit retak dan ada luka terbuka di lengan atasnya karena terkena bagian mobil yang tajam.
Kenzo terpaksa di gips karena bahunya sedikit membengkak karena retakan itu. Sedangkan lengannya yang terluka dijahit.
Kenzo tak langsung pulang, melainkan menginap di rumah sakit selama semalam karena Kenzo tak terlalu suka berada di rumah sakit dalam waktu yang lama.
Given akhirnya menemani Kenzo malam itu. Kenzo baru masuk ke dalam kamar perawatan jam 12 malam setelah beberapa macam tindakan medis dilakukan pada tubuhnya yang cidera.
"Apakah aku harus mengabari Uncle Er?" tanya Given.
"Tak perlu, kemarilah, aku ingin dipeluk," sahut Kenzo dengan suara lirih.
"Kau seperti anak balita saja. Tak cocok dengan tubuh besarmu, Ken," jawab Given yang tetap menghampiri pria besar yang ternyata manja itu.
"Bahuku mulai terasa sakit karena biusnya hilang," jawab Ken dengan suara pelan dan Given tahu pasti bahwa bahu Kenzo sangat sakit saat ini.
Lalu Given duduk di tepi ranjang dan memiringkan tubuhnya agar bisa berebah di samping tubuh Kenzo.
"Kau yakin ranjang ini kuat? Aku cukup berat setelah lama hibernasi di apartemen," ucap Given yang membuat Kenzo tertawa pelan.
Setidaknya kehadiran Given sedikit membuat rasa sakitnya berkurang.
"Bagaimana jika perawat di sini marah dengan apa yang kulakukan?" tanya Given.
"Aku akan membeli rumah sakitnya," sahut Kenzo.
Given tertawa kecil dan mulai membenarkan posisinya hingga akhirnya memeluk pinggang Kenzo.
"Perlu kunyanyikan sesuatu untuk membantumu tidur?" tanya Given.
"Tidak, jangan. Aku akan mimpi buruk jika kau bernyanyi," sahut Kenzo yang membuat Given mencebik.
"Jika saja kau tak terluka, aku pasti akan mendorongmu sampai jatuh ke atas lantai yang keras dan dingin itu," ucap Given.
"Kau tadi mencariku?" tanya Given.
"Hmm," sahut Kenzo dengan mata yang tetap tertutup.
"Kau ingin minta maaf, ya kan?" tanya Given.
"Tidak," sahut Kenzo yang membuat Given berdecak kesal.
"Aku ingin menciummu karena aku merindukan bibir cerewetmu itu," kata Kenzo.
"Mengapa kau selalu menyebalkan?" tanya Given sembari mengusap pelan rambut Kenzo.
"Karena hiburan bagiku melihat wajah sebalmu padaku," jawab Kenzo dan membuka matanya.
Kenzo kini menatap lekat netra indah berbeda warna itu.
"Kiss me," ucap Kenzo berbisik.
"Oke, majukan bibirmu seperti ikan. Aku akan menciummu setelah itu," sahut Given dengan keusilannya.
"Aku sedang sakit dan tolong jangan mengerjaiku, Nona Tengil," sahut Kenzo.
"Tidak, jika kau ingin aku menciummu, maka majukan dulu bibirmu beberapa sentimeter lalu aku akan menciummu dengan hot," jawab Given dengan mata usilnya.
Kenzo tak mengikuti kemauan Given, melainkan menggigit bibirnya sendiri untuk menggoda Given lalu mengusap bibirnya dengan lidahnya sendiri.
"Kau yakin tak mau menciumku?" tanya Kenzo dengan suara beratnya yang seksi.
"Kau menggodaku?" bisik Given dan memajukan wajahnya ke wajah Kenzo.
Kenzo tak menjawab dan hanya tersenyum tipis, khas senyumnya yang cool dan percayalah, bahwa senyuman itu selalu membuat Given tak bisa mengabaikannya.
Tak lama, Given pun memagut bibir Kenzo dengan begitu intens di suasana kamar yang kini temaram. Given cukup hati hati agar tak memegang lengan Kenzo yang terluka dan hanya memegang pakaiannya di bagian pinggang Kenzo.