Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Dia akan menemuimu hari ini


Jeger Maxton berdiri di depan jendela dan memandangi hujan yang mengguyur dengan deras di luar sana.


Dia diam saja sambil berpikir, apakah Angel mau memberikan rambutnya untuk tes DNA? Pasti gadis itu tidak akan mau tapi dia percaya Matthew Smith pasti bisa mendapatkan rambut gadis itu untuknya.


Jager menghela nafas dan matanya masih memandangi hujan yang tak kunjung berhenti bahkan turun semakin deras.


Dia harap Matthew secepatnya memberikan rambut Vivian karena dia sudah tidak sabar mengetahui kebenarannya. Mungkin hari ini dia harus pergi mencari Matthew Smith lagi dan menanyakan apa Vivian setuju memberikan rambutnya atau tidak.


Pada saat itu, Damian menghampiri ayahnya dengan sebuah mantel di tangannya. Hawa begitu dingin dan dia tidak mau ayahnya sakit.


"Pergilah beristirahat dad," ucap Damian seraya memakaikan mantel di bahu ayahnya.


"Aku tidak apa-apa Damian," jawab ayahnya.


"Tapi berdiri terlalu lama tidak baik untuk daddy."


"Baiklah." Jager segera berjalan pergi dan duduk di sofa sedangkan Damian mengikutinya.


"Bagaimana Damian, apa kau betah tinggal di sini?" tanya Jager seraya mengambil segelas teh hangat yang sudah disiapkan oleh pelayan pribadinya.


"Tentu saja dad, di manapun daddy berada maka di sana juga aku berada dan aku berjanji akan menjaga daddy dengan baik."


"Baiklah, aku senang mendengarnya. Setelah semua ini selesai maka aku akan melantikmu untuk menggantikan posisiku."


"Daddy tidak perlu menghawatirkan hal ini, kita fokus dengan masalah sekarang dan soal pelantikan bisa dilakukan kapan saja. Aku ingin daddy bahagia dan aku harap, Angel benar-benar putri daddy dan aku juga harap dia tidak keberatan untuk tes DNA."


"Aku takut dia menolak Damian," ucap Jager dengan wajah sendu.


"Daddy tidak perlu khawatir, jika dia menolak maka aku akan membujuknya."


"Oh ya?" tanya Jager seraya menyeruput teh hangatnya.


"Tentu, aku akan melakukan apapun untuk daddy. Seperti yang telah daddy lakukan untukku maka aku juga akan melakukan apapun untuk daddy," jawab Damian tanpa ragu.


"Sayuri pasti bangga denganmu Damian."


"Ya dan aku bangga punya daddy sepertimu walaupun kita tidak memiliki hubungan darah tapi kau begitu menyayangiku dan mommy juga bangga punya sahabat sepertimu. Arigatou otosan."


Jager tersenyum, tindakannya mengadopsi Damian benar-benar tidak salah dan dia benar-benar tidak menyesal.


"Jika hujan sudah berhenti aku ingin pergi menemui Matthew Smith," ucap Jager.


"Daddy ingin menemuinya lagi?"


"Ya, aku ingin tahu Angel mau memberikan rambutnya atau tidak untuk tes DNA."


"Kenapa Daddy tidak menghubunginya saja?"


"Tidak, aku ingin bicara langsung."


"Baiklah, aku akan menemani daddy," ucap Damian.


"kau tidak pergi ke perusahaan?"


"Tidak, aku ingin menemani daddy. Lagi pula di perusahaan banyak orang, hanya ditinggal sebentar tidak masalah bukan?" ucap Damian.


Dia tahu ayahnya sudah tidak sabar untuk mengetahui kebenarannya dan sebenarnya dia juga sudah tidak sabar. Dia sungguh ingin ayahnya bahagia dan dia harap jika Angel memang putri ayahnya, gadis itu mau memaafkan ayahnya dan mau menerimanya.


Dia aka membantu memberi penjelasan kepada Vivian nanti jika Vivian tidak mempercayai apa yang diucapkan oleh ayahnya. Memang terasa berat tapi semua itu bukan kesalahan ayahnya.


Waktu terus berjalan dan dengan perlahan hujan mulai berhenti, Jager segera pergi menemui Matthew dan tentunya Damian menemani ayahnya.


Seperti biasa, Matthew ada di kantor dan sedang membahas pekerjaan dengan adiknya. Ketika mereka sedang membicarakan sesuatu, James mengetuk pintu dan memberi laporan.


"Master, Jager Maxton ingin bertemu denganmu."


"Bawa dia kemari," perintah Matthew dan James segera keluar untuk menjalankan perintah.


