Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Menyusun strategi


Matthew membawa masuk mobilnya ke dalam rumah megah yang dicat serba putih. Itu adalah rumah pribadinya dan rumah itu membelakangi laut yang membentang luas.


Rumah itu adalah rumah peninggalan kakek buyutnya dan sekarang, Matthew menjadikan rumah itu sebagai rumah pribadinya.


Walaupun dia jarang menempati rumah itu karena dia selalu bersama dengan keluarganya tapi rumah itu selalu terawat dengan baik karena beberapa pelayan dan penjaga selalu ada di sana untuk menjaga dan merawat rumahnya.


Mata Vivian membulat saat melihat rumah megah yang ada di depannya, itukan rumah Matthew Smith? Matanya tidak berkedip sama sekali sampai Matthew menghentikan mobilnya.


"Kita sudah sampai babe."


"Rumahmu?" tanya Vivian tidak percaya.


"Yes, kau suka bukan?"


"Ck dasar penipu! Aku masih ingat saat kau mengatakan depcolector akan menyita rumahmu dan aku kira itu sungguhan!"


Matthew terkekeh dan mengusap kepala Vivian, "Aku berkata demikian supaya kau mau menampungku!"


"Hng!" Vivian membuka pintu mobil sambil mendengus kesal dan setelah di luar sana, Vivian diam saja memandangi rumah Matthew.


Apakah dia harus tinggal di sana? Rasanya tidak enak hati. Mungkin setelah rumah dinasnya yang baru sudah ada dia harus pindah. Walaupun Matthew adalah pacarnya tapi dia tidak mau merepotkannya.


Matthew menghampiri Vivian setelah memberikan kunci mobilnya kepada anak buah yang menyambutnya. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Vivian tapi dia akan membuat Vivian nyaman tinggal di rumahnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?"


"Tidak ada!" jawab Vivian seraya memandanginya.


"Ayo masuk!" sambil mengandeng tangan Vivian, Matthew membawa Vivian masuk kedalam, sedangkan Vivian mengikutinya dalam diam.


Mereka berjalan menuju kesebuah kamar dan masuk ke dalam, Vivian masih diam saja dan melihat kamar itu dengan teliti.


"Apa aku akan menempati kamar ini?" tanya Vivian.


"Yes, kau dan aku akan tidur di sini!" jawab Matthew sambil tersenyum nakal.


"What? Aku tidak mau!" tolak Vivian.


"Kenapa? Kita sudah sering tidur bersama dan ini bukan untuk pertama kalinya?"


"Tapi aku?" Vivian menunduk dan tersipu malu.


"Kau tidak perlu khawatir babe, bukankah aku sudah pernah berjanji padamu? Aku tidak akan melakukan apapun tanpa seijinmu jadi kau tidak perlu takut, aku orang yang selalu menepati janji!"


"Baiklah, aku percaya padamu!" Vivian tersenyum dan dia percaya jika Matthew tidak akan melakukan hal itu tanpa seijin darinya.


Matthew mendekati Vivian dengan senyum di wajahnya, tentu dia akan menepati janjinya. Jangan sampai Vivian membencinya hanya karena dia tidak bisa menahan hawa nafsunya.


"Jadi? Bagaimana jika kita mandi berdua?" bisiknya menggoda.


"Ti...tidak mau!" tolak Vivian dengan wajah memerah.


"Ayolah, kau harus terbiasa!"


"Ck, dalam mimpimu!" Vivian mendorong tubuh Matthew dan melangkah pergi.


Sebaiknya dia mandi karena setelah ini dia mau menyusun strategi untuk melakukan pengergapan besok. Misi ini sudah dipercayakan kepadanya dan dia harus membuat misi ini berhasil agar atasannya tidak kecewa.


Setelah selesai mandi, Vivian duduk di atas ranjang dan denah lokasi yang dia fotocopy tadi dia letakkan di atas sebuah bantal.


Karena tanpa menyusun strategi terlebih dahulu dengan para rekannya jadi dia harus menguasai medan dengan benar dan dia akan membagi tugas kepada para rekannya yang bertugas bersama dengannya secara mendadak. Dia harap dengan begini misi mereka berhasil untuk mengagalkan transaksi gelap yang akan dilakukan besok.


Saat itu Matthew sedang mandi dan Vivian tampak serius memperhatikan tempat-tempat yang ada di lokasi. Vivian mulai memberi sebuah lingkaran di atas kertas menggunakan sebuah pena berwarna merah karena dia mulai menyusun strategi di kepalanya dan beberapa agen akan mengintai dari tempat yang telah dia beri tanda.


Tidak saja satu lingkaran, dia juga membuat beberapa lingkaran dan dia juga menulis inisial agen yang akan bertugas di tempat-tempat yang dia beri tanda.


Pada saat Vivian sedang serius, Matthew keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk melilit di pinggangnya.


"Apa yang sedang kau lakukan babe?"


"Menyusun strategi!" jawab Vivian tanpa melihatnya.


Matthew segera memakai bajunya karena dia ingin tahu misi apa yang didapat oleh Vivian. Setelah selesai Matthew menghampiri Vivian dan naik ke atas ranjang.


"Misi apa yang akan kau hadapi besok?" tanya Matthew seraya mendekati Vivian.


"Besok akan ada transaksi gelap yang akan dilakukan di tempat ini!" Vivian menunjuk denah lokasi yang ada di atas bantal.


"Coba aku lihat," Matthew melihat denah lokasi dan beberapa lingkaran merah yang dibuat oleh Vivian.


"Ada apa dengan lingkaran-lingkaran Ini?"


