
GIVEN 57
Kenzo menyusuri trotoar dengan berjalan kaki untuk mencari Given karena wanita itu tak akan pergi jauh dari apartemen.
Kenzo juga menyuruh beberapa anak buahnya untuk mencari Given. Lima belas menit berjalan, Kenzo masih tak menemukan Given.
Hingga akhirnya Kenzo melihat seorang wanita menyeberang jalan yang tak lain adalah Given.
Kenzo mengejar wanita itu lalu menyeberang jalan di saat traffic light sudah berwarna merah.
BRAK!!!
Alhasil Kenzo tertabrak cukup keras oleh sebuah mobil SUV dari samping kanannya.
Kenzo masih sempat mengumpat dan insiden itu membuat orang orang yang berada di sana melihat ke arah jalan raya termasuk Given.
Given yang mengenali sosok Kenzo langsung berlari menghampiri pria itu.
"KEN!!!" teriak Given panik.
Given berlari dan akhirnya berada di samping Kenzo.
"BISAKAH KALIAN MEMANGGIL AMBULANCE??" teriak Given pada orang orang yang mengerubungi insiden itu.
Lalu Given kembali fokus pada Kenzo yang sudah tak sadarkan diri.
"KEN!!" teriak Given panik dan bahu Ken tampak terlihat berdarah karena terkena benturan mobil yang cukup keras tadi serta terjatuh di atas aspal.
"KEN!!! BANGUNLAH!!! APA KAU BUTA SAMPAI TAK MELIHAT LAMPU MERAH??!" teriak Given frustasi dan tak bisa memegang Kenzo karena ia takut ada tulang yang patah dan akan berbahaya jika bergerak.
Tak lama kemudian beberapa anak buah Kenzo mendatangi kerumunan itu dan melihat keadaan Kenzo.
"Kami akan membawanya ke rumah sakit, Nona. Kami cukup berpengalaman dengan hal hal semacam ini," ucap salah satu anak buah Kenzo.
Given hanya bisa mengangguk dan 3 orang anak buah Kenzo mengangkat tubuh sang Bos ke dalam mobil.
Given berlari di belakangnya dan ikut masuk ke dalam mobil.
"Apakah menurut kalian tulangnya ada yang patah?" tanya Given dengan suara bergetar.
"Ya, tapi sepertinya tak terlalu parah," jawab pria yang sedang menyetir itu.
Lalu Given melihat ke arah Kenzo dan meneteskan air matanya. Kening Kenzo tampak tergores kaca dari mobil yang menabraknya tadi.
Given mengambil tisu di dekat kursi depan dan mengusapnya perlahan karena sepertinya luka itu tak terlalu dalam.
Semakin lama, Given menangis sesenggukan melihat darah di bahu Kenzo tak berhenti mengalir.
"BISAKAH KAU LEBIH CEPAT??!!" bentak Given sembari membuka jaketnya lalu membalut bahu Kenzo dengan jaket itu agar darahnya tertekan dan tak terlalu banyak keluar.
"Ya, Nona," sahut pria itu.
"Suaramu berisik sekali," lirih Kenzo yang tiba tiba bangun.
Bukannya berhenti menangis, suara tangisan Given justru semakin keras. Dia tak bisa memukul Kenzo dimana ia merasa sangat kesak pada pria itu karena membuat jantungnya hampir saja copot.
"Hei ... Berhentilah menangis. Aku akan semakin cidera jika mendengar suara berisikmu itu," ucap Kenzo.
"Apa kau bodoh hingga tak bisa membedakan warna lampu di traffic light tadi?" bentak Given kesal sembari masih menangis.
Kenzo mengusap air mata Given dengan tangan kirinya yang tak sakit.
"Ini luka kecil bagiku," kata Kenzo menenangkan Given.
"Darahmu tak berhenti sejak tadi, Ken," sahut Given dengan suara sesenggukan.
"Bukankah kau suka jika aku mati dan tak mengganggumu lagi?" kata Kenzo tersenyum tipis.
"Kau hanya boleh mati di tanganku, bukan karena mobil itu," sahut Given kesal.
"Kiss me, setidaknya aku menjadi tenang karena ciumanmu," kata Kenzo.
"Kau pikir ini adegan film romantis? Aku panik, Ken. Diamlah, oke?" sahut Given, tapi tak lama setelah itu, Given pun mengecup bibir Kenzo.