"Sepertinya dia sudah tidak sabar kak," ucap Michael.


"Tentu saja Mich, dia pasti sudah sangat ingin tau Vivi putrinya atau bukan."


"Ya, walaupun sulit tapi dia bisa menerimanya dan dia bilang ingin mencari tahu kebenarannya."


"Wow, kakak ipar hebat. Aku jadi ingin menggodanya," ucap Michael sambil terkekeh.


"Jangan coba-coba! Sebaiknya segera cari pacar, jangan kencan dengan komputer terus!" ucap Matthew seraya mengacak rambut adiknya.


"Kak, kau menyebalkan!" gerutu Michael seraya merapikan rambutnya.


Matthew kembali ke mejanya sambil terkekeh, dia jadi ingin tahu, gadis seperti apa yang akan jadi pasangan adiknya? Walaupun mereka kembar tapi selera mereka mengenai wanita sangat berbeda.


Pada saat itu, James kembali bersama dengan Jager Maxton dan Damian. Matthew segera bangkit berdiri dan menyambut mereka begitu juga dengan Michael.


Matthew segera mempersilahkan Jager dan Damian untuk duduk dan meminta James untuk menyiapkan minuman.


"Ada apa tuan Max?" tanya Matthew setelah mereka duduk bersama.


"Tuan Smith, aku ingin tahu, bagaimana?"


"Tenang saja tuan Max," Matthew menyela ucapan Jager Maxton.


"Jadi dia mau memberikan rambutnya untuk tes DNA?"Jager tampak senang.


"Tidak," jawab Matthew dan Jager langsung terlihat lesu.


"Aku tahu dia pasti tidak akan mau dan aku rasa dia akan membenciku dan tidak akan mau bertemu denganku lagi," ucap Jager sambil menunduk dan dia sangat sedih ditolak oleh Vivian.


"Dad, jangan putus asa. Masih banyak cara dan aku akan membujuknya," Damian mencoba menenangkan ayahnya.


"Dia pasti tidak bisa menerima hal ini dengan mudah Damian apalagi dia punya orang tua. Dia pasti mengira ini hanya lelucon."


"Ya, saat aku mengatakan hal ini dia sangat marah," ucap Matthew.


"Apa dia menangis?" tanya Jager dengan cepat.


"Tentu tuan Max, hal ini tidak bisa dia terima dengan mudah."


"Sepertinya aku terlalu terburu-buru dan sekarang aku sudah membuatnya sedih. Maaf merepotkanmu tuan Smith, aku harap dia tidak membencimu,'' ucap Jager dengan tidak enak hati.


Matthew tersenyum, walaupun Vivian sempat marah tapi Vivian bisa diajak bicara bahkan dia sudah mengambil keputusan sendiri.


"Tidak perlu khawatir tuan Max," ucap Matthew seraya mengambil ponselnya karena dia ingin menghubungi Vivian.


Tidak butuh lama, sudah terdengar suara Vivian dan sebuah senyuman menghiasi wajah Matthew.


"Ada apa Matth?" tanya Vivian.


"Tidak apa-apa babe, aku hanya ingin tahu, apa kau jadi mendatangi Maxton hari ini?"


Saat mendengarnya, air muka Jager langsung tampak berubah dan dia saling pandang dengan Damian.


"Tentu saja tapi jika hujan reda, jika tidak mungkin besok aku baru pergi ke sana," jawab Vivian karena di tempatnya masih hujan.


"Baiklah, kabari aku jika kau jadi pergi," ucap Matthew dan dia menyudahi pembicaraannya dengan Vivian.


"Tuan Smith, apa maksudnya?" tanya Jager dengan tidak sabar.


"Seperti yang kau dengar tuan Max, walaupun dia terpukul tapi dia akan menemuimu hari ini untuk mencari kebenarannya dan dia bilang akan pergi menemuimu jika hujan sudah reda."


"Apakah benar?" Jager bangkit berdiri dan tampak bahagia.


"Ya, setelah pulang bekerja dia akan pergi ke rumahmu tuan Max."


"Oh Tuhan, aku sudah tidak sabar," ucap Jager Maxton.


"Terima kasih tuan Smith, maaf aku menggangumu. Ayo pulang Damian, aku sudah tidak sabar menunggunya," ucap Jager lagi dan dia benar-benar bahagia karena Vivian tidak membencinya dan masih mau menemuinya.


Sebelum pergi Damian membungkuk kepada Matthew dan setelah itu dia dan ayahnya berpamitan. Jager sangat berharap hujan segera reda agar Vivian jadi datang ke rumahnya dan apapun yang ingin dia tahu, akan dia katakan semuanya.