
Given 45
"Given? Ada apa?" tanya Ryan ketika keluar bersama Richard dan Kenzo dari restoran itu setelah beberapa menit kemudian.
Given menoleh ke arah Ryan.
"Ban mobilku bocor," jawab Given yang tampak mengamati Ryan.
"Begini saja, aku akan mengantarmu pulang dan aku bisa menyuruh asistenku untuk mengambil mobilmu nanti," kata Ryan menawarkan bantuannya.
"Ya, itu saran yang bagus, Nak. Pulanglah bersama Ryan. Dia akan mengantarmu sampai ke rumahmu," jawab Richardd.
"Ya, aku akan mengantar sampai ke apartemenmu," kata Ryan tersenyum.
Sedangkan Kenzo hanya tampak mengamati ban mobil Given yang bocor itu.
"Aku akan mengantarmu lagi pula arah rumah kita sama," ucap Kenzo akhirnya.
Given melihat ke arah Kenzo dan Ryan merasa memiliki saingan yang cukup berat kali ini.
"Bukankah kau bilang akan pergi ke club, Ken?" tanya Richard.
"Club itu ada di dekat apartemen Given," jawab Kenzo yang tak bisa lagi dijadikan alasan untuk Ryan.
Ryan melihat ke arah Given seolah memohon agar ia saja yang mengantarkannya pulang.
"Aku akan pulang dengan Tuan Kenzo saja," jawab Given akhirnya.
Kenzo tampak tersenyum tipis dan kemudian berjalan menuju ke arah mobilnya.
"Permisi, Tuan Richard. Maaf, Ryan, rute jalan kami memang sama dan aku tak ingin merepotkanmu. Terima kasih," ucap Given dan berjalan mengikuti Kenzo di belakangnya.
Ryan menatap kecewa kepergian gadis pujaannya itu. Richard tampak menepuk pelan bahu sang putra.
"Sudahlah, ayo pulang. Daddy pulang dulu, bye. Berhati hati lah di jalan," ucap Richard.
"Ya, Dad," jawab Ryan sembari menahan kekesalannya karena kalah dari Kenzo.
*
*
Given masuk ke dalam mobil Kenzo dan tak bicara apa pun pada pria itu.
Given hanya memandang ke arah luar jendela mobil.
Given menoleh ke arah Kenzo.
"Ya, kau berpikir juga begitu, kan?" sahut Given.
"Hmm," jawab Kenzo.
"Dia datang dengan sedikit berkeringat dan tampak membersihkan tangannya sebelum menjabat tanganku. Tangannya pun sedikit kotor dan panas seperti baru saja mengerjakan sesuatu yang berat," kata Given.
"Dia tahu kau tinggal di apartemen di saat Tuan Richard hanya menyebutkan kata 'rumah' ketika mengatakan ingin mengantarmu pulang," ucap Kenzo.
"Hmm, dia menyelidikiku sebelumnya dan sepertinya sudah cukup lama," sahut Given.
"Dia bukan ancaman tapi jika kau membiarkannya itu akan menjadi sebuah obsesi yang menakutkan," kata Kenzo.
"Kau tahu? Aku paling tak suka dengan situasi seperti ini. Aku tak pernah ingin menyakiti perasaan seorang pria karena penolakanku. Wajah mereka benar benar menyedihkan dan terkadang aku merasa bersalah. Aku tak pernah berusaha merayu atau menggoda pria," ucap Given.
"Kau menggodaku tadi," sahut Kenzo.
"Ck, itu berbeda. Karena aku memang ingin mempermainkanmu. Kau tak pantas dikasihani," jawab Given.
Kenzo hanya tertawa kecil.
"Hei, kau tertawa? Jadi ini suatu hiburan bagimu?" tanya Given.
"Hmm, kau juga menganggapku seperti itu, kan? Jadi kita sama," sahut Kenzo seakan mengentengkan Given.
"Hentikan mobilnya," kata Given.
"Kau mau pulang sendiri?" tanya Kenzo.
"Minggirkan mobilnya sekarang juga," kata Given lagi.
"Oke, sesuai keinginanmu," sahut Kenzo dan pria itu meminggirkan mobilnya di pinggir jalan yang cukup sepi.
"Tak ada taksi di sini," ucap Kenzo.
"Aku tak mencari taksi," jawab Given dan tangannya melewati tubuh Kenzo untuk memundurkan dan menurunkan sandaran kursi Kenzo.
"What are you doing?" tanya Kenzo lirih.
Given naik ke atas pangkuan Kenzo dan menatap birunya.
"Bermain denganmu," sahut Given berbisik menggoda dan memaguut bibir pria hot itu.