"Itu? Karena misi ini dilakukan dengan mendadak tanpa menyusun strategi dengan para rekanku terlebih dahulu jadi besok aku akan langsung memberi perintah kepada mereka untuk mengintai dari tempat yang sudah aku tandai."


"Jadi besok kau yang akan memimpin misi ini?"


"Ya, karena kami selalu gagal jadi aku terpaksa mengambil resiko ini. Aku curiga ada penghianat diorganisasi jadi aku tidak mau menyusun rencana dan aku akan mengajak mereka menyergap secara mendadak agar misi kami dan penyergapan yang akan kami lakukan tidak bocor!"


"Thanks," Vivian tersipu malu.


"Tapi babe, sebaiknya jangan mengintai di tempat ini!" Matthew menunjuk sebuah lingkaran merah yang dibuat oleh Vivian.


"Kenapa?"


"Tempat ini tidak strategis dan akan ketahuan dengan mudah. Sebaiknya di sini saja," Matthew menunjuk lokasi lainnya.


"Terima kasih atas masukkannya," Vivian mengambil kertas dari Matthew dan mengganti tempat pengintaian sesuai saran Matthew.


"Babe, kemarilah!" Matthew menepuk kedua pahanya.


Wajah Vivian memerah dan dengan perlahan, Vivian duduk di atas pangkuan Matthew dan dia tampak gelisah.


"Jam berapa kau akan menjalankan misimu?" tanya Matthew seraya mengusap pipi Vivian yang memerah.


"Jam satu pagi," jawab Vivian dengan jantung berdebar.


"Baiklah, aku akan membantumu secara diam-diam dan aku akan berada tidak jauh darimu. Adikku akan mengawasi dan aku akan mengatakan padamu jika ada gerak gerik yang mencurigakan. Misimu pasti akan berhasil kali ini."


"Thanks."


"Stts!" Matthew mengusap pipi Vivian dan menciumnya.


"Bagaimana jika kita?" bisik Matthew.


"Ja...jangan aku mau tidur," Vivian semakin gugup.


"Tenang saja, anggap ini terapi dan jika kau takut maka aku akan menghentikannya."


Vivian mengangguk, dia percaya Matthew tidak akan memaksanya melakukan hal yang selama ini sangat dia takuti.


Matthew kembali mengusap pipi Vivian dan mencium bibirnya dengen lembut. Ciuman ringan mereka menjadi panas dan liar saat Matthew memasukkan lidahnya ke dalam mulut Vivian.


Suara nafas dan decapan lidah mereka mulai terdengar, Matthew mengangkat tangannya untuk mengusap punggung Vivian sedangkan Vivian mulai tampak gelisah.


Matthew melepaskan bibir Vivian dan menyelusuri wajah Vivian menggunakan bibirnya.


"Fredd!" Vivian menahan tangan Matthew yang hendak masuk ke dalam bajunya.


"Stt, call my name babe!"


"Ja..jangan Matth!" Vivian masih menahan tangan Matthew sedangkan Matthew mencium lehernya.


"Rileks babe," bisik Matthew saat dia merasakan reaksi tubuh Vivian yang mulai ketakutan.


Vivian mengangguk dan berusaha bertahan, sedangkan Matthew kembali mencium leher Vivian dan tangannya sudah merayap turun untuk meremas kedua bokong Vivian yang padat berisi.


Erangan mulai terdengar dari bibir Vivian karena Matthew terus meremas kedua bokongnya. Karena merasa Vivian mulai menikmatinya, Matthew mencium bibir Vivian kembali sedangkan tangannya sudah merayap naik ke atas.


Pelan tapi pasti, tangan Matthew sudah masuk ke dalam baju Vivian dan mengusap punggunggnya. Vivian berusaha menahannya dan rasanya darah mulai berdesir diotaknya.


Pada saat Matthew menggerakkan tangannya dan menyentuh dada Vivian yang masih di tutupi bra, mata Vivian membulat dah wajahnya langsung pucat.


"Jangan!" Vivian mendorong tubuh Matthew dan tampak ketakutan.


"Ja...jangan, aku takut!" pinta Vivian dengan wajah pucat.


Matthew memeluk Vivian dan mengusap punggungnya, sepertinya dia sudah sedikit kelewatan.


"Sory babe, aku terlalu berlebihan," ucapnya seraya mencium pipi Vivian.


"Ma...maaf. Mau kah kau bersabar untuk hal ini? Kau boleh memberiku terapi setiap hari tapi aku tidak bisa menghilangkan traumaku begitu cepat."


"Bodoh! Tentu saja aku akan bersabar tapi pada saatnya nanti, kau tidak boleh mengelak!"


"Maaf jika aku?"


"Stts! Aku tidak menyalahkanmu. Sudah malam sebaiknya kita tidur!" ucap Matthew sambil mencium pipi Vivian.


"Terima kasih," Vivian memeluk Matthew dengan erat.


"Baiklah, ayo tidur!" ajak Matthew.


Vivian mengangguk dan turun dari atas pangkuan Matthew, mereka merebahkan diri bersama-sama dan Matthew memeluk Vivian dengan erat juga mencium dahinya.


"Good night babe."


"Good night Matth," Vivian memeluk Matthew dan tersenyum.


Dia sangat bahagia dicintai oleh Matthew yang mau menerima kekurangan yang ada pada dirinya dan mau mengerti dengan keadaannya.


Matthew mengusap rambut Vivian dan berharap Vivian bisa cepat menerima sentuhannya jika tidak, jangan sampai dia membuat pabrik sabun super licin yang akan menemaninya di kamar mandi.


#Ayo pada ngarep apa 😂 nanti ya pas moment romantis uhuk ehemnya 🙈#