
Given berjalan menuju ruangan Kenzo di mana pria itu sudah menunggu dengan wajah tajamnya.
“Ada apa?” tanya Given.
“Lihatlah laporan itu! Kau melalukan beberap kesalahan karena terlalu terburu buru mengerjakannya. Atau kau sengaja melakukan kesalahan agar aku memecatmu? Termasuk kau sengaja terlambat setiap hari,” kata Kenzo.
Given melihat laporan itu dan melihat pekerjaan yang kemarin dikerjakannya.
“Aku menerima laporan sebelumnya dari dibisi pemasaran lalu aku hanya melanjutkannya saja,” jawab Given.
“Seharusnya kau tahu jika ada kesalahan dan kejanggalan. Bukankah kau sering mengerjakan laporan ini? Itu artinya kau tak
teliti,” sahut Kenzo.
“Baiklah, itu salahku. Aku akan memperbaikinya,” jawab Given mengalah dari pada urusannya tak semakin panjang.
“Dan jangan mengentengkan tanggung jawabku dalam pekerjaan ini,” kata Kenzo.
“Baik, Tuan,” sahut Given dengan menunduk hormat pada Kenzo.
“Apakah aku boleh pergi sekarang?” tanya Given dengan sopan meskipun ia sebenarnya malas melakukan hal itu.
“Hmm,” jawab Kenzo singkat.
“Thanks God,” gumam Given berbisik.
Kenzo hanya menatap kepergian Given tanpa mengatakan apa pun lagi karena ia ingin fokus bekerja hari ini sebelum mencari masalah dengan wanita cantik itu.
*
*
Kenzo keluar dari ruangannya ketika jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kenzo melewati ruangan Given dan melihat lampu yang masih menyala karena dinding ruangan itu terbuat dari kaca.
Lalu Kenzo mengetuk dinding kaca itu dan membuat Given melihat ke arahnya.
“Ayo pulang,” kata Kenzo.
Given masih tak bereaksi dan Kenzo kembali mengetuk dinding kaca itu lagi.
Given menopang dagunya dan hanya melihat ke arah Kenzo tanpa menjawab apa pun.
“Kau sedang frustasi karena pekerjaan?” tanya Kenzo dengan nada suaranya yang menyebalkan.
“Pergilah. Untuk apa kau mengajakku pulang? Bukankah kau yang membuatku frustasi?” tanya Given yang tampaknya tak mood meladeni Kenzo.
“Aku yang membuatmu frustasi? Bukannya Steven yang membuat mood mu berantakan hari ini? Aku tahu dia menemuimu tadi. Apakah dia ingin bercerai dan kembali padamu?” kata Kenzo yang membuat Given kesal dan beranjak berdiri.
PLAK!!
Given menampar keras pipi Kenzo.
“Jaga bicaramu. Urusan pribadiku bukan urusanmu!!” bentak Given.
“Ternyata tebakanku benar, ya kan? Itu sebabnya kau marah padaku dan melampiaskan kekesalanmu padaku,” kata Kenzo tersenyum miring.
Given melayangkan tangannya kembali untuk meninju wajah Kenzo tapi tangan itu ditangkap oleh Kenzo lalu ditarik hingga tubuh Given maju ke arahnya.
“Aku tak akan mau menerima pukulan darimu lagi,” kata Kenzo lirih tapi tegas dan tajam.
Mata mereka saling menatap dan terlihat aura pertarungan panas dalam tatapan mereka berdua.
Kenzo semakin berani memajukan tubuhnya hingga dadanya menempel pada Given.
Mata Kenzo seolah terkena sihir oleh mata atraktif milik Given hingga merasa seperti tenggelam di dalamnya.
Begitu juga dengan Given yang seakan terhanyut oleh tatapan tajam dari mata pria dingin itu.
Nafas mereka saling terasa di antara keduanya dan membuat Given menahan nafasnya.
“Kau pernah bericuman dengan pria itu?” tanya Kenzo berbisik.
“Itu bukan urusanmu,” sahut Given yang mulai goyah dengan tatapan tajam itu apalagi tubuh mereka berdiri sangat dekat hingga tak ada jarak lagi di antara mereka.
“I’m a good kisser. Kau ingin mencobanya? Setidaknya ini bisa sedikit melupakan rasa pada pria plin plan itu dan kini dia sedang mengintip kita di dekat dinding kaca itu,” bisik Kenzo dan dalam suasana remang remang itu, Given melihat Steven yang memandang ke arah mereka berdua.
“Kiss me,” bisik Given akhirnya.
Tak membuang kesempatan, Kenzo akhirnya memaguut bibir Given dengan disaksikan oleh Steven yang tadinya ingin menjemput Given karena ingin membicarakan sesuatu padanya lagi.