
Given 114
Given berjalan ke arah danau dan menaiki dermaganya yang indah.
Cukup lama ia berdiri di sana hingga akhirnya melihat seorang pria dari seberang danau yang melompat ke dalam danau.
Given melihat pria itu sedang berenang menuju tengah danau. Kaki Given seakan enggan beranjak dari sana karena masih ingin melihat pria itu berenang sampai sejauh dan selama apa.
Sepuluh menit berlalu dan pria itu masih berenang dan sepertinya akan menyeberangi danau sampai ke tempatnya berdiri.
Dari jarah 10 meter, mata pria itu tampak melihat tajam ke arah Given. Mungkin pria itu melihat mata Given yang cukup unik dan tak banyak orang memilikinya.
Lalu pria itu akhirnya menyentuh kayu dermaga di mana Given berdiri.
Given melihat pria yang menurutnya sangat tampan itu tapi tak ada senyum sama sekali di wajahnya.
"Hai, kau pemilik mansion di seberang danau itu?" tanya Given ramah.
Pria itu tak langsung menjawab dan masih melihat Given.
"Aku Given. Aku berlibur di mansion kakekku di sana," kata Given menunjuk ke arah mansion dengan tersenyum.
Pria itu masih tak menjawab dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan Given dengan berenang kembali ke arah tengah danau.
Given menatap heran ke arah pria yang sedang berenang itu.
"Itulah mengapa aku tak suka pria dingin. Mereka sangat menyebalkan," gumam Given dan berbalik pergi.
"Percuma tampan jika tak bisa tersenyum. Benar benar bukan tipeku," gerutu Given sambil berjalan menuju mansion.
Given tak pernah merasakan diabaikan oleh seorang pria karena biasanya mereka terpana ketika memandang wajah cantiknya dan mata uniknya.
Dan hari ini entah mengapa dia begite kesal karena sikap pria tadi yang terkesan mengabaikannya bahkan tak menganggapnya ada.
"Setidaknya dia membalas sapaanku, bukan? Ck, seharusnya aku tak perlu menyapanya. Uuuhhh ... mengapa aku sangat kesal sekali pada pria sombong itu?" gumam Given gemas yang kini masih menggerutu.
Setibanya di mansion, Given masuk ke dalam dan keluarganya berkumpul di ruang tengah mansion.
"Hanya melihat danau," jawab Given.
"Ayo kita makaaann!!" Ucap Lesca dengan semangat pada anggota keluarganya.
Thor yang sedang bersantai di sofa akhirnya beranjak berdiri dan menyusul sang istri ke ruang makan.
Thor mengecup bibir Lesca dan mereka duduk bersebelahan.
Given sangat mengidolakan kedua orang tuanya dan ia berharap mendapatkan suami seperti sang ayah yang sangat penyayang meskipun terkadang sering berlebihan, terutama pada anak perempuannya yaitu Mighty dan Given.
Given tak pernah melihat kedua orang tuanya bertengkar dan mereka selalu menunjukkan cinta yang mereka rasakan.
*
"Besok kita berenang di danau, Dad," kata Loki di sela sela makannya.
"Ya, baiklah. Apapun permintaan kalian karena daddy milik kalian di liburan kali ini," jawab Thor.
"Sayang, kau tak ingin ikut berenang juga besok?" tanya Lesca pada Mighty.
"Tidak, aku berenang di kolam saja, Mom. Pasti di danau airnya kotor dan aku sangat jijik dengan hal itu," sahut Mighty.
"Dasar manja," sahut Loki.
"Aku perempuan, Loki. Dan aku harus menjaga kulitku agar bisa selalu sehat seperti mommy dan Kak Given," jawab Mighty menjulurkan lidahnya pada Loki.
"Kapan kalian bisa akur?" tanya Given.
"Ketika kami tidur," sahut Mighty random.
Thor tertawa mendengar hal itu begitu juga dengan Given dan Lesca.
"Ayo kita makan dulu," kata Lesca.